Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 97 : Kejutan.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Di kediaman Adiwangsa tengah mengadakan syukuran, di mana semua keluarga besar hadir di acara tersebut termasuk anak-anak panti asuhan yang sengaja Mom Kaleea datangkan.


Do'a-do'a terus di panjatkan untuk kedua pengantin baru, serta keselamatan bagi semua orang yang hadir dalam acara mau pun para Alm dan Almarhumah yang sudah tiada.


Hingga setengah jam berlalu, acara pun selesai dengan khidmat dan kini hanya keluarga inti yang masih ada di kediaman Adiwangsa.


''Kapan kalian bulan madu?'' tanya Mama Ella.


''Minggu depan ishaAllah Mah.''


Mama Ella mengangguk, ia begitu senang melihat anaknya yang terus tersenyum tiada henti, bahkan sang anak tau bagaimana melayani suaminya dengan baik.


Mama Ella bersyukur karna Gen darinya tidak turun pada Ziell, yang mana jika Gen nya turun pada putrinya maka somplaklah rumah tangga sang anak dengan kelakuan absurd nya.


''Guntur ke mana, Le?'' tanya Papah Agam, karna ia tidak melihat Guntur di sepenghujung acara.


''Dari kemarin belum pulang itu anak, katanya ada urusan mendadak.'' Jawab Mom Kaleea sambil menyeruput kopi.


''Apa dia sedang merintis usaha baru? Kenapa di setiap acara selalu berhalangan hadir.'' Ungkap Papah Agam yang belum faham jika Guntur masih mengharapkan Ziell.


''Sepertinya nggak, Guntur hanya ada urusan pribadi mungkin. Soalnya kalau dia merintis usaha nggak mungkin, karna minggu-minggu ini dia akan aku kirim ke Dubai dan tinggal di sana.'' Tutur Mom Kaleea.


''Kenapa Guntur harus tinggal di sana?'' Tanya Mama Ella.


''Perusahaan di sana nggak ada yang ngurus, Jida dan Jadu udah pada tua, pengen istirahat di rumah mereka.''


''Memangnya Affan dan keluarga ke mana?''


''Isshh, mereka kan tinggal di Jerman merintis karir keluarga bahagia di Jerman dan nggak mau balik katanya ... lagian usaha mereka di Jerman bagus dan bertumbuh cepat dalam beberapa tahun kebelakang ini.''


''Jadi fixs si Guntur menjadi Putra Mahkota yang menguasai seluruh harta Arrashid? Ha-ha-haha ... luar biasa.'' Puji Papah Agam tidak menyangka.


''Yaaa ... siapa lagi kalau bukan dia, Ka Affan tidak gila harta dan jabatan! Jadi dia sudah cukup dengan kehidupannya. Termasuk diriku yang sudah cukup kaya dengan perusahaan yang tengah di jalani.''


''Asalamualaikum.'' Ucap seseorang dari arah pintu masuk, membuat semua orang menoleh ke arah suara.


''Walaikum'salam.'' jawab semua orang secara bersamaan.


Guntur melangkah dengan perlahan, namun langkahnya terhenti ketika tangan yang sedari ia genggam tidak ada.


Guntur menoleh kebelakang, "Ayo ... kemarilah.'' Guntur mengulurkan tanganya ke hadapan seorang gadis remaja.

__ADS_1


Gadis itu yang tidak lain adalah Lisa, Lisa dengan perlahan menggenggam tangan Guntur dan melangkah secara bersamaan dengan Guntur ke arah di mana keluarga sedang berkumpul.


Ada rasa takut yang Lisa rasakan, tapi ia tidak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sedangkan semua orang langsung berdiri ketik Guntur menggandeng seorang gadis kecil dengan senyuman hangat yang belum pernah semua orang lihat.


''Mom, Dad. Perkenalkan ... ini Lisa, istriku.''


JEDEEEEERRR!


Flashback On~


''Saya terima nikah dan kawin ny Lilisiana Putri Bin Rudi dengan mas kawin sebuah cincin di bayar Tunai!''


''Bagimana saksi?''


''Sah ... sah ... sah..'' Ucap saksi secara bersamaan.


Guntur tersenyum puas ketika dia sudah mengikat Lisa dengan rantai sebuah pernikahan, yang tidak mungkin bisa lepas begitu saja. Namun tidak dengan gadis remaja yang baru saja menginjak umur delapan belas tahun, ia meneteskan air mata dalam diamnya untuk nasib yang malang karna harus menjadi penebus dendam sang Kakak.


Kemarin baru saja dia memiliki kartu identitas kewarganegaraan, dan sekarang dirinya harus menjadi seorang istri di tengah-tengah dirinya masih ingin bermain bersama teman-teman.


Pernikahan ini hanya sederhana, yang hanya di hadiri oleh kedua orang tua Lisa, bersama ke empat ajudan Guntur yang menjadi saksi Pernikahan serta penghulu.


Setah penghulu pergi, Guntur menatap satu persatu wajah istri dan mertuanya dengan tajam.


''Dengar! Walau Putri kalian menikah dengan ku, bukan berarti hidup kalian akan di angkat derajatnya. Jangan besar kepala, karna aku menikahi anak kalian hanya untuk menyakiti anak kalian yang lainya, yang sudah mengusik kehidupan pribadiku.''


Ketiga orang yang tidak memiliki kekuasaan dan uang hanya bisa menunduk pada orang yang memiliki segalanya. Bahkan mereka tidak berani melawan karna tidak ingin bermasalah terlalu dalam.


Guntur melihat anak buahnya dan memberikan kode, ''Bawa kedua orang itu keluar dari hotelku, pulangkan mereka ke rumah yang kumuh penuh kuman dan kotoran.''


Lisa mengepalkan tanganya, ingin melawan atas penghinaan yang Guntur lontarkan, tapi ia tidak bisa melakukan apapun kecuali diam.


''Ibu ...''


''Jaga diri baik-baik, Nak.'' Sang Ibu memeluk Lisa, "Ibu yakin jika Kakak mu akan menyelamatkan dirimu cepat atau lambat.''


''Iya, Bu.''


''Ibu ...'' gumam Lisa saat sang Ibu pergi meninggalkan dirinya sendirian bersama pria Arrogant yang sedang duduk di sofa menatapnya.


''Kemarilah.'' jari jemari Guntur bergerak, menyuruh Lisa datang padanya.


Tapi Lisa menggeleng dengan pelan, ia masih setia duduk di lantai dengan rasa takut menyelimuti dirinya.

__ADS_1


''KEMARILAH!'' Bentak Guntur, membuat Lisa langsung berdiri menghampiri Guntur.


''Iy-Iya, Tuan.''


''Duduklah di sini.'' Guntur menepuk paha kirinya, menyuruh Lisa untuk duduk di pangkuanya.


Lisa menelan ludahnya susah payah, ia bukan tidak mengerti ... tapi Lisa takut jika Guntur berbuat yang tidak-tidak padanya.


''Kenapa kau masih diam!''


''Ak-Aku ... aku tidak berani Tuan.'' Lisa menunduk.


''AKU BILANG DUDUK YA DUDUK!''


''Oke, Baiklah.'' Lisa tersentak dan langsung duduk di atas paha Guntur.


''Pijiti aku.'' Guntur menyenderkan kepalanya di sofa dan memejamkan kedua matanya.


"Ishhh ... kalau minta di pijat kenapa harus duduk di atas pahamu sih! Dasar Tuan pemarah!" umpat Lisa dalam hatinya.


''Apa kau ingin kau bentak lagi!''


''Eh iyaaaa ... ini aku pijat, Tuan.'' Jari jemari Lisa memberanikan diri untuk memijat kening hingga kepala Guntur.


''Dengar, besok pagi kau akan ikut bersama ku Jakarta! Bertemu keluarga ku, jangan banyak bicara dan diam saja. mengerti!''


''Mengerti Tuan.''


''Kalau begitu minggirlah! Enak sekali duduk di atas pahaku.''


"Apa? Bukanya dia yang menyuruhku tadi untuk duduk di situ! Kenapa aku yang sekarang di salahkan."


Lisa berdiri dan mundur perlahan, memberikan ruang pada Guntur untuk berdiri dari tempat duduknya.


''Siapkan aku air! Aku mau mandi.''


''Baik Tuan.''


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2