
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Di pesisir kota, terdapat sepasang manusia tengah mengobrol dengan ringan. Bercanda dan tertawa sambil mencicipi makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
''Maaf yaaa, aku cuma bisa ngajak makan kamu di sini.'' Ucap Guntur, mengajak Ziell jajan somay di pinggir jalan.
Othor : Dih nggak modal.
''Nggak papa kok Van, aku udah senang kamu ajak jalan-jalan juga.'' Jawab Ziell dengan ramah, karna Ziell tidak mempermasalahkan dia mau jajan di mana ... yang penting ia kenyang. Terlebih makan dengan pria yang ia sukai adalah nilai plus baginya.
''Lain kali, kalau aku punya uang, aku ajak makan kamu di restoran.'' Guntur menatap Ziell dengan mimik muka prihatin, namun dalam hati dia berkata ... ''Ogah banget gue ajak cewe culun kaya Lu ke restoran yang mahal! Malu maluin gue tau nggak!'' Ucap Guntur dalam hati.
Ziell menatap Guntur dan tersenyum manis, sambil membenarkan kecamata nya yang turun.
"Evan, aku ini cuma cewe kampung yang nggak pernah mempermasalahkan dimana kita makan. Buat aku ... yang penting kenyang dan berkah.'' Ziell tersenyum.
Guntur membalas tersenyum dan mengangguk, ''Lu memang orang kampung, yang memang pantas jajan di pinggir jalan kaya begini! udah kampung, culun, miskin pula." Gumam Guntur dalam hati, terus menggerutu.
Tak berapa lama ... ketika mereka selesai jajan somay, Guntur membawa Ziell ke sebuah taman untuk mengobrol agar niatnya semakin dekat dan tercapai.
''Duduk di sana yuk.'' Ajak Guntur yang langsung di angguki oleh Ziell.
Kini keduanya tengah santai duduk di bangku, menikmati angin sore dan terasa romantis bagi Ziell ... tapi tidak bagi Guntur! pria songong sejagat pernovelan itu sebenarnya enggan duduk di pinggir jalan.
''Makasih yaa, udah ngajak aku jalan jalan.'' Ucap tulus dari seorang Rapunzell.
Guntur memegang tangan Ziell, ''Nggak perlu bilang makasih, aku senang kok ngajak kamu jalan.'' Guntur menatap Ziell dengan dalam, membuat Ziell salah tingkah di buatnya.
''He heee ...'' Ziell menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Oh iyaa Ziell, kamu jalan sama aku apa nggak ada yang marah?'' tanya Guntur mengelus jari jemari Ziell dengan lembut, membuat jantung Ziell dak dik dek seeeeerrr ahh.
''Ma-marah? siapa yang marah?'' jawab Ziell gugup.
''Pacar kamu mungkin ...'' Guntur memincingkan sebelah matanya.
Ziell menunduk dan tersenyum. ''Aku nggak punya pacar, lagian siapa yang mau pacaran sama cewe kampungan kaya aku.''
''Masa sih? bohong ah kamu mah, aku aja mau kok jadi pacar kamu.''
Deg ... Deg ... Deg ...
Jantung Ziell semakin berdetak tak menentu, suasana jadi canggung ketika Guntur masih menatapnya dengan dalam.
''Ja-jangan becanda ahhh Van, nggak lucu tau.''
''Becanda? siapa yang becanda? aku serius mau jadiin kamu pacar aku, walau kita baru kenal dua minggu tapi ... aku udah cinta sama kamu.'' Bohong Guntur.
__ADS_1
Duuaaarrr!!
Jantung Ziell bukan lagi berdetak, tapi sudah meledak tak karuan seperti ada dangdutan di dalam hati dan jantungnya.
''Bo-boleh aku pikirkan dulu?''
''What!!'' Guntur terkejut bukan main, ini kali pertama Guntur di tolak oleh seorang wanita. Culun pula!
Guntur menahan amarah yang ada di dalam dada, ingin sekali ia memaki dan menghina gadis culun yang ada di depannya ... namun ia tahan sebisa mungkin agar rencana nya berhasil.
''Kau! Berani sekali menolakku, awas saja kau yaa ... jika kamu sudah masuk keperangkap ku, akan aku buat kamu menyesal!'' Ucap Guntur dalam hati, ia meradang karna ini kali pertama Guntur di tolak.
''Evan, Van!''
''Ah iyaa? maaf, aku pikir kamu juga memiliki rasa yang sama kaya aku.'' Guntur pura pura kecewa.
''Van ... Ak-''
''Oh iyaaa, adik aku nelpon bentar yaa."
Ziell mengangguk dan menunggu Guntur di taman, sedangkan Guntur yang kesal langsung meninggalkan Ziell di taman sendirian, sedangkan dirinya naik taxi.
β’
β’
Guntur turun dari taxi lalu masuk kedalam Kafe, melihat kanan kiri lalu bibirnya tersenyum ketika melihat gadis cantik tengah duduk menyendiri.
Melihat wanita cantik yang tengah duduk, membuat rasa sakit hatinya terobati sedikit karna gadis culun menolaknya mentah mentah.
''Hai cantik, boleh aku duduk di samping mu?"
"Kamu ..."
Guntur tersenyum dan mengecup pipi wanita cantik itu. "Hai Lyvia, apa kabar."
Lyvia tersenyum namun bukan senyuman ramah, melainkan senyuman mengejek ketika melihat Guntur ada di sampingnya.
''Masih punya duit duduk di sini? Lo kan udah miskin dan di depak dari keluarga Arrashid." Ujar Lyvia pada Guntur.
Namun Guntur yang tebal muka, ia tidak tersinggung dengan ocehan Lyvia ... malah Guntur terkekeh.
"Walau gue udah di depak dari ahli waris, bukan berarti gue miskin dan nggak punya duit." Guntur langsung berdiri, membuat semua orang melihat padanya.
''Hei kalian!'' Tunjuk Guntur pada semua orang, "Makan sepuasnya biar gue yang bayar hari ini.''
Perkataan Guntur sukses membuang semua orang bertepuk ria, termasuk Lyvia yang tersenyum sumringah karna Guntur ternyata memiliki uang walau sudah di depak dari keluarga Arrashid.
"Guntur, jadi kamu nggak miskin? aaahh ... sini duduk bareng gue.''
__ADS_1
Guntur turun dari meja dengan bibirnya tersungging menatap nakal Lyvia, menarik pinggang Lyvia hingga dada keduanya bertubrukan.
Wajah Guntur perlahan maju dan mendekat pada bibir Lyvia, hingga sang wanita langsung memejamkan matanya karna yang ada di otak Lyvia berpikir, jika Guntur akan menciumnya di depan umum dan menyatakan cinta padanya.
Namun angan angan yang dia bayangkan di dalam otaknya langsung buyar, saat Guntur berbisik di telinganya.
''Gue jijik sama Lu!'' Ucap Guntur sukses membuat Lyvia malu.
Guntur langsung melepasakan tangan nya dari pinggang Lyvia dan pergi begitu saja meninggalkan wanita seksi itu.
''Guntur ... Guntur! Aahhk sialan!'' Kesal Lyvia karna sudah melepasakan atm berjalan nya.
β’
β’
β’
β’
Sedangkan Ziell masih setia menunggu Guntur yang tak kunjung kembali.
''Dia kemana sih? kok belum datang yaa.'' Ziell celingak celinguk, merasa khawatir karna Guntur belum datang.
JEDEEEERRR ...
Petir tiba-tiba menyambar, hujan turun tanpa mengabari terlebih dahulu. Membuat Ziell terkejut dan langsung berlari untuk berteduh, namun sayang ... tak ada tempat untuk berteduh hingga Ziell kehujanan dan seluruh tubuhnya basah kuyup.
Haaacuum!!
Ziell melindungi kepalanya dari deras hujan memakai tas nya, ia sudah cukup lama kehujanan hingga tubuhnya menggigil kedinginan.
''Kok nggak ada angkot sama sekali sih, bisa bisa besok aku nggak bisa kerja.''
Tanpa di sangka ... dari arah belakang datang seorang pria tampan membawa payung, melindungi Ziell dari derasnya hujan.
Ziell yang merasa tubuhnya sudah tidak terkena hujan lagi ... ia langsung mendongkakan wajahnya melihat ke atas, lalu melihat ke belakang di mana Pria yang dia kenal tengah melindungi dirinya dari hujan.
Pria tampan dengan setelan jas dan dasinya yang rapih, serta satu tangan di masukkan ke dalam saku, membuat pria yang ada di depannya terlihat sangat sempurna dengan senyum manis di wajahnya.
''Hai, Rosalinda.'' Sultan tersenyum, menyapa Ziell yang tengah menggigil kedinginan.
''Kakak.''
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
__ADS_1