Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 78 : Tempat tersembunyi.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


"Om, kenapa Ziell lama sekali ke toilet?" tanya Guntur, yang penasaran karna Ziell cukup lama di toilet.


Sultan pun menoleh ke arah di mana Toilet berada, lalu melihat jam di pergelangan tanganya. ''Biar Om periksa dulu.'' Sultan berdiri dari duduknya dan melangkah untuk menyusul Ziell. Sedangkan Guntur meneruskan makan siangnya.


Sultan melangkah ke toilet dan berdiri di depan pintu masuk toilet wanita, mencoba untuk mengintip, apakah ada Ziell di dalam.


"Permisi mbak, apa di dalam masih ada orang?'' tanya Sultan, menghentikan seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet.


''Nggak ada tuh, Mas. Emang kenapa?''


''Boleh minta tolong nggak mbak, cek satu persatu dan ... ini, ada wanita ini nggak di dalam.'' Sultan memperlihatkan ponselnya.


''Baik, sebentar ya Mas.''


Wanita itu melangkah ke toilet dan mengecek satu persatu pintu yang ada di dalam, namun tidak ada orang lagi kecuali dirinya. Ia pun melangkah ke luar dan menemui Sultan lagi.


''Nggak ada siapa-siapa Mas, di dalam.''


Deg.


''Masa sih Mbak, calon istri saya tadi izin ke toilet.''


''Kalau Mas nggak percaya, cek aja deh Mas, karna di dalam udah nggak ada siapa siapa.''


Sultan yang penasaran langsung mengecek ke dalam, dan membuka satu persatu pintu, namun tidak ada satu orang pun yang ada di dalam.


''Ziell!''


Tidak ada sahutan, yang membuat hati Sultan tiba-tiba tidak enak. ''Kemana dia?''


Sultan segera menghubungi nomer ponsel Ziell, namun tidak ada sahutan yang membuat Sultan semakin khawatir. Ia pun langsung pergi untuk menemui Guntur.


''Gun, di toilet nggak ada Ziell.''


Guntur yang sedang menerima panggilan telpon, langsung mematikan sambungan telponnya dan menoleh ke arah sang Om. "Hah, kok bisa?''

__ADS_1


''Ziell hilang! Nggak ada di toilet.''


''Udah cek ke dalam toiletnya belum, Om? siapa tau Ziell belum selesai stor harian nya.''


''Udah! Tapi Ziell nggak ada di dalam.''


''Coba hubungi Mama Ella atau siapapun Om, siapa tau Ziell pulang.''


''Nggak mungkin dia pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu! Ziell bukan orang seperti itu.'' Sultan sudah mulai meninggikan suaranya, ia benar-benar khawatir kemana Ziell pergi dengan misterius.


Guntur berdiri dari duduknya dan mulai khawatir kemana Ziell pergi, ''Gini aja Om, Om coba cari di luar ... biar aku ngobrol sama maneger sini untuk mengecek cctv.''


Sultan mengangguk. Keduanya pun mencari keberadaan Ziell, sedangkan Ziell sendiri sudah di bawa oleh orang yang tidak di kenal ke suatu tempat.


Bukan gubuk atau rumah tua, apa lagi gedung yang terbengkalai. Ziell di bawa ke rumah sederhana namun nyaman di tinggali.


Terlihat jika seorang pria bertubuh tegap dan tinggi turun dari mobil, lalu berjalan menutup gerbang dengan rapat. Pria itu membuka bagasi dan melihat tubuh Ziell yang tidak sadarkan diri.


Pria itu menggendongnya ke dalam rumah, lalu di baringkan nya tubuh Ziell ke atas peraduan dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Cekrek!


β€’


β€’


β€’


β€’


Di satu sisi, Sultan yang sudah panik sedang melapor kepada pihak berwajib terkait hilangnya calon istrinya.


''Maaf Pak, laporan bapak bisa di proses jika calon istri Bapak sudah hilang selama 24jm.'' Ujar salah satu polisi.


Brak!!


Sultan dengan marah menggebrak meja, "24jam! Apa kalian sedang bercanda? Bagaimana jika dalam 24 jam calon istri saya dalam bahaya! Apa kalian akan bertanggung jawab, Hah!'' Bentak Sultan dengan menggebu.


Sultan sudah habis kesabaran, emosinya sudah di ubun-ubun. Apa lagi saat tadi melihat cctv di restoran tersebut sedang rusak hingga tidak ada bukti tentang Ziell pergi ke mana.

__ADS_1


''Sabar Om, ini kantor polisi.'' Guntur mencoba untuk menenangkan sang Om.


Sultan duduk sedangkan Guntur mencoba untuk mengobrol dengan polisi agar bisa membantu mencari Ziell, hingga beberapa obrolan yang membuat para polisi mau membantu mencari.


Kabar hilangnya Ziell sudah sampai di telinga keluarga Billal dan Adiwangsa, mereka juga mengerahkan anak buah mereka untuk mencari Tuan putri yang hilang.


Sedangkan Tuan putri yang sedang di cari-cari masih terbaring di atas peraduan di kediaman entah siapa yang punya.


Sayup-sayup terlihat kelopak mata Ziell bergerak, hingga perlahan terbuka dan berkedip beberapa kali. Ziell melihat langit-langit kamar yang tidak dia kenal, lalu melihat kanan kiri dengan perlahan.


''Ah, dimana aku?'' tanya Ziell pada dirinya sendiri, lalu dia terbangun dan menyenderkan tubuhnya yang masih lemas.


''Uh, kenapa kepala ku pusing yaa ... eh di mana aku?''


Ziell mulai sadar jika dirinya berada di tempat asing, ia menyibakan selimut dan turun dari peraduan untuk memeriksa.


Namun aneh nya jendela terkunci rapat, seakan ada yang menghalangi dari luar, lalu Ziell melangkah ke arah pintu dan mencoba untuk membuka pintu namun nihil.


''Heii ... siapa di luar? tolong!'' teriak Ziell sambil menggedor pintu.


Dhuk. Dhuk. Dhuk.


''Ada orang di luar ... heiii kenapa aku terkunci di sini, hello ...''


Dhuk. Dhuk. Dhuk.


''Heiii ...''


Ziell berusaha mengetuk pintu dan berteriak sekuat mungkin, namun tidak ada jawaban sama sekali hingga tenggorokan nya kering dan merasa lelah.


Ziell pun bersender di dinding, tubuhnya merosot dan menangis, ia tidak tau apa yang terjadi karna seingat dirinya tadi dia sedang makan siang dengan sang kekasih.


''Mama, Pah, Ziell takut.'' lirih Ziell memeluk lututnya.


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...

__ADS_1


__ADS_2