Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 70 : mencairkan suasana.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


πŸ’πŸ’πŸ’


Hal yang indah hanya sederhana, bersama dengan orang yang kita cintai saja sudah cukup membuat hati bahagia ... termasuk dengan hati Ziell yang saat ini tengah merasakan kebahagiaan yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.


Ziell dan Sultan tengah berjalan santai di area belakang taman Mansion Adiwangsa, menghirup angin malam yang sunyi di temani bulan yang bersinar menerangi gelapnya malam.


Sultan menggenggam tangan Ziell, sedangkan kepala Ziell menyender di bahu Sultan dengan wajah berseri.


Ziell begitu senang karna mereka tidak perlu melaksanakan pertunangan, karna kedua keluarga sudah sepakat jika mereka akan menikah tanpa adanya acara tunangan terlebih dahulu.


Dua minggu di hitung dari hari ini, Ziell dan Sultan akan mempersiapkan segalanya begitu pun dengan dua belah pihak keluarga.


"Pakai ini sayang." Sultan memakaikan jas pada tubuh Ziell agar tidak kedinginan.


''Terima kasih Kak.''


''Ayo kita duduk di situ.'' Sultan membawa Ziell duduk di kursi yang tidak jauh dari arah kolam renang.


Keduanya duduk berdampingan, menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang. Sultan menoleh pada Ziell dan membenarkan anak rambutnya yang berantakan.


''Kau sangat cantik.''


Ziell menoleh dan tersenyum malu-malu. ''Kak, jangan buat aku salah tingkah dengan rayuan mu.''


Sultan menyunggingkan bibirnya, lalu tangannya terlentur masuk kedalam saku celananya dan mengambil sesuatu untuk di berikan pada Ziell.


''Rapunzell ... menualah bersamaku,'' Ucap Sultan sambil menyodorkan kotak cincin kehadapan Ziell.


''Kak ...'' Ziell tidak bisa berkata-kata lagi, matanya berkaca-kaca seakan Ziell berpikir jika dia adalah wanita beruntung yang di cintai oleh pria sebaik Sultan.

__ADS_1


Ziell hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, namun Sultan tidak puas dan berdecak.


''Ck, Jadi kamu tidak mau menua bersamaku?''


''Aku mau Kak.''


''Hah?''


''Aku mau?''


''Apa? Nggak kedengeran.''


''Aku mau ... aku mau ... aku mau ... Kak.'' Teriak Ziell dengan terkekeh, begitu pun Sultan ikut terkekeh lalu memasangkan cincin di jari manis Ziell.


Cup.


Sultan mengecup punggung tangan Ziell dengan lembut, lalu mereka berpelukan dengan erat.


''Dasar soang maj'nun! Berani-beraninya main peluk yang bukan mahrom!'' Bentak Papah Agam, yang marah kerna anaknya di peluk oleh Sultan.


''Maaf, Pah ... maaf.''


Papah Agam melepaskan tanganya yang sedang menjewer Sultan, namun matanya masih melotot seakan ingin mengajak Sultan berduel.


''Pah ...'' Ziell memeluk sang Papah, agar meredakan kemarahan sang Papah.


''Hummpt! Baiklah, baiklah ... kali ini Papah ampuni bocah tengik ini.'' Tunjuk Papah Agam pada Sultan.


Sultan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu netra matanya melihat tangan Papah Agam.


Ting!

__ADS_1


Sebuah ide muncul di benak Sultan, bagaimana pun dia harus mengambil hati calon mertuanya ini.


''Pah."


''Apa!''


''Batu akik mu bagus juga Pah.'' Sultan mencoba untuk mencairkan suasana.


Papah Agam yang kesal langsung tersenyum dan melihat jari jemarinya. ''Tentu saja, ini batu akik langka yang hanya beberapa colega dan aku saja yang punya.''


''Bisa keluar jin nggak Pah, kalau di gosok?'' Sultan dengan bodoh menggosok batu akik di tangan Papah Agam.


Plak!


''Aww..'' Sultan terkejut saat tanganya di geplak.


''Ente kadang kadang Ente!'' Papah Agam melotot, lalu membuang nafas secara kasar. ''Ini batu akik bukan sembarang batu akik, bukan hanya keluar Jin jika di gosok! Tapi bisa baca pikiran Lu. ''Kesal Papah Agam.


''Ah, masa sih Pah?''


''Tentu saja! Apa lagi saya tau yang ada di pikiran kamu saat berdekatan dengan putriku.''


Sultan menyunggingkan bibirnya, mungkin sesama pria tau apa yang ada di pikiran spesies seperti mereka yang tidak jauh dari kata perpepewan.


''Sudah ayo pergi, ngapain jadi bahas batu akik!'' Papah Agam menyeret Ziell untuk masuk kedalam rumah, namun baru saja tiga langkah ... Papah Agam menoleh kebelakang melihat Sulta. ''Kenapa bengong di situ! Kesambet baru nyaho!''


''Eh, iya Pah.'' Sultan tersenyum lalu mengekori Ziell dan calon mertuanya.


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2