
Di Antara Kitaβ’
...πππ...
Di sisi lain, Guntur tengah melampiaskan kekesalanya dengan cara adu tinju di sebuah Ring dengan lawan main yang bisa di bilang tidak seimbang dengannya.
Alhasil wajah dan tubuh Guntur babak belur, tapi Guntur merasa belum puas dan terus berdiri walau kakinya sudah gemetar.
Bukan tanpa sebab Guntur seperti ini, ia sakit hati saat sang Ibu mengabari dirinya jika Sultan dan Ziell akan segera melangsungkan pernikahan dua minggu dari sekarang.
Itu artinya dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk merebut Ziell dari Om nya sendiri. Itu sebabnya Guntur adu tinju dan membayangkan jika lawannya adalah sang Om.
''Stop! Gue bilang stop!''
Dave melerai permainan yang menurutnya tidak masuk akal, lalu menghampiri Guntur dan melihat keadaannya.
''Bro! Are you ok?''
''Hehe hehe ..'' Guntur hanya terkekeh seperti orang gila meratapi nasibnya yang malang, lalu Guntur menangis dan memeluk Dave.
''Hiks ... Gue nyesel Dave, gue nyesel udah sia-sia Ziell.''
''Gue tau Lu nyesel nyet! Tapi nggak ngorbanin tubuh Lu juga, bego!''
''Apa yang harus gue lakuin? Ziell mau nikah dua minggu lagi.''
''Kita pikirin nanti, ayo obatin luka Lu dulu.''
''Kenapa dulu gue bertindak bodoh, dan malah ngikutin gengsi gue.''
''Banyak bacod, Lu.'' Dave membopong tubuh Guntur dan membawanya keluar dari Ring.
Dave tau ini semua di luar kendali, ia sedikit menyesal sudah membuat taruhan yang akan merugikan semua pihak. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya berharap jika Guntur mengikhlaskan Ziell untuk Om nya sendiri.
Setelah memakaikan baju pada Guntur, Dave segera membawa Guntur pulang ke kediaman Adiwangsa karna besok Dave harus menyusul Nia ke Bandung dan meluruskan apa yang terjadi pada mereka.
Dave menyadari jika Nia sudah memasuki lerung hatinya, dan dia tidak mau menyesal seperti Guntur yang baru menyadari orang yang dia cintai setelah pergi.
Setelah beberapa menit berlalu, mobil Dave masuk kehalaman Mansion.
''Bro, Lu dah nyampe rumah.'' Dave menggoyangkan bahu Guntur agar terbangun.
Guntur membuka matanya lalu mengangguk, "Thanks Bro, gue kedalam dulu.''
Guntur keluar dari dalam mobil dan berjalan gontai memasuki Mansion. Setelah berada di dalam, Guntur langsung naik ke lantai atas namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
''Guntur, Nak.'' panggil Mom Kaleea.
__ADS_1
''Ya.'' jawab Guntur tanpa menoleh.
''Kau dari mana? Sudah mulai lagi jam segini baru pulang.''
''Mom aku capek, aku mau istirahat.'' cetus Guntur tanpa mau menoleh.
''Tunggu.'' Mom Kaleea menarik tangan Guntur, dan terkejut melihat wajah sang anak yang babak belur tak berbentuk.
''Astagfirullah, Nak. Kamu kenapa?''
''Tidak usah perdulikan aku, perdulikan saja adik mu itu.''
''Kamu itu di tanya apa jawab apa, Mom tanya kamu kenapa?''
''GAK USAH PERDULI!'' bentak Guntur.
''Guntur!'' Bentak Sultan dari arah samping, Sultan terkejut jika Guntur berani membentak sang Kakak.
''Jangan membentak Ibu mu.'' Sultan melangkah ke arah Mom Kaleea dan Guntur, namun matanya membelalak saat melihat keadaan sang keponakan.
''Guntur, ada apa dengan mu.''
''Aku bilang nggak usah perduli kalian! Nggak usah perduli dengan perasaan ku! Usuri saja urusan kalian yang mau mempersiapkan pernikahan kalian.'' Guntur langsung melengos menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.
Sedangkan Mom Kaleea dan Sultan saling pandang, terlebih Sultan merasa tidak enak hati ... ia yakin jika keadaan Guntur di sebabkan kabar pernikahan anatara didinya dan Ziell.
''Apa yang harus aku lakukan, Kak?'' tanya Sultan menoleh pada sang Kakak.
Mom Kaleea mengelus pundak Sultan, ''Tidak perlu melakukan apapun, aku yakin jika Guntur hanya sementara dan pasti akan menerima semuanya walau perlu waktu.''
Sultan mengangguk.
__ADS_1
''Tidurlah, tidak enak kalau terdengar oleh Agam dan istrinya ... mereka sedang istirahat di kamar mereka masing-masing.''
''Baik, Kak.''
Keduanya melangkah ke kamar mereka masing-masing, tanpa tau jika Mama Ella menyaksikan semuanya ... Mama Ella pun bingung dan merasa kasihan dengan Guntur, tapi dia juga tidak bisa menolong Guntur.
β’
Ke esokan pagiβ’
Masih di kediaman Adiwangsa, Mulan si gadis desa tengah berjalan-jalan dan melihat rumah yang megah dan mewah ini ... ia begitu takjub dan berpikir beberapa kali, bagaimana rumah ini bisa di bangun dan butuh berapa berapa banyak agar cepat selesai.
''Ini teh, kaya beneran ini mah ... sejahtera sekali kehidupan mereka teh yaa.''
Bugh!
''Aahkk.''
Hap!
Tubuh Mulan yang tadinya akan jatuh langsung di tangkap oleh Sultan.
''Apa kamu baik baik saja? maaf aku tidak sengaja.''
''MashaAllah ini pangeran dari mana?'' jerit Mulan dari lubuk hatinya.
Sedangkan seseorang dari balik kaca menyunggingkan bibirnya melihat interaksi Sultan dan Mulan.
''Bukankah ini kesempatan bagus?''
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...