Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 91 : Ombak bergoyang.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Di hotel, tepatnya di kamar pengantin baru ... semua nampak sepi dengan keadaan kamar berantakan dan tidak beraturan.


Semua barang tidak tertata rapih selayaknya kamar pada umumnya, sprei dan bantal tergeletak cantik di atas lantai dengan suara gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar ... hingga beberapa saat suara gemercik air itu di matikan bersamaan dengan pintu kamar mandi terbuka.


Nampak seorang laki-laki berparas tampan dan gagah keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk sepinggang, tidak lupa satu tangan menggosok rambutnya yang basah.


Sultan ... pria itu baru selesai mandi setelah menyelesaikan kegiatan panas dari malam hingga fajar bersama sang istri.


Malam ini benar-benar menjadi malam yang begitu bersejarah bagi Sultan, karna dia dengan bebas menggauli wanita yang sudah halal ia sentuh terlebih ia sangat mencintainya.


Sultan melemparkan handuk kecil itu ke arah sofa, melihat istrinya yang masih tertidur pulas di atas ranjang dengan selimut menutupi kepalanya.


Sultan mematikan ac lalu berjalan ke arah ranjang dan duduk di sebelah istrinya, menyibakan sedikit selimut dan memandang wanita yang yang sudah sah menjadi istrinya.


''Cantik.'' satu kata keluar dari bibir Sultan saat pandangan matanya tidak lepas dari wajah pulas istrinya.


Cup.


Sultan mencium kening Ziell dengan lembut dan berbisik. ''Bangun sayang ... ini sudah siang, kamu nggak lapar apa?''


''Ummm ... ngantuk Kakak ihh.''


Cup.


Sultan mencium bibir Ziell.

__ADS_1


''Jangan cium-cium.'' Ziell menggeliat dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala.


''Iyaa nggak di cium, nanti kalau udah mandi baru di cium lagi ... yuu mandi yuuu, atau mau kakak mandiin?''


Ziell menyingkapkan selimut dan menatap tajam suaminya, ''Nggak mau! Kalau Kakak yang mandiin aku, mandinya nggak bakalan selesai selesai.''


Sultan mengelus kepala Ziell dengan lembut. ''Jadi istriku ini mau apa humm?''


Ziell tersenyum. ''Gendong ... bawa aku ke kamar mandi.'' Ucap Ziell dengan nada manja.


Sultan tersenyum, lalu turun dari atas ranjang dan menggendong Ziell ke arah kamar mandi, di mana dia sudah menyiapkan air hangat untuk istrinya.


''Apa ini lebih baik?''


''Aahhh ... wangi sekali Kak.'' Ucap ziell yang sudah berada di dalam bathub. ''Kak, ko aku ngerasa jika punya mu masih menempel di area sensitif ku yaa.''


Sultan tertawa mendengar celotehan sang istri, hingga Sultan teringat kembali pada adegan panas semalam yang mereka lakukan beberapa kali tiada henti hingga fajar mendatang.


''Nanti juga hilang sayang ... tapi kamu menikmatinya kan? apa lagi saat jari jemariku terus memanjakan ...'' Sultan menggantung bicaranya, dengan kedua alis naik turun dan senyuman menggoda..


''Ih ... kakak mah jorok!'' Ziell membuang muka ke arah lain, ia malu mengingat kejadian semalam, apa lagi ia terus memakan lolipop berukuran besar.


''Apa yang sedang kamu pikirkan humm ... apa kamu mau mengulanginya lagi?'' bisik Sultan yang langsung melepas handuk nya dan masuk kedalam bathub.


''Kakak!''


''Apa? kita hanya mandi bareng, terlebih aku akan menggosok tubuh mu agar jauh lebih baik.'' Sultan memijat pundak belang Ziell, yang banyak bercak merah karya Sultan.


Pijatan itu membuat Ziell merasa lebih nyaman, terlebih Ziell senang karna Sultan begitu perhatian padanya. Ziell benar-benar merasa di ratukan dan cintai begitu dalam oleh suaminya.

__ADS_1


''Kak ... kenapa pijatan mu pindah ke sana?''


''Memijat ini lebih kenyal dan menantang.'' bisik Sultan penuh sensual, sambil meremas dua gundukkan yang menantang imannya.


Bagaimana bisa ia melewatkan kesempatan di depan matanya, dulu dirinya bisa menahan si iman untuk mengontrol diri ... tapi tidak dengan kondisi sekarang yang sudah halal ia lakukan.


Anggap saja dulu hanya pemanasan.


''Ahh ... Kak, aku masih lelah.'' Ziell menolak namun dengan nada suara mendeesah.


''Aku tidak akan melakukannya.'' bisik Sultan namun ia berbicara lain di dalam hatinya, "Ck, kau pikir bisa lepas dari ku hmmm... aku tidak akan melakukannya, tapi kau yang akan meminta itu padaku.''


"Ahhhh ...'' Ziell kembali mendeesah, saat jari jemari Sultan bekerja di bawah sana.


Kepala Ziell menyender di pundak Sultan dengan sebelah tangan meremas rambut belakang Sultan dengan gemas, menggigit bibir bawahnya dengan mata terpenjam.


''Kak-akh ... akuu aahhh ...'' Sungguh, Ziell tidak bisa menahan hasrat yang begitu mendamba dalam dirinya.


''Kau mau bicara apa?'' Sultan terus menggoda dan pura-pura tidak mengetahui apa yang Ziell inginkan.


Ziell yang sudah seperti cacing kepanasan, ia langsung mencium bibir Sultan dan memimpin permainan.


Ini gila, benar-benar gila! Ziell tidak tahan untuk tidak melakukan itu, walau semalam hingga pagi mereka terus melakukannya tapi tidak ada kata bosan yang terucap, malah apa yang mereka lakukan seperti kurang dan ingin asupan yang sama.


Decitan suara dari kulit yang beradu, bersamaan dengan air yang bergoyang bagaikan ombak di lautan lepas yang terus menghantap batu karang.


Begitu pula Ziell bergoyang untuk memuaskan hasrat yang dia inginkan.


β€’

__ADS_1


...πŸ’πŸ’πŸ’...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2