
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Di meja makan ... dua keluarga tengah mengobrol dengan riang, terkecuali Guntur yang menjadi pendiam dan hanya fokus menyuapkan roti kedalam mulutnya.
Guntur cemburu melihat kemesraan Ziell dan Sultan yang saling memberikan perhatian-perhatian kecil, yang mana membuat hatinya semakin terbakar dengan rasa ketidak sukaan nya.
''Guntur, ada apa dengan wajah mu, Nak?'' tanya Papah Agam.
Semua orang terdiam dan menoleh ke arah Guntur, sedangkan Guntur melirik semua orang satu persatu dan tersenyum kikuk, "Nggak apa-apa Pah, cuma latihan boxing sama teman.''
''Ouh ... berhati-hatilah lain kali jika latihan, oh iyaa jika kamu punya waktu Papah mau berbicara sebentar.''
''Boleh Pah.'' jawab Guntur.
Papah Agam dan Dad Ryan berdiri dari tempat duduknya karna mereka sudah selesai sarapan, di susul dengan Guntur yang ikut berdiri untuk menyusul Papah Agam.
''Guntur, kau belum menghabiskan sarapan mu.''
''Kenyang!'' cetus Guntur pada Sultan tanpa menoleh ke arahnya.
Sultan menghela nafas dengan sedih, keponakan yang dia sayang tidak pernah berbicara seperti itu sebelumnya ... tapi sekarang Guntur berbicara ketus seperti itu membuat hati Sultan sedih.
''Sayang ...'' Ziell mengelus jari jemari Sultan.
''It's Ok.''
β’
β’
Guntur berjalan menuju ruang kerja sang Ayah, di mana ada Papah Agam di dalam sedang menunggu Guntur.
Namun saat Guntur akan mengetuk pintu, netra matanya tidak sengaja melihat Mulan tengah mengintip ke arah ruang makan.
''Sedang apa wanita stres di situ?'' tanya Guntur pada dirinya sendiri, lalu menghampiri Mulan dengan langkah perlahan.
Tap. Tap. Tap.
Guntur berjalan dan berdiri di belakang Mulan, memperhatikan apa yang Mulan sedang perhatikan.
''Kenapa dia tampan sekali ...'' gumam Mulan dengan perlahan, tapi masih terdengar oleh Guntur.
Guntur menyunggingkan bibirnya, ia memiliki ide yang bagus untuk sebuah rencana yang sudah dia susun.
''Lancang!'' sentak Guntur dengan perlahan, tapi penuh penekanan.
''Astagfirullah! Kamu teh ngagetin saya tau nggak!'' Mulan mengelus dadanya.
__ADS_1
''Dasar perempuan kampung nggak tau diri! Kamu itu sudah lancang ngintip orang, apa lagi yang kamu intip itu majikan mu.''
Mulan tertunduk.
''Dasar tidak perpendidikan! Kampungan!'' Hina Guntur, seakan Mulan adalah tempat pelampiasan kekesalan nya.
''Ak-aku ...''
''Ck! lihat saja kamu jika lancang sekali lagi, aku laporkan sama majikan mu.'' Pekik Guntur, langsung meninggalkan Mulan yang masih terdiam.
Mulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merutuki kebodohan nya karna sudah lancang mengintip, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa kekaguman nya pada Sultan.
β’
β’
β’
β’
β’
''Papah mau bicara apa?'' tanya Guntur pada Papah Agam.
Mereka sudah duduk berdua, saling pandang satu sama lain.
Guntur menghela nafas dengan perlahan, ''Nggak apa-apa Pah, Guntur ngerti kok. Maafin Guntur juga sudah masuk kedalam keluarga Papah dengan cara yang salah.''
Guntur mencoba untuk tetap dewasa di hadapan Papah Agam, ia tidak mau sifat yang sudah dia bangun hancur begitu saja di mata Papah Agam.
''Perihal Ziell ...'' Papah Agam menggantung perkataannya.
Guntur yang mengerti ke mana laju perkataan Papah Agam langsung tersenyum. ''Pah, masalah Ziell tidak perlu di perpanjangan, mungkin Ziell bukan jodoh Guntur."
"Apa kau sudah mengikhlaskan Ziell menikah dengan Om, mu?
Guntur terdiam, "Sebenarnya tidak ikhlas, tapi aku punya rencana lain." Gumam Guntur dalam diam nya dan terkekeh.
"Guntur akan merasa bahagia jika Ziell juga bahagia, Guntur tidak bisa memaksa Ziell untuk mau kembali."
"Papah sangat bangga pada mu Nak, kau jauh dari perkiraan ku, kamu sangat dewasa dan punya hati yang lugas dan baik hati."
Guntur tersenyum...
"Papah do'akan agar kamu secepatnya mendapatkan pengganti Ziell."
"Terima kasih, Pah."
"Tidak! Aku tidak ikhlas dan tidak rela, sebelum janur kuning melengkung, aku akan mencoba sebaik mungkin agar Ziell kembali padaku." Gunam Guntur dalam hati.
__ADS_1
β’
β’
β’
β’
Di kamar Sultan.
Sultan tengah memakai dasi di leher sambil melihat ke arah cermin, namun pikirannya sedang tidak bersama dirinya ... ia tengah memikirkan sang keponakan yang mungkin masih belum terima keputusan kedua belah pihak.
Tapi apa yang harus ia lakukan, ia juga tidak bisa melepaskan Ziell ... terlebih dirinya dan Ziell sudah saling mencintai.
"Apa yang sedang kamu pikiran humm ...'' Ziell memeluk Sultan dari arah belakang, menyenderkan kepalanya di punggung lebar Sultan.
Sultan melepaskan kegiatannya lalu membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Aku tidak memikirkan apapun.''
Ziell tersenyum dan mengelus pipi Sultan dengan lembut. "Jangan bohong, aku tau jika Kakak sedang memikirkan Guntur kan?"
Sultan diam dan mengangguk. "Aku hanya tidak terbiasa melihat sikap dia yang seperti itu."
''Percayalah, jika itu hanya sementara ... aku yakin lambat laun Guntur akan memahami kita, terlebih Papah sedang berbicara empat matanya dengan nya.''
''Will everything be okay?'' (Apa semua akan baik-baik saja?)
Ziell merangkup wajah Sultan, hingga mata mereka saling bertatap. ''Trust me everything will be fine. (Percayalah semua akan baik-baik saja.) ngomong-ngomong hari ini Kakak belum memberikan aku itu."
Sultan mengerutkan keningnya. "Memberikan kamu itu? apa itu?'' tanya Sultan yang bingung.
Cup. Cup. Cup.
Ziell mengecup beberapa kali bibir Sultan, hingga sang empu salah tingkah dengan kelakuan calon istrinya ini.
''Dasar nakal.'' Sultan mencubit pipi Ziell.
"Lagi ... tapi bukan kecupan, mau ciuman."
''Nggak ah, kata Papah bukan Mahrom.''
''Aaahh aku mau ... ciummmm ...'' Ziell merengek meminta ciuman, layaknya meminta kinderjoys pada sang Ibu.
Keduanya bercanda tawa di dalam kamar, tapi dengan suara pelan, karna Ziell masuk ke kamar Sultan dengan cara mengendap ngendap agar tidak ketahuan oleh ayah nya yang selalu menjaga dirinya sebelum hari H.
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1