
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Saat cuaca terang, keluarlah sejenak untuk melepas penat sambil menikmati indahnya langit malam. Melihat bulan kadang bisa membuat seseorang mendadak jadi penyair puisi.
Sebab bulan kerap diidentikkan dengan sebuah keharmonisan. Bulan menyampaikan pesan kepada manusia bahwa gelap belum tentu tidak ada cahaya sama sekali.
Di langit yang gelap gulita, bulan mampu bercahaya sendirian, ikhlas tanpa pamrih menerangi bumi. Bulan yang bersinar indah di malam hari juga membuat seoserang terinspirasi merangkai kata-kata indah.
Bahkan kata-kata tersebut mampu menjadi quotes malam hari yang terasa syahdu ...
Tidak terasa, hari berganti dengan minggu ... minggu pun berganti penuh suka cita dan canda tawa. Ziell menikmati kebebasan nya berdua bersama Sultan.
Sejauh ini ... mereka berdua masih belum ada yang menyatakan cinta satu sama lain, namun keduanya terlihat layaknya sepasang kekasih jika sedang bersama.
Dengan perlakuan mereka berdua pun sudah bisa menebak, jika mereka saling mencintai tapi belum terikat satu sama lain. Mungkin juga tidak perlu ada kata cinta yang terucap jika kedua nya sudah merasa nyaman dan saling memiliki satu sama lain.
Di saat Ziell menikmati kebersamaan nya dengan Sultan, lain hal nya dengan Guntur yang sudah sepenuhnya mendapatkan kepercayaan dari Papah Agam.
Bahkan Mama Ella pun di buat takjub dengan ketulusan Guntur yang selalu ada bersama mereka. Mengapa Guntur bisa mendapatkan kepercayaan kedua Orangtua Ziell dengan cepat?
Itu karna anak anak mereka jauh dari pantauan, yang satu berada di London. Yang satu berada di Jakarta mencari kebebasan. Hingga Papah Agam dan Mama Ella kerap merasa kesepian karna anak anak mereka jauh, hingga saatu hari ... Guntur masuk kedalam keluarga mereka yang kesepian hingga kedua Orangtua Ziell bisa menerima Guntur dengan tangan terbuka.
Bahkan sekarang Guntur sudah memanggil Papah Agam dan Mama Ella, layaknya mereka berdua Ibu dan Ayah nya sendiri. Guntur sangat senang, dan dia hanya butuh satu langkah lagi agar Ziell bisa menjadi miliknya dan itu akan segera ia laksanakan.
Pagi ini ... Guntur tengah menikmati sarapan bersama Papah Agam dan Mama Ella seperti biasa, namun ponsel Guntur berdiring dan terlihat jika ada pesan masuk ke ponselnya.
[Bro! Gue liat Ziell, sama cowo lain tapi gue nggak tau siapa. Poto ini kemarin gue ambil, tapi gue lupa kirim ke Lu. He he he he] pesan dari Ridho bersama emotikon tertawa.
Guntur pun melihat poto yang di kirim Ridho dan ia terkejut jika Ziell sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang tidak ia ketahui siapa, karna poto yang di kirim Ridho dari arah belakang hingga Guntur tidak bisa mengidentifikasi siapa orang yang bersama Ziell.
''Brengsek! Siapa pria yang berani-beraninya memegang tangan calon istriku. Apa jangan-jangan pria itu'' Gumam Guntur dalam hati, dan masih mengira jika Vano dan Ziell berpacaran.
''Ada apa, Nak?'' tanya Papah Agam, melihat raut muka Guntur yang kesal.
__ADS_1
''Aah ... tidak ada, Pah.'' Guntur buru-buru mematikan ponselnya dan fokus dengan sarapannya, ia akan mengatakan semuanya setelah selesai makan.
β’β’β’
Alih alih mengatakan semuanya ... Guntur malah pergi dari rumah berjalan kaki hanya untuk menjernihkan pikirannya yang kacau.
Pikirannya sangat kalut memikirkan sesuatu yang janggal menurutnya, ia memikirkan Ziell yang mudah sekali melupakan dirinya ... padahal Guntur tau jika dirinya 'lah cinta pertama Ziell.
Apakah karna lelaki itu(Vano)? lelaki yang Ziell bawa makan siang di restoran Dave? Jika lelaki itu pacarnya Ziell ... lalu dirinya apa? bukan'kah ia dan Ziell sudah resmi pacaran di saat Ziell membawa lelaki itu.
Apakah Ziell punya selingkuhan di saat berpacaran dengan dirinya?
Itulah yang ada di otak secuil basreng milik Guntur. Hingga tanpa terasa lamunan nya membawanya sampai di sebuah perkampungan yang tidak jauh dari kompleks tempat keluarga Bilal tinggal.
''Heh, aku di mana?'' Guntur celingak celinguk melihat perkampungan yang terlihat asri, namun tidak sengaja netra matanya melihat gadis yang dia kenal tengah berjalan sambil menghitung uang.
''Itukan si gadis gila, sedang apa dia di sini? apa ini kampungnya yaa.'' Gumam Guntur, mengikuti gadis yang bernama Mulan.
Gadis itu tengah menghitung uang pemberian dari Mama Ella lalu duduk di teras rumahnya. Ia begitu senang karna Mama Ella memberikan uang lebih untuk dirinya.
''Ayah! Itu uang Mulan buat bayar sekolah ade.'' Mulan mencoba merebut uang yang ada di tangan sang Ayah.
''Alah, berisik kamu! Kamu 'kan bisa cari uang lagi! Kalau hari ini Ayah menang judi, Ayah balikin.'' bentaknya sambil tertawa senang mengibaskan uang itu seperti kipas.
''Ayah jangan Ayah.''
''Apa sih! Lagian yaa ... si Lisa itu nggak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh nanti kalau dia kawin juga masuk dapur Minggir.''
Sang Ayah mendorong Mulan, lalu dia pergi membawa uang yang sudah Mulan kumpulkan untuk membayar spp sang adik yang menunggak empat bulan.
''Ayaah! Balikin uang Mulan, Ayah.'' Teriak Mulan, penuh kekecewaan pada sang Ayah yang gemar sekali bermain judi. Padahal ia mengumpulkan uang itu dengan susah payah, tapi sang Ayah begitu tega mengambil uang itu untuk bermain judi.
''Mulan! bodoh banget sih kamu teh, kenapa kamu teh bisa ceroboh.'' Gerutu Mulan pada dirinya sendiri.
''Mulan.'' Panggil sang Ibu, dari dalam.
__ADS_1
''Bu, Ibu ... Uang buat bayar sekolah ade di ambil sama Ayah, Bu.''
Sang Ibu hanya memeluk anaknya, menguatkan dia agar sabar pada Ayahnya. Ibu Mulan yakin jika suatu saat jika sang Ayah akan sadar dengan apa yang sudah dia perbuat pada keluarganya.
Sedangkan Guntur hanya diam saja menjadi penonton dari balik pohon mengintip pertengkaran keluarga orang lain.
Pluk.
Sesuatu jatuh dari atas pohon mengenai kepala Guntur, hingga sang empu mendongkak ke atas dan melihat seorang gadis tengah tersenyum sambil memakan buah.
"Heh! Nggak sopan Lu." Tegur Guntur, sambil berkacak pinggang, melihat ke atas pohon.
"Bukan saya yang nggak sopan, tapi Om yang nggak sopan nguping masalah rumah tangga orang lain."
"Ehh sotoy Lu! Dasar bocil, siapa Lu panggil gue Om? sejak kapan gue nikah sama Bibi Lu."
Gadis remaja itu turun dari atas pohon dengan kilat, membuat Guntur menganga tak percaya. "Apa dia keturunan Sun Gokong?" gumam Guntur dalam hati.
Gadis itu berdiri tepat di depan Guntur, berkacak pinggang dan menatap Guntur dengan tajam. " Emang siapa yang bilang kalau Om itu pernah nikah sama bibiku? Aku 'kan gadis sopan, manggil orang yang lebih tua itu Om. Aku ini baru 17thn lho Om."
Tuing..
Guntur mentoyor kepala gadis itu, "Bukan itu masalahnya, kalau Lu panggil saya Om ... rasanya gue pengen nge-kosin Lu tau nggak."
"Ihh ... dasar Om-Om mesum!"
''Lisa ...'' Panggil Mulan dari arah rumah.
''Iya Kak.'' jawab Lisa, lalu menoleh ke arah Guntur, "Awas ya kamu Om.'' Ancam Lisa sambil mengacungkan kepalan tanganya pada Guntur.
''Yeyy ... nggak Adik nggak Kakak nya, pada Stres!''
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...