Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 43 : Malu untuk mengingat.


__ADS_3

Di Antara Kita•


...🍒🍒🍒...


Mentari pagi menyinari bumi dengan segala keindahan yang ada. Ziell mengerjapkan kedua matanya lalu terbangun dari tidurnya.


''Hooaaam.'' Ziell menguap melihat kanan kiri, mencari sosok yang membuat ia pipis semalam. ''Jam berapa ini?'' Ziell melihat ke arah dinding dan ternyata masih pagi.


Ia pun turun dari peraduan, menuju kamar mandi dan mencuci muka ... selesai mencuci muka, Ziell langsung melangkah keluar kamar dan mencium aroma masakan yang lezat dari arah dapur.


Di lihatnya sosok pria tampan sedang berkutat dengan wajan dan spatula yang tengah membuat nasi goreng. Ziell sedikit terpaku karna Sultan tidak mengenakan baju atasan dan hanya mengenakan celana panjang saja.


Terlihat seksi dengan pundak yang lebar dan kekar, entah mengapa ... Ziell langsung menelan ludahnya dengan kasar karna tergiur melihat pemandangan indah di depannya.


Otot itu ...


Urat urat itu ...


Jari jemari Sultan yang aarrgghh ... Ziell menggelengkan kepalanya, ''Ziell ... sejak kapan otak mu mesum?'' tanya Ziell pada dirinya sendiri, lalu menggelengkan terus kepalanya agar tersadar.


''Kak.'' panggil Ziell, membuat Sultan menoleh dan tersenyum.


''Kau sudah bangun?'' tanya Sultan, sambil menaruh nasi Goreng di atas piring yang sudah dia sediakan.


Ziell mengangguk lalu duduk di kursi, memandang Sultan dengan hati yang sedikit malu malu kucing karna ingat kejadian pipis semalam.


''Kamu tidak akan kenyang hanya memandangiku saja.''


''Eh, he he he ...'' Ziell menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menyuapkan nasi goreng panas kedalam mulutnya. ''Awwss hah hah, nanassss ...''


Sultan langsung mengambil air minum. ''Kamu kenapa ceroboh sekali.''


Ziell meneguk air yang di berikan Sultan dengan cepat.


''Aku lapar Kak.'' elaknya.


Sultan mengambil piring milik Ziell, lalu mengambil satu sendok nasi dan meniupnya dengan perlahan. ''Buka mulut mu.''


Ziell membuka mulutnya sambil memandang Sultan dengan dalam, kenapa ia sangat di spesial'kan jika bersamanya ... jika saja pria di depannya ini menyatakan cinta, pasti Ziell dengan senang hati menerima cinta yang tulus yang ia miliki.


Ziell teringat dengan ucapan Nia waktu itu, jika besar kemungkinan jika Sultan menyukainya ... oleh sebab itu, pria di depan nya memberikan perhatian yang khusus terhadap nya.


Cup.


Sultan secara tiba-tiba mengecup bibir Ziell, yang mana sang empu membelalakan kedua matanya. ''Kak!''


''Jika aku melihat kamu melamun lagi, aku hukum dengan hukuman persis seperti semalam ... apa kau mau?'' Sultan mengedipkan salah satu matanya dengan genit.


"Tidak!" Ziell dengan refleks menjawab, namun kepalanya malah mengangguk. ''Eehh, maksud aku jangan Kak, aku malu karna pipis semalam ... awas yaaa jangan bilang bilang.'' Ziell menatap tajam Sultan.


Sultan ingin sekali tertawa gemas, namun ia tahan. ''Baik, aku tidak akan bilang-bilang! Tapi ... harus ada bayaran nya.'' ucap Sultan tengah memperdaya si lugu.

__ADS_1


''Bayaran?''


''Yaaa ...''


''Emang Kakak minta bayaran apa?'' tanya Ziell sambil mengunyah makanan yang masih di suapi oleh Sultan.


Sultan tersenyum. "Bereskan apartement ini sampai bersih, cuci baju, cuci piring sampai mengkilap.'' Kata Sultan memberikan piring yang sudah tidak ada isinya pada Ziell, lalu pergi ke lantai atas untuk membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Ziell melihat piring yang ada di tanganya, ia terkejut karna menghabiskan nasi sampai satu piring porsi tukang bangunan. ''Ya ampun, saking enaknya nasi goreng sampai habis. Eh, apa saking enak nya karna di suapi?''


Ziell benar-benar melupakan rasa sakit hatinya saat bersama Sultan, ia pun bergegas melakukan apa yang di suruh oleh sang Pemilik Apartement dengan senang hati.


Satu bulan lebih berjauhan dengan kedua Orangtua nya, membuat Ziell mandiri dan bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri dan Ziell pun sangat menikmati itu semua.






Di sisi lain di restoran. Guntur tengah menunggu Ziell datang, namun sudah jam segini Ziell belum kunjung juga datang. ''Apa hari ini dia nggak kerja yaa?''


''Lu, di sini Tur?'' tanya Dave baru datang.


''Gue nunggu Ziell, kenapa dia belum dateng yaa.'' Guntur lecingak celinguk melihat pintu masuk.


''Lah, ini 'kan hari libur dia kerja. Mana mungkin dia dateng, Nyet.''


''Lu, nggak nanya.'' jawab Dave dengan wajah watado (wajah tanpa dosa)


''Astagfirullah hal'Azim Dave ...'' Teriak Guntur prustasi, dengan tangan di udara ingin mencekik sahabatnya ini.


''Tumben Lu istigfar? tobat Lu.''


''Berisik Lu.''


''Ribet amat hidup Lu! tinggal nyamperin aja ke Kos-kosan nya.''


''Oh iya iyaa ... kok gue baru inget.'' Guntur bergegas pergi dari restoran menuju kos-kosan Ziell. Sedangkan Dave menggidikan bahunya lalu pergi ke ruangan nya.


Dave menghubungi Nia untuk bersiap-siap karna dia akan menjemputnya ketika waktu makan siang, Dave harus pergi ke rumah kedua Orangtua nya karna sang Ibu meminta Nia dan Dave makan siang bersama dengan keluarganya.




Tidak butuh waktu lama ... mobil Guntur sudah sampai di depan gerbang kos-kosan Ziell, ia turun dari mobil dan masuk kedalam menghampiri gadis yang dia kenal sebagai teman Ziell.


''Hai kamu, tunggu.''

__ADS_1


Seorang gadis berhenti melangkah, lalu menoleh. ''Kau memanggilku?''


''Kamu sahabat Ziell 'kan?'' tanya Guntur memastikan.


''Iya, kamu Evan?''


Guntur mengangguk. ''Apa Ziell ada di dalam?''


''Ziell dari semalam belum pulang, katanya nginep di rumah temen nya.''


Guntur mendessah kecewa.


''Kalau kamu mau nunggu, tunggu aja di situ ...'' Tunjuk Nia ke arah pos tunggu, ''Paling Ziell bentar lagi pulang.'' Jawab Nia pergi tanpa menoleh lagi.


''Judes sekali dia.'' Gumam Guntur melihat kepergian Nia. ''Pasti nggak ada yang mau sama dia, karna judes.'' Mode julid Guntur keluar.



Kembali ke apartement•


"Na na na ana." Ziell bernyanyi sambil mengelap rak buku di ruang kerja, tanpa menghiraukan Sultan yang benar-benar tengah di uji kesabaran nya kali ini.


Bagaimana tidak! ia harus menyaksikan Ziell yang tengah berjinjit membersihkan debu, yang mana paha putih mulus nya tereksplor begitu sempurna ... Sultan baru saja mandi harus merasa gerah kembali bahkan paru parunya sangat tercekik kekurangan oksigen.


''Ya Allah aku pasrahkan diriku saat ini, kepada penguasa langit dam bumi, kalau aku akan silap kali ini." Jerit Sultan dalam hati dan langsung berdiri, meninggalkan Ziell di ruang kerjanya lalu duduk di sofa.


Namun baru saja duduk, ia mendengar getaran ponsel lalu Sultan mencarinya. Sultan melihat ponsel Ziell dan tertera nama Evan di layar ponsel.


''Ziell .... telpon mu berbunyi.'' Teriak Sultan.


''Siapa ...'' Ziell menghampiri.


''Evan.''


''Aku nggak mau jawab, matiin aja Kak. Sini ponselku.'' Ziell meminta ponselnya, namun Sultan tidak memberikannya dan langsung menjawab.


[Hallo]


Tak ada jawab dari ujung telpon sana.


Ziell mencoba merebut ponselnya tanpa suara, namun Sultan malah sengaja menjauhkan ponsel itu hingga Ziell tak sengaja jatuh di atas tubuh Sultan yang tengah duduk di sofa.


''Ahkk.''


Sultan memeluk erat pinggang Ziell, hingga keduanya saling pandang menghiraukan suara yang keluar dari ponsel.


''Kau harus aku beri hukuman karna terus menggoda ku.'' Bisik Sultan langsung membungkam bibir Ziell dengan rakus.


Sedangkan di tempat lain, Guntur uring-uringan karna suara pria yang menjawab telpon darinya. ''Sialan!'' teriak Guntur, merasa tak karuan.


__ADS_1


...🍒🍒🍒...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2