
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Sedangkan di Negara lain, tepatnya di kota Dubai. Sultan dan Jida Lintang baru saja sampai di pusat perbelanjaan di salah satu Mall di Dubai, di mana Mall tersebut milik keluarga besar Arrashid.
Mereka berdua turun dari mobil, di sambut oleh manajer Mall secara pribadi dan beberapa staf Mall.
''Sayidat kabira. (Nyonya besar.)" Ucap mereka bersamaan dan menunduk sopan.
Jida Lintang turun dari mobil dan berdiri sambil membuka kecamata nya. "Tarad aljamie min baladi mull. (Usir semua orang dari Mall ku.)" Ucap Jida Lintang, membuat sang Manajer terkejut.
''Sayidat kabira, asf li'anak lam tablugh musbaqa. (Nyonya besar, maaf sebelumnya anda tidak menginformasikan terlebih dahulu.)
Jida Lintang berhenti melangkah, menatap Manajer di depan nya. "Apa aku harus meng-informasikan pada mu jika aku ingin berkunjung ke Mall ku sendiri?"
"Maaf Nyonya besar." Manager itu menunduk takut.
Sultan menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak heran dengan kelakukan Ibunya ini, sifatnya mirip dengan Guntur yang se-enak jidatnya. "Mom ... tidak usah berlebihan, aku kesini hanya untuk mencari sesuatu barang yang di inginkan oleh Kakak."
Jida Lintang diam dan mengangguk, hatinya langsung meluluh ketika Sultan yang memintanya. ''Baiklah tidak jadi, ayo jalan.'' Jida Lintang tidak jadi mengusir semua orang dari Mall nya.
Mereka pun berjalan kembali ke arah toko berlian, dimana sang kakak menginginkan oleh oleh darinya. Tak tanggung tanggung, Sultan membeli tiga set perhiasan untuk sang Kakak dan kedua ponakan nya dan tidak lupa membelikan jam tangan untuk Guntur.
Ketika mereka berdua tengah memilah, Sultan tak sengaja melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk Bumi melingkar di leher patung. Membuat ia ingat akan sosok Ziell yang jauh dari penglihatan nya, ''Kalung unik itu sangat cocok untuk di pakai Ziell.
Begitulah pikir Sultan.
''Kemarilah." Panggil Sultan pada salah satu peramuniaga seksi.
''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya sang Peramuniaga.
"Bungkus kalung itu dengan rapih, jangan sampai lecet sedikit pun."
Peramuniaga itu mengangguk, lalu mengambil kalung dan membungkusnya dengan rapih.
''Untuk siapa kalung itu?'' tanya Jida Lintang.
''Untuk seseorang.'' Jawab Sultan.
''Oooh, untuk seseorang.'' Jida Lintang manggut-manggut, namun sedetik kemudian ia baru tersadar akan kalimat yang di ucapkan oleh anaknya. "Untuk seseorang? kau sudah memiliki kekasih!'' bentak Jida Lintang tak percaya.
''Bukan kekasih, hanya seorang teman dekat." Jawab Sultan mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
''Siapa dia, siapa dia? Ayolah Nak, Momy mu ini ingin tau."
''Bukan siapa siapa Mom ...''
__ADS_1
''Tidak mungkin! Kalau dia bukan orang yang spesial, mana mungkin kamu mau membelikan kalung untuknya."
''Mo-."
Perkataan Sultan terpotong, ketika seseorang memanggil Jida Lintang dari arah belakang.
''Lintang.''
''Lulu, kau disini?'' Jida Lintang terkejut melihat teman nya ada di toko yang sama.
''Iyaa, aku di sini untuk cuci mata.''
''Apa mata mu sudah rabun? kalau kamu mau cuci mata bukan di sini, sana ke laundry.'' Guyon Jida Lintang.
''Issh, bicara dengan mu bikin aku darah tinggi. Btw ini siapa?" tanya Jida Lulu melihat Sultan.
''Kau sudah lupa pada anak bontotku? dia Sultan."
''Sultan?" Jida Lulu berpikir untuk mengingat nama Sultan.
''Iya ... Sultan alias Tantan adik si Kaleea."
''Ouhh yaaa ampun ... kau sudah besar rupanya? kau tampan sekali, Nak.''
''Terima kasih Aunty." Sultan tersenyum ramah.
''Hust! cucumu sudah ada jodohnya cucuku, jangan membantah hukum alam.'' ujarnya.
Jida Lintang mendelik tak suka. ''Eeeleh, kutukan si Gokong sudah tidak berlaku! Lagian Cucumu tidak pantas bersanding dengan cucuku yang cantik dan baik hati.''
''Apa kamu bilang!'' Jida Lintang tidak terima.
Kedua nenek-nenek itu beradu mulut, membuat Sultan memijat keningnya yang pusing secara tiba-tiba. ''Ya ampun, mereka bertengkar lagi.''
β’
β’
β’
Di sisi lainβ’
Seorang gadis cantik sedang marah marah di pinggir trotoar sambil memeluk dus berisikan barang-barangnya. Nia tengah menggerutu karna ia baru saja di pecat dari kantor tempat ia bekerja.
''Sialan mereka semua! awas aja kalian, akan aku balas.'' Gerutu Nia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, saat ia di pecat gara-gara tidak sengaja menyenggol Manager baru hingga masuk kedalam got.
Aarrgh ... Bugh! Bugh! Bugh! Nia menendang mobil yang terparkir di depannya, hingga mobil itu berbunyi sangat nyaring yang membuat Nia panik seketika.
__ADS_1
Apa lagi saat netra matanya melihat jika mobil itu lecet karna ia tendang dengan sekuat hati, "Alamak! Mampus lah aku."
"Hei, sedang apa kau di dekat mobilku!" Bentak seorang pria mengejutkan Nia, "Kamu mau maling yaa." Tuduh pria itu.
Nia langsung menoleh dan menggeleng, "Ng-nggak, jangan salah paham dulu." Ujar Nia agak sedikit panik.
Pria yang tidak lain adalah Dave memicingkan kedua matanya tak percaya, lalu dengan segera memeriksa keadaan mobilnya yang lecet.
"Kau merusak mobilku!"
"Sorry ak-aku nggak sengaja, Bapak."
"Apa kamu bilang! Bapak? Heh, sejak kapan kamu jadi anak ku."
"Eeehh salah ucap lagi. Emm ... maaf Tuan saya nggak sengaja barusan."
"Cepat ganti rugi! Kalau nggak aku laporin kamu ke polisi."
"Pak, eh maksud saya Tuan ini bisa di bicarakan baik-baik."
Dave mengomel hingga Nia memutar matanya dengan malas, hingga Nia memiliki rencana untuk kabur dan lepas tanggung jawab. Nia ancang ancang bersiap untuk melarikan diri, namun gerakan nya di ketahui oleh Dave hingga Dave menarik rambut Nia kebelakang.
"Heh! Sakit."
"Kamu mau kabur? Tidak segampang itu furgoso. Ganti dulu kerugian nya baru setelah itu kami bisa pergi."
"Iya iyaaa ... berapa ratus ribu yang harus aku bayar?"
Dave menyunggingkan sudut bibirnya, "Apa maksudmu dengan ratusan ribu? Kau tau ini mobil mahal dan kerusakan yang kamu buat mungkin bisa mencapai setengah M."
"What!" Nia terkejut bukan main saat mendengar nominalnya. "Ka-kamu nggak salahkan?"
"Nggak! Cepat bayar." Dave mengadahkan tangannya.
Nia ketar ketir karna tidak punya uang sebanyak itu, "Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang, kasih saya waktu boleh?"
Dave melototkan kedua matanya, seakan ingin menelan Nia hidup hidup. Tapi tak berapa lama netra mata Dave melihat wajah cantik serta body aduhai milik Nia, hingga Dave memikirkan sebuah rencana.
"Baiklah kalau tidak punya sekarang, besok siang kau datang ke restoran ku." Dave memberikan kartu namanya dan mengancam Nia jika dirinya tidak datang besok. Nia yang mendapatkan ancaman dari Dave langsung mengangguk karna takut di telan hidup hidup.
Lantas apa rencana Dave pada Nia? apa dia akan di jadikan bahan taruhan seperti Ziell?
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1