
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Hati ini sangat merindukan seseorang sekarang, jadi tolong untuk dirimu yang di sana, tidurlah lebih awal dan temui aku dalam mimpi yang indah.
Tidak akan pernah aku bosan untuk mengucapkan jika aku mencintaimu dan menyayangimu selamanya. Memang ada banyak hari yang telah berlalu, namun masih banyak hari yang akan datang.
Di antara semua hari itu ... aku tidak akan membiarkan malam ini berlalu tanpa memberitahumu, bahwa aku cinta kamu dan semoga semua impianmu dan mimpi ku menjadi kenyataan.
Selamat malam, Cintaku. Semoga malam ini kita berdua akan di pertemuan kembali di alam mimpi dan menggapai nirwana yang kekal dan abadi.
β’
Itulah yang Ziell unggah di halaman sosial media nya, hari hari nya begitu menyenangkan dan membahagiakan. Namun entah mengapa, ada yang kurang dalam hatinya tapi Ziell tidak terlalu ingat.
Namun ... ketika Ziell melihat Cincin di jari manisnya, ia langsung teringat dan menepuk jidatnya karna sudah beberapa hari ini Sultan tidak pernah mengirimkan kabar untuknya.
''Kemana dia? apa dia masih hidup?'' Gumam Ziell dalam hati, lalu ia mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan pada Sultan.
[Kak, kemana aja nggak ada kabar?]
[Sibuk yaa?]
[Kalau udah nggak sibuk, kabarin aku yaa.]
[Kak, udah tidur yaa]
[Kak, aku mau curhat.]
[Kak, cepet pulang ... aku pengen makan enak.]
[Kak.] [Kak.] [Kak.]
Ziell mengirimkan beberapa pesan pada Sultan, namun belum terbaca oleh orangnya, yang mana membuat Ziell mengantuk lalu ketiduran karna menunggu balasan dari Sultan.
β’
β’
β’
Pagi hariβ’
Ziell sudah bersiap berangkat bekerja, tak lupa dia melihat ponselnya yang masih belum ada balasan apapun dari Sultan.
''Ih, kemana sih dia itu." Desah Ziell kecewa. Lalu ia pun berangkat bekerja, mengunci pintu kamarnya dan menaruh kunci di dalam sepatu di atas rak.
Ketika Ziell sudah siap, ponselnya terdengar berdering di dalam tas, yang mana membuat Ziell melihat ponselnya terlebih dahulu.
__ADS_1
''Vano?'' Gumam Ziell mengerutkan keningnya, sudah lama tidak bertukar kabar dengan sepupu nya.
[Hallo Kak Vano.]
[Hallo Pau, kamu di mana?] tanya Vano di sebrang telpon sana.
[Umm, nggak lagi di mana mana Kak, Pau mau berangkat kerja ... kenapa?]
[Ketemu Yu, Kak Vano mumpung lagi ada di Jakarta.]
Ziell terdiam dan berpikir sejenak. [Baiklah, ketemu di mana kak?] Ziell tidak bisa menolak, ajakkan sepupunya.
[Kakak jemput deh, kirim lokasi mu aja Pau.]
[Baiklah.]
Ziell pun mematikan sambungan telpon nya, lalu mengirimkan lokasi pada Vano. Tidak lupa Ziell pun mengirim pesan pada rekan kerja nya, jika hari ini dia tidak bisa masuk kerja karna sakit.
Setelah mengirimkan pesan, Ziell kembali masuk ke kamarnya dan menganti pakaian yang normal dan tidak culun lagi.
Ziell berpenampilan cantik dan merias wajahnya sedikit agar terlihat segar di pandang.
Ziell menggunakan gaun berwana rose gold, high heels senada, dengan rambut hitam tergerai lurus dan bercahaya, di padukan dengan kulit putih tanpa noda sedikit pun membuat Rapunzell nampak cantik dan berbeda dari biasanya.
"Oke aku sudah siap." Ucap Ziell pada dirinya sendiri di depan cermin, lalu melangkah pergi dari kamarnya setelah mendapatkan kabar jika Vano sudah berada di depan.
Sedangkan di sisi lain, rekan kerja yang bernama Imelda mendapatkan pesan dari Ziell langsung mengabari Dave, yang kebetulan ada Guntur di ruangan nya.
''Sudahlah Dave, biarkan dia sehari saja tidak di sini. Aku muak melihat tingkah nya seperti prangko padaku."
Dave terdiam, "Ya sudah, biarkan saja."
Imelda mengangguk lalu pergi dari ruangan Dave.
Sementara Ziell dan Vano tengah berada di dalam mobil, bercerita segala sesuatu tentang keseharian mereka sambil mendengarkan lagu.
[ I'm the first to say that I'm not perfect
And you're the first to say you want the best thing
But now I know a perfect way to let you go
Give my last hello, hope it's worth it
I'm the first to say that I'm not perfect
And you're the first to say you want the best thing (best thing, yeah)
But now I know a perfect way to let you go
__ADS_1
Give my last hello, hope it's worth it.]
β’
Vano curhat pada Ziell, jika dia sedang kasmaran dengan seorang wanita yang dingin dan cuek plus judes. Membuat Vano merasa tertantang untuk mendapatkan wanita yang dia suka.
''Dari tadi muter-meter terus Kak, kapan makan nya? aku sudah lapar."
"Baiklah, ayo kita cari restoran terdekat dari sini.''
Ziell mengangguk, lalu ia fokus dengan ponselnya karna Sultan membalas pesan darinya, hingga Ziell tak menyadari jika Vano mengarah ke restoran di mana Ziell bekerja.
''Pau, kita sudah sampai."
"Ah, Baiklah ayo." Jawab Ziell, lalu memasukan ponselnya kedalam tas. Namun ... saat Ziell ingin membuka pintu mobil, alangkah terkejutnya Ziell melihat restoran tempat dia bekerja.
"Ya ampun gawat! bagaimana ini ..." Gumam Ziell dalam hati merasa bimbang.
''Pau, ayoo ... kok malah ngelamu sih." Panggil Vano yang sudah berada di luar mobil.
''Mampus kau Ziell, kali ini tamatlah riwayat mu." gumam Ziell dalam hati, keringat di tubuhnya tiba tiba saja keluar tanpa di komando.
''Pau Ayoo." Ajak Vano dan menggenggam tangan Ziell untuk keluar dari dalam mobil.
''Ah, iya Kak, iyaa." Jawab Ziell dengan rasa takut yang besar, membuka pintu mobil dengan perlahan.
Ziell sangat takut jika ada seseorang mengenalinya, apa lagi kalau sampai Guntur mengenalinya bisa gawat darurat gaswat. Ziell pun menarik tangan Vano dan berbicara.
"Kak, bisa ganti restoran nggak?"
"Nggak bisa, katanya udah laper." ucap Vano, menggenggam tangan Ziell dengan paksa.
Ziell yang pasrah, lalu menunduk saat ia masuk ke dalam restoran lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan walau hatinya masih gugup dan ada ketakutan tersendiri.
''Kamu mau pesan apa Pau?" tanya Vano melihat menu yang tersedia di restoran.
"Apa aja terserah Kakak."
Tak berapa lama, seorang pelayan menghampiri mereka. " Permisi, mau pesan apa?"
Deg.
Jantung Ziell seperti di pompa saat mendengar suara familiar di telinganya. Ia pun segera menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan buku menu.
''Ziell ... tamatlah riwayat mu.''
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...