
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Pagi ini di rumah sakit, Mama Ella dan Ziell sudah bersiap untuk membawa pulang Papah Agam yang sudah membaik.
Namun rasanya ada hati yang sedang tidak baik baik saja, karna Ayah dan Ibunya telah sepakat membawa Guntur ke rumah mereka untuk di pekerjakan sebagai supir pribadi Papah Agam.
Ziell merasa Guntur besar kepala, karna sang Ayah selalu berkata bahwa keluarganya berhutang nyawa pada Guntur. Ingin sekali Ziell mengatakan pada sang Ayah bahwa pria yang sudah menolongnya adalah pria yang sama yang sudah menoreh luka di hatinya.
Tapi Ziell tidak setega itu untuk membicarakan nya sekarang, karna sang Ayah belum sembuh sepenuhnya ... terlebih sang Ayah sudah sangat menyukai Guntur alias Evan berada di lingkup keluarganya.
Tidak mudah bagi Papah Agam menerima orang baru menjadi keluarganya, karna Papah Agam biasanya sensian orangnya jika bertemu orang baru apa lagi sok senal sok dekat.
''Hati-hati, Pah.'' Ujar Ziell, saat Papah Agam masuk kedalam mobil bersama Mama Ella.
Ziell pun menutup pintu mobil sang Papah, lalu ia akan membuka pintu depan untuknya, namun Guntur sudah membuka'kan pintu untuknya terlebih dahulu.
''Silahkan Tuan Putri.''
''Nggak usah sok perduli kamu! Minggir.'' Ziell mendorong tubuh Guntur dengan kasar.
Sedangkan Guntur semakin tertarik dengan Ziell yang sekarang, pembangkang dan suka melawan. Membuat dirinya semakin bersemangat untuk mendapatkan Ziell kembali.
Mobil berwarna putih itu keluar dari parkiran rumah sakit menuju Mansion Bilal.
Di sepanjang perjalanan tidak ada kata yang keluar dari mulut Ziell, ia seakan bungkam dan menulikan pendengaran nya di tengah obrolan ketiga manusia yang sedang berguyon obrolan absurd.
Tiba tiba ponselnya berdering yang membuat Ziell langsung tersenyum ketika melihat layar ponselnya. Sebuah pesan dari Sultan dengan gombalan gombalan recehnya.
[Di rumah ada seorang ibu.
Di sekolah ada seorang guru.
Apa kabar wahai calon istriku.
Turut senang jika bisa melihatmu.]
Ziell langsung tersenyum, yang mana membuat Guntur melirik dengan hati penasaran siapa yang mengirimkan pesan untuk Ziell, hingga Ziell bisa langsung tersenyum saat membaca pesan itu ... padahal sejak tadi Ziell cemberut.
[Sejak kapan Kakak bisa menggombal.] Balas Ziell.
[Baru saja aku mempelajari itu dari mbah google. He he he.]
__ADS_1
[Ish ... tidak asik sekali.]
[Baiklah, lain kali aku akan menggombal jika kamu sudah menjadi istriku. Bagaimana keadaan Ayah mu? apa dia membaik.]
[Kita baru saja keluar dari rumah sakit, Kak.]
[Aku belum bisa ke rumah mu, Di kantor masih banyak kerjaan.]
''Kita sudah sampai.'' Ujar Guntur, menatap tajam Ziell yang sedari tadi malah asik bermain ponsel. Entah dia cemburu atau apa ... yang jelas Guntur kurang suka jika dirinya di abaikan.
Guntur mengira jika Ziell sedang mengirim pesan dengan laki-laki yang sama sewatu, waktu Ziell membawa seorang laki-laki ke restoran Dave untuk makan siang.
Sedangkan Mama Ella dan Papah Agam keluar terlebih dahulu lalu masuk kedalam rumah, setelah itu baru Ziell keluar setelah membalas pesan dari Sultan.
Ziell akan melangkah masuk kedalam rumah, namun pergelangan tangan Ziell di tarik oleh Guntur dengan paksa.
''Ish. Kamu itu apa-apan sih!'' Bentak Ziell tidak terima.
''Kamu yang apa apaan! Kamu nggak hargai aku banget yaa ... malah asik main ponsel.'' Cetus Guntur sambil berkacak pinggang.
Ziell mengkerutkan keningnya. ''Heii, sadar diri kamu! Kamu itu hanya seorang supir yang nggak pantas campuri urusan majikan nya.'' Jawab Ziell sedikit menghina Guntur.
Guntur mengepalkan kedua tangannya, ia tidak bisa menerima penghinaan jenis modelan apapun. Kedua giginya saling beradu menggertak dengan geram menatap tajam Ziell.
Brugh!!
Ziell mendorong bahu Guntur yang mqsih terdiam, lalu tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana pun dia tidak akan pernah memaafkan Guntur yang sudah menghina dan menorehkan luka di dalam hatinya.
Arrghh!!
Guntur meninju angin dengan kesal, ia terlalu ceroboh dalam bertindak. Jika saja dulu ia cari tau siapa Ziell, mungkin saja situasinya tidak akan seperti ini.
''Lihat saja, jika aku tidak bisa mendapatkan mu ... aku akan mendapatkan mu dari jalur kedua orang tua mu.'' Ucap Guntur lalu pergi menyusul Ziell ke dalam rumah, dan merubah ekspresi wajahnya dari kesal menjadi ramah.
β’
β’
β’
β’
Malam hari, sekitar jam 7 malam, Ziell sudah rapih dengan pakaian cesuall nya ... ia sudah membuat janji dengan Sultan untuk makan malam bersama di salah satu restoran.
__ADS_1
Ziell keluar dari kamarnya dan akan turun tangga, namun dari atas dia bisa melihat jika kedua orang tuanya sedang tertawa bersama Guntur.
''Cih, gampang sekali dia menjilat kedua Orangtua ku. Lihat saja sampai Papah ku sembuh, akan aku adukan semua kelakuan mu.'' Gerutu Ziell dalam hati.
Ziell pun tak perduli, ia turun dari tangga dengan tergesa gesa lalu berpamitan pada Papah dan Mamahnya hingga Ziell menghentikan langkahnya ketika sang Papah berbicara
''Kamu di antar Evan yaa, Nak.'' Ucap Papah Agam berhasil membuat Ziell menoleh.
''Nggak aahh, Ziell mau perg--''
''Kalau nggak di antar sama Evan, kamu nggak boleh pergi.'' Ancam Papah Agam.
Ziell yang memang notaben nya tidak bisa membantah dan selalu menuruti perkataan sang Papah, ia pun hanya mengangguk pasrah walau dalam hati mencaci maki Guntur.
Guntur merasa menang satu langkah, ia akan berusaha membuat Ziell kembali lagi padanya walau tidak akan semudah dulu.
β’
Guntur dan Ziell pun pergi dari rumah, menggunakan mobil Ziell yang di berikan oleh sang Papah.
''Kamu mau pergi kemana?'' tanya Guntur melihat Ziell dari kaca kecil di atas nya.
Hening ... tak ada jawaban.
''Kamu mau ke Moll?''
''Apa mau makan?''
''Apa mau jalan jalan aja?''
"Ummm ... apa kamu mau nonton? Aku siap mengantarkan mu kemana pun."
Ziell sangat jengah dengan perkataan Guntur, ia meminta Guntur berhenti di tempat pengisian bensin karna dia ingin pergi ke toilet.
Guntur pun dengan segera membelokkan mobilnya, lalu menoleh kebelakang untuk berbicara dengan Ziell. Namun sayang nya Ziell langsung keluar membawa tas nya, ia tidak mau berhubungan terlalu jauh dengan Guntur lagi.
Sedangkan Guntur sedikit kecewa karna Ziell selalu menghindarinya.. ''Hahh ... sabar sabar.'' Guntur mengelus dada, lalu memainkan ponselnya untuk menghilangkan kebosanan tanpa dia sadari jika Ziell mengendap ngendap untuk pergi tanpa Guntur ketahui.
''Tunggulah aku disitu sampai kau lumutan! Aku akan selalu buat kamu kesal dan jangan harap kamu bisa betah bekerja di rumahku.'' Ziell berlari dengan cepat ketika dia berada jauh dari mobilnya.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...