
Di Antara Kita•
...🍒🍒🍒...
''Heh, Mbak. Jangan seenaknya dong!'' Cibik seseorang dari arah belakang, yang mana melerai pertikaian antara pelanggan dan pelayan yang sama sama basah kuyup.
''Ini siapa lagi, yang ikut campur masalah orang.'' Ketus wanita itu melipat kedua tangan nya di dada, sambil memutar kedua matanya dengan malas. Parasnya memang cantik, namun entah mengapa kelakukan nya nauuzubilah.
''Bukannya mau ikut campur, dia memang salah ... tapi seharusnya mbak juga, nggak harus nyiram pake cofee panas juga kali." Sewot wanita yang bernama Lany.
''Kenapa Lu yang ngegass sih anjiir! Dia yang salah kenapa Lu bela?'' Teriaknya melengking, menunjuk Lany dan Ziell.
Padahal semua orang melihat jika wanita ini lah yang berdiri dan menubruk Ziell yang tengah membawa nampan.
''Tapi 'kan dia juga nggak senagaja!'' Sewot Lany tak mau kalah.
Ziell merasa tidak enak hati, terlebih Ziell baru kali pertama di permalukan di depan banyak orang seperti ini ... Ziell benar-benar sudah tidak memiliki muka lagi untuk menegakan dagunya.
Sedangkan Guntur di ujung sana, ia malah menyunggingkan bibirnya, melipat kedua tangan nya di dada menyaksikan drama wanita, yang menurutnya mengasyikan.
Seorang pelayan berlari ke ruangan Dave untuk memberi tau apa yang tengah terjadi, lama lama ia merasa kasian juga melihat Ziell di permalukan.
Sedangkan Lany dan wanita itu masih adu mulut, hingga Scurity dan Dave sang pemilik restoran datang untuk melerai pertikaian yang sebentar lagi menuju babak adu jotos, jambak menjambak.
''Awas Lu yaa, gue tandain Lu berdua." Ujar cewe necis pergi sambil mengomel.
Membuat Ziell menghela nafasnya, sedangkan Lany merasa tak puas membiarkan wanita itu pergi ... apa lagi Lany harus melihat Ziell di ceramahi habis-habisan oleh Dave.
''Lain kali kerja yang benar! Udah mata empat masih aja nggak lihat! Kalau kinerja kamu seperti itu, kita bisa kehilangan pelanggan tau nggak!” Bentak Dave.
Ziell hanya bisa menunduk.
“Ini tidak adil! Dia juga manusia biasa yang bisa salah. Kehilangan satu pelanggan kayak orang tadi ... juga tidak akan bikin anda jatuh miskin!" Ucap Lany, yang di akhiri dengan amarah Dave yang merasa Lany terlalu ikut campur urusan orang lain.
''Ada apa ini?'' tanya si pahlawan kesiangan, yang berpura-pura terkejut.
Dave menceritakan permasalahan nya, membuat Guntur menatap Ziell kasihan namun itu hanya kepura-puraan yang dia tunjukan agar Ziell bersimpati.
''Ziell, kamu nggak apa apa 'kan? maaf ... tadi aku habis dari kamar mandi setor harian, mana wanita tadi? mana ... biar aku kasih dia pelajaran.'' Ujar Guntur dengan wajah tengilnya, membuat Dave menepuk jidatnya.
''Aku nggak papa kok.'' Jawab Ziell tersenyum, namun sebenarnya ia tengah menahan sakit.
Lany yang merasa kasihan melihat Ziell yang terus menahan sakit segera mengajaknya ke klinik. “Ikut aku yuk, nanti lukamu makin parah kalau nggak diobati." Bujuk Lany, rasa iba membuat ia bersikeras ingin membantu Ziell.
“Nggak usah mbak, ini nggak apa-apa kok." Gadis itu menolak niat baik Lany.
“Udah ayo, tempat tinggalku di situ." tunjuk Lany pada gedung apartemen “Tenang aja, aku bukan orang jahat.” Ujar Lany, lalu meminta izin pada Dave supaya Ziell bisa di obati.
''Kamu obat luka mu dulu, besok kembali lagi bekerja.'' Ujar Dave.
''Mau aku yang obati luka mu? sepertinya jika aku yang mengobati lukamu akan cepat sembuh.'' Guntur menggoda Ziell, yang mana membuat Ziell terkekeh.
__ADS_1
Sedangkan Lany memutar matanya dengan malas. Lalu memaksa Ziell untuk ikut dengan nya, dan akhirnya Ziell pun tidak punya pilihan lain selain ikut dengan Lany ke apartemen yang tidak jauh dari Restoran tempat Ziell bekerja.
•
•
Apartemen Lany•
Ziell duduk di sofa sedangkan Lany mengobati lukanya, ia tidak menyangka jika wanita cantik berambut pirang di depan nya ini sangat baik dan lembut. Bahkan Ziell tak menyaka, jika Lany meminjamkan baju miliknya padahal mereka baru saja kenal.
”Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Lany begitu selesai mengobati ruam akibat terkena cofee hangat tadi.
Ziell tersadar dari lamunan nya.
“Rapunzell ... eh maksudku Ziell." Ziell keceplosan memberi tahu nama lengkapnya. Membuat Lany terbahak-bahak, lebih tepatnya tertawa karena baru saja mendegar nama yang unik.
“Beneran, nama kamu Rapunzell?" tanya Lany tidak percaya.
“I-Iya." Ziell gugup seraya membenarkan kaca matanya.
Tawa Lany yang makin pecah membuat Ziell mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa? Ada yang lucu?"
“Iya, sedikit, setauku Rapunzell itu tokoh disney yang rambutnya panjang, ternyata di dunia nyata ada juga Rapunzell dalam versi modern seperti mu.” Ucapan Lany membuat Ziell ikut tertawa.
"Jangan salah, nama Ibuku nggak kalah uniknya, pake nama tokoh disney juga loh.''
“Oh ya?" Tanya Lany tercengang, dengan senyum mengembang.
“Berarti sumbernya ini kakek nenekmu nih, mereka pasti dulunya fans berat serial disney ya.”
Kedua wanita yang baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu, sudah terlihat akrab. Apalagi ketika Lany mendegar nama Ziell dan ibunya yang juga memiliki nama yang sangat unik.
“Aduh mbak, dari tadi ngomong tapi aku belum tahu nama mbaknya siapa.”
Lagi-lagi Lany tertawa mendengarnya. Benar juga, mereka sudah bercerita banyak hal tapi Ziell sama sekali belum tahu namanya.
“Namaku Melany, panggil Lany aja.”
“Oke mbak Lany.”
“Aih, panggil saja Lany, aku belum seembak-embak itu, hey."
Ziell mengangguk ragu, tak berapa lama ... ketika mereka sedang hanyut dalam obrolan. Nampak seorang laki-laki berjawah tampan yang membuka pintu apartemen.
''Lan, aku pulang.'' Ucap pria itu, yang kemungkinan adalah suami Lany.
Lany dan Ziell menoleh pada sosok pria jakung berkaos biru dipadukan kemeja flanel senada, bercelan jeans hitam dengan lesung pipit tengah berdiri sambil tersenyum kepada mereka.
Lany hanya menoleh sekilas pada suaminya dan kembali fokus berbincang dengan Ziell yang kelihatan canggung karena kehadiran suami Lany.
“Dimakan, mbak." Ucap suami Lany dengan ramah, saat meletakkan buah buahan dan cemilan.
__ADS_1
''I-iya terima kasih Tuan.'' Ucap Ziell, yang di angguki suami Lany.
Ziell pun beralih menatap Lany, "Mbak, aku pulang yaa ... nggak enak suaminya udah pulang.''
Lany pun mengangguk dan mengantar Ziell sampai ke depan loby.
•
“Makasaih ya, mbak, eh maksudnya Lany.” Ziel menggaruk tengkuknya ketika melihat Lany memanyunkan bibir saat dipanggil mbak.
“Panggil nama aja, please ...” Lany menangkupkan kedua tangannya, “Aku nggak setua itu, Ziel. Umurku baru 25,” ucap Lany dengan wajah semenggemaskan mungkin.
“Beda setahun berarti." Sahut Ziell tersenyum sumringah.
“Oh yaa? kamu berapa emang?" Tanya Lany pada Ziell, yang wajahnya cukup cantik jika diperhatikan lamat-lamat, garis wajahnya seperti ada keturunan kearab-araban nya.
Hanya saja, kaca mata dan penampilannya membuat ia terlihat culun, padahal aslinya cantik jika berpenampilan sesuai. Sangat disayangkan. Pikir Lany membatin.
”Umurku 24." Ziell tersenyum menampakkan jejeran gigi putihnya yang tersusun rapi.
“Beda setahun, udah panggil nama aja kita."
Lany memberi Ziel beberapa masukan agar tidak diam ketika ada yang berbuat seenaknya seperti tadi. “Kamu harus bisa melawan, jangan diam aja kalau ada orang kayak tadi! Melawan dalam artian, kita harus bisa mempertahankan diri kalau kita emang nggak sengaja." Ujar Lany.
"Apalagi, tadi aku lihat kamu nggak sepenuhnya salah, kok. Dia yang tiba-tiba berdiri pas kamu lewat, kan?"
Ziell mengangguk dengan patuh, lalu melambaikan tangan nya ketika ingin berpamitan pada Lany. Ia cukup senang karna mempunyai teman baru di kota Jakarta ini.
Ketika Ziell melihat Lany yang sudah masuk, ia pun melangkah pergi. Namun baru saja dua langkah, ada seseorang memanggilnya.
''Heii ... Rosalinda, sedang apa kau disini?'' tanya Sultan yang baru saja keluar dari dalam mobil.
''Kau ...''
''Yaa, jodoh mu.'' Sultan terkekeh saat melihat Ziell mencebikan bibirnya, sambil membenarkan kecamata nya yang turun.
''Jodoh, jodoh, siapa yang mau jadi jodoh mu.'' gerutu Ziell.
''Lupakan, kau mau kemana Rosalinda.''
''Namaku bukan Rosalinda!''
''Nggak perduli! temani aku makan ayoo.'' Sultan memaksa Ziell masuk kedalam mobil, walau Ziell memberontak dan menolak mentah-mentah ajakan Sultan.
''Dasar pemaksa.'' cetus Ziell, saat mereka berada di dalam mobil, namun Sultan tak perduli dan bersenandung ria.
•
...🍒🍒🍒...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1