
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Cahaya mentari di pagi hari masuk di sela-sela gordeng yang sedikit terbuka. Ziell menyepitkan matanya karna silau akan cahaya yang menerangi kamarnya yang gelap gulita.
Ziell merasa pundaknya berat, ia pun menoleh kebelakang di mana sang suami tengah menemplok padanya seperti tokek. Lalu netra matanya melihat jam di dinding menunjukan pukul enam lebih lima belas menit.
Ziell pun dengan perlahan melepaskan pelukan sang Suami lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian ... Ziell keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang fresh, ia melihat jika suaminya masih terlelap tidur lalu melangkah ke arahnya.
Cup.
Ziell mencium pipi Sultan, ia tidak ingin membangunkan nya dan langsung keluar dari kamar menuju dapur untuk melihat sarapan apa yang akan di buat hari ini.
"Selamat pagi, Nona." Salah satu pelayan yang sedang mengepel menyapa Ziell dengan sopan.
"Pagi juga, oh ia ... hari ini kalian akan buat sarapan apa yaa?"
"Sarapan sudah siap semuanya Nona, jika anda menginginkan sesuatu maka panggil saja saya." Jawab kepala pelayan dari arah belakang.
"Ahhh, aku pikir kalian belum membuat sarapan." Ziell mengerucutkan bibirnya, niat hati ingin membantu, tapi sepertinya bantuan nya tidak di perlukan.
"Baiklah, lebih baik aku jalan-jalan pagi saja." Ziell ingin melangkah pergi ke taman belakang menghirup udara segar di pagi hari, namun dari arah belakang ada yang memangilnya.
"Ziell kau sudah bangun sayang?" Mom Kaleea muncul dari arah belakang.
"Ahh ... iya tante, ini mau jalan-jalan ke taman belakang."
Mom Kaleea tersenyum, karna Ziell memanggilnya tante, mungkin belum terbiasa, pikirnya.
"Baiklah, ayo kita jalan jalan bersama."
Keduanya melangkah ke arah taman, namun langkah Mom Kaleea berheti ketika netra matanya melihat Guntur menuruni anak tangga.
''Nak, kau mau ke mana?''
''Aku ada urusan sebentar.'' jawab Guntur tanpa menoleh sedikit pun pada Ibunya atau Ziell, yang mana membuat dua wanita itu saling pandang dengan heran.
''Tante, kurasa ada yang aneh dengan anak mu yang satu itu.'' bisik Ziell.
''Sepertinya begitu, ayo kita menggosip. Ada yang mau aku bicarakan tentang Guntur.''
Ziell mengangguk dan mengikuti kakak iparnya ke taman belakang ... di sini lah mereka berdua duduk, di kursi kayu dekat dengan kolam ikan koi yang sangat cantik.
__ADS_1
Mendiskusikan apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk Guntur, bahkan Ziell menceritakan kejadian semalam ... di mana Guntur masih memaksa dirinya untuk bersama.
Mom Kaleea menghela nafasnya, ia dari semalam berpikir keras agar sang anak tidak mengganggu rumah tangga Om nya, dan ia memiliki ide yang tepat untuk mengatasi sang anak.
Mom Kaleea pun menceritakan pada Ziell jika dirinya akan menjodohkan Guntur dengan salah satu anak teman sosialitanya, dan mungkin akan mengirim Guntur dan istrinya kelak ke Dubai untuk mengurus perusahaan Jadu Omar yang sekarang ingin diam di rumah menikmati hari tuanya.
''Itu lebih bagus tante, di bandingkan Guntur terus menghantui rumah tanggaku.'' Kata Ziell dengan jujur.
''Maaf yaa, Nak.'' Mom Kaleea merasa bersalah.
''Tidak apa-apa tante, aku mengerti kok.'' Ziell tersenyum dan mengelus pundak Mom Kaleea, ''Ada kalanya apa yang kita inginkan atau kita harapkan tidak sesuai kenyataan yang ada ... dan juga Ziell takut jika Guntur lama ke lamaan gila melihat aku dan om nya bahagia."
Mom Kaleea diam sejenak, lalu mengobrol yang lainnya ... dan ada banyak hal yang Ziell tanyakan tentang pengalaman dalam pernikahan, membuat mereka hanyut dalam obrolan di atas ranjang dan apa saja gaya yang di sukai pria.
Walau agak sedikit malu, Ziell tetap mendengarkan untuk ia peraktekan di kemudian malam. Karna dia mau jika suaminya puas dengan servis yang dia berikan.
''Sayang ...''
''Iya ... aku di sini.'' jawab Ziell, saat sang suami memanggilnya.
''Sudah sana, temui suami mu.''
Ziell mengangguk dan berlari kecil menghampiri suaminya. Sedangkan Mom Kaleea menatap Ziell dan Sultan dari kejauhan, melihat interaksi antara keduanya yang penuh dengan cinta.
''Huufth ...'' Mom Kaleea menghela nafasnya dengan panjang, ''Adikku sudah menemukan pasangan hidupnya, tinggal anakku yang harus aku selamatkan dari rasa Obsesinya.''
Sedangkan di sisi lain. Guntur berada di dalam mobil bersama dua anakbuah nya, dan beberapa polisi di belakang yang mengikuti mobilnya menuju ke kota Bandung.
''Bagaimana, apa kedua orang tua Mulan ada di rumahnya?'' tanya Guntur.
''Informasi yang saya dapat, Ibunya sedang sakit dan berada di dalam rumah, sedangkan Pak Rudi sudah kita amankan.''
''Bagus! Tua Bangka itu sudah membawa uangku, mereka harus mengembalikan uang empat miliar ku.''
Guntur menyunggingkan bibirnya melihat ke luar jendela, ia tidak akan melepaskan Mulan begitu saja, karna Mulan sudah mencampuri urusan pribadi nya maka Mulan harus mendapatkan konsekuensi nya.
Dua jam di perjalanan akhirnya mobil yang membawa Guntur telah sampai di halaman rumah keluarga Mulan.
Guntur keluar dari dalam mobil, melepaskan kecamatanya dan melihat sekitar. Di mana semua orang berkerumun melihat dirinya.
Guntur tak perduli, ia melangkah ke depan rumah dan berdiri dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku.
Tok. Tok. Tok.
Salah satu polisi mengetuk pintu beberapa kali, hingga pintu itu terbuka dengan perlahan. Terlihat sosok wanita paruh baya dengan muka pucat membuka pintu.
__ADS_1
"Cari siapa, Pak?"
Guntur menyuruh kedua polisi itu untuk menunggu di luar, sedangkan dirinya masuk bersama anakbuahnya tanpa di suruh.
"Cari siapa, Pak?" untuk kedua kalinya Ibu Mulan bertanya.
"Saya mencari anakmu yang bernama Mulan! Dia memiliki hutang pribadi padaku."
"Mulan nya tidak ada di rumah, Pak. dia sudah berangkat kerja ke luar negri."
"Aku tau! Dan aku akan menagihnya padamu, terlebih suami mu itu telah menipuku dan membawa uangku sebesar empat miliar.''
Deg.
''Ee-em-empat mi-milliar?'' Ibu Mulan terkejut dan refleks memegangi dadanya yang sakit.
''Astagfirullah, Ibu.'' Seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam sma datang dan menghampiri Ibunya.
''Ibu baik-baik saja?'' Gadis remaja itu menuntun sang ibu agar duduk, lalu menatap Guntur dengan tajam.
''Siapa kalian! Berani sekali membuat Ibuku sakit.''
Guntur mengerutkan keningnya melihat gadis remaja yang ada di hadapan nya, memindai gadis remaja itu dari atas sampai bawah lalu menyunggingkan sudut bibirnya.
''Ayahmu memiliki hutang sebesar empat miliar, dan kakak mu memiliki hutang pribadi padaku.''
''Nggak! Nggak mungkin. Walau bapakku tukang judi dan sering mabuk-mabukan, tidak mungkin dia bisa menipu dengan jumlah sebesar itu.''
''Apanya yang tidak mungkin?'' Guntur tersenyum, lalu melihat kedua anak buahnya, "Bawa Ibu itu dan jebloskan ke dalam penjara bersama suaminya.''
Gadis yang bernama Lisa membelalakan kedua matanya saat sang Ibu hendak di bawa pergi, ''Jangan! Jangan bawa ibuku, Ibuku sedang sakit.'' Lisa memeluk sang ibu yang tengah menangis.
''Aku mohon, jangan bawa ibuku ... bi-biar aku yang akan melunasi hutang bapakku dan Kakak ku, asal ibuku jangan di masukan ke dalam penjara. Hiks ... Ibuku sedang sakit, aku mohon.''
Lisa memohon pada Guntur dan berlutut, ia tidak tega melihat ibunya yang sakit-sakitan harus di penjara karna hutang.
Guntur menyunggingkan bibirnya karna gadis kecil ini sudah masuk kedalam perangkap nya.
''Baik, karna kamu telah berkata seperti itu, maka sebagai gantinya kau harus menikah denganku.''
Deg.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...