
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Sepulang Guntur dari luar rumah, Guntur langsung mandi dan membersihkan tubuhnya dari keringat karna dia ingin bertemu dengan Papah Agam dan membicarakan masalah Ziell.
Setelah selesai, Guntur langsung menemui Papah Agam yang tengah memeriksa berkas-berkas penting dari kantor. Hingga fokus Papah Agam buyar saat Guntur yang mengetuk pintu, lalu Papah Agam mempersilahkan ia masuk.
''Pah, apa kau sedang sibuk? ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Guntur melangkah ke hadapan Papah Agam.
"Mau bicara apa, Van."
"Masalah Ziell.'' Ucap Guntur, membuat Papah Agam langsung menoleh.
''Ada apa dengan Ziell?'' tanya Papah Agam dengan serius, jika menyangkut putri kesayangan nya.
Guntur memperlihatkan ponselnya, dimana ada poto Ziell dan seorang pria bergandengan tangan dengan mesra. "Ini Pah, teman Evan ada yang mengenali Ziell sedang berjalan-jalan dengan seorang pria."
Papah Agam mengambil ponsel Guntur dan memandangnya dengan tajam. seakan memastikan jika yang berada di dalam ponsel tersebut adalah putrinya.
Guntur menyunggingkan bibirnya, lalu menghasut Papah Agam dan menakuti Papah Agam bahwa pria yang ada di poto itu pasti sudah memanfaatkan kepolosan Ziell.
Bahkan Guntur mengait ngaitkan jika pria ini yang sudah mempengaruhi Ziell untuk memberontak dan melawannya, "Evan berpikir mungkin saja Ziell menjadi pembangkang gara-gara pria ini yang sudah menghasut Ziell untuk memberontak."
Papah Agam yang mendengar perkataan Guntur, sangat tersulut emosi dan menggeram marah tak tertahankan. Ia pun menyuruh anak buahnya untuk menjemput paksa Ziell dan membawanya pulang.
Namun Guntur benar-benar memiliki sejuta rencana, yang mana dia mengusulkan untuk Papah Agam ikut menjemput Ziell, agar bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang anaknya lakukan.
Papah Agam menurut dan membawa kedua pengawal untuk pergi ke kota Jakarta menjemput putrinya, sedangkan Guntur menggantikan Papah Agam untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.
Guntur cukup senang dan bahagia, karna Papah Agam benar-benar mendengarkan usulan dirinya. Ia pun dengan senang hati duduk di kursi dan menggantikan Papah Agam.
''Ziell adalah milikku, siapapun tidak boleh memilikinya." Gumam Guntur dalam hati, menyunggingkan sudut bibirnya melihat kepergian Papah Agam yang akan menjemput paksa Ziell.
Entah mempunyai sifat dari mana, hingga Guntur memiliki kelakuan yang kurang elok untuk di pandang. Padahal di lihat dari silsilah kedua orang tua bahkan Kakek dan neneknya saja mempunyai hati yang lembut dan baik hati.
Tapi ... dari sinilah seharusnya kita berkaca diri, bahwa jika pun kita memiliki sejuta kebaikan dalam kehidupan. Belum tentu keturunan kita akan memiliki sifat yang sama seperti kita.
__ADS_1
Mungkin lingkungan dan pergaulan 'lah yang paling berpengaruh terhadap seseorang, terlebih Guntur di lahirkan sudah memiliki segalanya hingga dia memiliki sifat yang menyenangkan.
β’
β’
β’
β’
β’
β’
Sedangkan Ziell, ia tengah berada di dalam mobil menuju tempat di mana Sultan mengajak dirinya untuk berlibur.
''Kakak mau bawa aku pergi ke mana?" Tanya Ziell saat mereka masuk ke jalan tol.
Sultan tersenyum membelai pipi Ziell dengan lembut, namun netra matanya fokus melihat kedepan. "Kita akan jalan-jalan ke tempat yang lumayan nyaman untuk mengobrol." Jawab Sultan yang sudah mempersiapkan sesuatu untuk Ziell.
"Aaahh." Ziell mengangguk.
Sultan membawa Ziell ke Taman Bunga Nusantara yang terletak dekat Gunung Gede Pangrango dan Kebun Teh Bogor dengan jarak tempuh sekitar 2,5 - 3 jam perjalanan dari Jakarta, tepatnya berada di antara dua desa yaitu, Kawungluwuk, Sukaresmi, Cianjur dengan Sukawangi, Sukamakmur, Jonggol.
Tidak perlu jauh jauh membawa Ziell pergi ke luar negri, karna di dalam negri pun masih banyak pemandangan yang indah jika kita bisa mensyukuri itu semua.
Sultan menuntun Ziell turun dari mobil menuju ke dalam, bahkan Sultan sudah memboking taman hiburan ini hanya untuk mereka berdua saja.
"Kak, jangan menakutiku." Ziell seperti takut di kerjai oleh Sultan.
"Tidak, percayalah."
Ziell mengangguk lalu menggenggam tangan Sultan, karna takut jika dirinya tersandung. Begitu pun dengan Sultan yang perlahan membuka kain penutup mata Ziell, dan membisikan jika dia boleh membuka matanya sekarang.
Netra matanya Ziell perlahan terbuka, dan melihat hamparan bunga yang begitu indah dengan berbagai bentuk dan warna yang begitu menakjubkan.
Ziell menoleh ke arah Sultan lalu memeluknya, "Makasih yaa, Kak ... Kamu memang yang terbaik."
__ADS_1
"Sama sama, sayang." Ucap Sultan dalam hati, ingin sekali ia mengutarakan kata itu ... tapi belum saatnya.
Ziell berlari dengan antusiasi, melihat kesana kemari dengan bahagia tanpa beban apapun di hati. Sultan pun menyusul dan menjaga Ziell dari belakang, memperhatikan wanita yang dia sayang tengah berbahagia.
Sultan cukup senang jika wanita yang dia sayangi bahagia, maka dirinya pun ikut bahagia. Melihat wanita yang dia cinta tertawa lepas, membuat hatinya nyaman dan damai.
Sultan duduk di alas karpet yang sudah dia sediakan, memetik bunga dan merangkainya menjadi mahkota sambil memperhatikan Ziell yang masih berlari kesana kemari.
''Ziell, kemarilah."
Ziell menoleh dan menghampiri Sultan lalu duduk di sebelah nya. ''Ada apa, Kak."
Sultan menaruh Mahkota bunga itu di atas kepala Ziell, lalu mengelus pipinya dengan lembut. Menatap mata teduh dan unik milik Ziell yang selalu membuat dirinya nyaman dan ingin melindungi.
"Kamu semakin cantik." Puji Sultan yang membuat Ziell meleleh bak lilin yang terbakar api cinta.
"Makasih, Kak." Ziell tertunduk malu namun kedua tangan nya menggenggam jari jemari Sultan, lalu mendongkakan wajahnya nya untuk menatap Sultan.
"Tidak di sangka, Kakak sudah banyak membuat aku bahagia dan selalu ada untukku. Terima kasih banyak Kak, terima kasih sudah hadir di hidupku dan menemani ku ... aku benar-benar beruntung di pertemukan dengan Kakak."
Sultan tersenyum mendengar ucapan Ziell. "Jika kamu bahagia, aku pun ikut bahagia." Jawab Sultan tersenyum hangat, "Ziell ... mari kita menikah."
Deg ... Deg ... Deg ...
Ziell terpaku mendengar perkataan Sultan yang mendadak melamarnya, membuat ia terdiam dan menatap ke arah manik mata Sultan. "A-apa?" Ziell tergagap.
"Apa kau bersedia menikah denganku, Ziell?"
''Hah, Kakak jangan bercanda iiihh nggak lucu." Ziell mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Jujur saja jika saat ini dia sedang gugup dan malu untuk menjawab.
''Apa aku terlihat sedang bercanda? Jujur jika sekarang bukan waktunya aku bercanda, Ziell. Aku serius mengajak mu menikah.''
Ziell begitu senang dan terharu, lalu mengangguk dengan antusis. "Aku mau Kak. Aku mauuuu ..." Teriak Ziell berhambur memeluk Sultan.
Ziell akan belajar mencintai Sultan dengan setulus hatinya.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...