Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 7 : Hari Pertama Bekerja.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


"Apa cara makan mu seperti itu?" tanya Sultan, pada Rapunzell.


"Memangnya cara makan ku seperti apa, Kak?" Ziell bertanya balik.


"Pelan seperti siput, sampai-sampai aku yang meliatnya gemas sendiri."


Ziell tersenyum, "Biasanya aku makan suapnya gede Kak, tapi ... berhubung di depan aku ada Kakak, he he he ... aku jadi malu." Kata Ziell jujur, tersenyum menampilkan giginya yang rapih dan putih sambil membenarkan kecamata nya.


Sultan menyunggingkan sudut bibirnya, lalu memberikan sapu tangan miliknya. "Di sudut bibir mu ada makanan, pakai ini untuk mengelap."


"Eh, masa ... nggak mau sekalian di elapin gitu sama Kakak?" guyon Ziell, yang entah mengapa dia merasa seakan akrab dan sudah mengenal lama dengan Sultan.


''Ck, itu mau mu. Cepat habiskan makanan mu dan pulang ke rumah, nggak baik gadis kecil seperti mu keluyuran malam malam."


"Ish, siapa yang kecil Kak? aku ini udah besar, umurku udah 24th." Ziell cemberut, sambil mengelap sudut bibirnya yang ada sisa makanan.


''Ouh, udah dewasa yaa? kenapa belum menikah? nggak laku yaa ..." Guyon Sultan.


"Nggak laku, karna nggak ada yang mau sama gadis Culun seperti aku ... kalau Kakak mau, boleh daftar jadi calon suami ku." Ziell menimpali candaan Sultan.


Sultan terkekeh, semenjak Melody pergi meninggalkan dirinya tanpa kata. Baru kali ini Sultan berbicara lagi dengan seorang wanita dengan lepas tanpa beban.


"Ya sudah, sampai bertemu lagi di lain waktu. Jika besok bertemu lagi tanpa di sengaja, berarti fixs kita jodoh yaa." Sultan tak henti hentinya menggoda Ziell.


''Ish, nggak mau ah ... Kakak mah udah tua." Jawab Ziell, yang mana membuat Sultan yang hendak ingin membayar nasi goreng langsung menoleh pada Ziell yang berbicara jika ia sudah tua.


''Heii ... aku ini bukan tua, tapi aku ini pria dewasa dan matang."


''Ouh, sudah dewasa? kenapa belum nikah? pasti pilih pilih cewe yaa ..."


''Nggak juga."


''Masa sih? nih, yaa Kak. Kalau kata orang Sunda mah, jangan terlalu pemilih ... takut kalau, pipilih menang nu lewih, kocepat menang anu pecak."


Sultan mengerutkan keningnya, "Apa itu artinya?''


''Artinya? emm ... nggak tau, tapi intinya jangan terlalu pemilih nanti dapat yang jelek."


''Kalau jeleknya modelan kaya kamu, aku masih maklumin nggak apa apa tuh, Nanti aku poles sedikit juga jadi batu Akik.''


''Ish, kok jadi batu Akik sih? bukan nya jadi permata atau berlian kek."

__ADS_1


''Permata terlalu indah untuk mu yang berkecamata, tapi jika lama kelamaan di poles batu akik itu bakal jadi indah. Udah ah, ngapain ngobrol sama kamu ... nanti kamu suka sama aku."


''Ish, amit amit." Ziell mencibikan bibirnya.


''Eh, nggak boleh kaya gitu. gimana kalau ucapan aku di tulis sama malaikat?"


''Iyaa iya iyaaa... makasih sudah di bayarin makanan ku."


"Hem, bye."


Sultan meninggalkan Ziell yang juga akan pulang ke Kos-kosan miliknya, hari ini Ziell cukup senang karna bertemu orang-orang yang baik di sekelilingnya.


Dimulai dari ia di terima kerja, bertemu cowo ganteng yang bernama Evan, dan bertemu cogan ke dua yang bernama ...


''Eh, siapa pria dewasa tadi namanya yaa ...'' Ziell menghentikan langkahnya dan berpikir, "Ahh bodo amat."


Ziell dengan riang melangkah dengan hati yang bahagia, tanpa bisa ia tebak jika dia akan di hadapkan dengan dua pria yang bersifat bertolak belakang. Yang mana akan membuat ia mengalami pasang surut dunia percintaan nya.


β€’


β€’


β€’


β€’


β€’


Pagi ini di dalam kamar, Ziell yang sudah rapih dan semangat tinggi untuk berangkat kerja di hari pertama.


Bagi Ziell, tak masalah jika dirinya bekerja menjadi pelayan di restoran, yang terpenting ia berada di luar rumah dan bisa menghirup udara kebebasan yang dia inginkan.


Ia merapihkan penampilan nya yang culun, memakai kecamata dengan rambut di kuncir kuda lalu menyambar tas dan pergi keluar kamarnya, tak lupa juga Ziell mengunci kamar kos-kosan yang dia tempati agar aman.


''Work ... I'm coming dear." Teriak Ziell penuh dengan semangat.


Namun, semangat itu di patahkan dengan posisi dirinya yang di jadikan tukang cuci piring sementara, karna hari ini restoran sangat ramai.


Ziell menyemangati dirinya sendiri, jika pekerjaan apapun yang dia lakukan jika di bawa enjoy pasti dia akan nyaman seringnya waktu.


''Aah .. akhirnya selesai juga." Ziell begitu senang karna pekerjaan nya sudah selesai.


"Ziell, tolong antarkan Juice ini ke meja 9 yaa."


"Tapi ... ak-aku." Ziell sedikit bimbang.

__ADS_1


"Sudah, apa yang kamu pikirkan!" Sentak Nuna mendorong Ziell, untuk mengantarkan Juice pesanan nomer 9.


Ziell mau tak mau, membawa nampan yang di atasnya ada Juice dengan perlahan tapi pasti, Ziell melangkah ke arah meja nomer 9.


Namun ... belum juga sampai pada sang pemesan, seorang wanita tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya hingga membuat Juice itu tumpah di gaun yang di pakai wanita itu.


"Aahk ... shiit!"


"Ya ampun, maafkan saya Mbak." Ziell terkejut.


Wanita itu menatap tajam Ziell, "Bisa kerja nggak sih? baju gue sampai basah semua. Goblook banget Lu! Nggak bisa jadi pelayan nggak usah kerja." Teriak wanita itu melotot, tak terima jika baju mahalnya basah terkena Juice.


"Ma-maaf mbak, tad-tadi kaki saya kesandung." Ucap Ziell, padahal jika seingat dia, wanita inilah yang berdiri terlebih dahulu hingga menubruk dirinya.


''Hallah ... bacot Lu! apapun alasan nya, Lu udah buat baju gue basah, Njiiir!"


Wanita itu berteriak dan merendahkan Ziell, namun tidak ada satu orang pun yang mau menolong nya ... bahkan Guntur pun hanya menjadi penonton, malahan dia tersenyum puas karna ada yang menghina gadis culun yang akan menjadi pacar taruhan nya.


''Ngapain gue tolong, nanti aja lah liat dulu gadis culun itu di hina, asik juga ternyata ada yang mewakili perasaan gue." Gumam Guntur dalam hati.


Guntur benar-benar tidak punya rasa empati sesama manusia, bahkan dirinya merasa puas dengan apa yang tengah Ziell alami.


"Sekali lagi, saya minta maaf mbak." Ziell benar-benar malu, dan ingin di selesaikan secepatnya.


"Maaf, maaf! nih Lu rasain."


Swosh ...


''Aahhkk ...'' Jerit Ziell, saat ia di siram oleh cofee panas.


Cofee itu memang tidak terlalu panas, namun asap masih mengepul, tapi jika terkena kulit pasti akan terasa panasnya dan meninggalkan kemerahan.


"Panas mbak, mbak kok tega sama saya?" Ziell mengibas ngibas baju yang panas, ia benar-benar tidak tahan dengan rasa perih di area dadanya.


''Rasain Lu!" Wanita itu merasa puas dan tersenyum bahagia, karna sudah memyiram Cofee di area dada Ziell.


''Heh, Mbak. Jangan se-enaknya donk!'' Cibik seseorang dari arah belakang, membuat semua orang menoleh pada asal suara itu.


Sedangkan Guntur semakin asik menjadi penonton, di tambah ada yang membela Ziell.


β€’


Siapa Itu?


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2