Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 46 : Rujak Bibir.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Di kediaman Bilal.


Mama Ella sudah terlihat akrab dengan Sultan. Mama Ella juga begitu senang jika sang anak mempunyai teman baik yang bisa menjaganya di saat Ziell sedang kesusahan dan kebingungan.


''Udah mah baik, sopan, cerdas, tampan, udah punya calon belum?'' tanya Mama Ella pada Sultan.


Sultan hanya tersenyum dan melirik Ziell sebentar, lalu menggelengkan kepalanya, ''Belum Tan, belum ada yang mau sama saya.''


''Ahh, masaa ...? nggak percayaa ... masa cowo ganteng seperti mu nggak ada yang mau. Boleh dong Tantee daftar?" Guyon Mama Ella.


''Mah.'' Ziell menyikut sang Ibu.


''He he hehe ... apa sih, Nak.'' Bisiknya.


Sultan melihat kelakuan absurd Ibunya Ziell, mengingatkan dia akan sang Kakak yang berperilaku sama persis jika melihat pria tampan.


Di saat mereka sedang mengobrol, Art dari arah dapur membawa jus untuk di sajikan pada tamu. ''Ibu, ini jusnya.''


''Berikan itu pada Nak, Sultan.''


Art itu mengangguk dan melangkah ke arah Sultan, namun siapa sangka kakinya tersandung karpet hingga minuman itu tumpah tepat di tubuh Sultan.


''Alamak! Aduh ... maaf, Tuan.''


''Inem!'' sentak Mama Ella.


''Nggak apa-apa Tante, nggak perlu khawatir.'' Sultan mengelap bajunya yang terkena jus.


''Inem nggak sengaja beneran ... maaf ya, Tuan.'' Ucap Inem dengan sedih.


Mama Ella pun menyuruh Sultan untuk membersihkan dirinya di kamar tamu, sedangkan dirinya dan Ziell pergi ke kamar untuk mengambil baju Agam untuk di pakai Sultan.


''Mah, Mamah nggak marah 'kan kalau Ziell bawa teman laki-laki ke rumah?'' tanya Ziell pada sang Ibu, yang sedang memilah baju untuk di pakai Sultan.


Mama Ella, menghentikan gerakkan nya lalu melihat sang anak yang tengah menunduk. Entah dia takut atau apa ... yang jelas Mama Ella sebenarnya kasihan pada sang anak yang selalu di kekang oleh suaminya.


Umur Ziell sudah 24 tahun, tapi Ziell belum memiliki pengalaman apapun tentang kehidupan. Karna sedari kecil hingga dewasa Ziell layaknya Rapunzell di dalam dongeng yang di kekang oleh si penyihir, namun bedanya Ziell di kenang oleh keposesifan sang Ayah yang membuat sang anak meminta kebebasan beberapa bulan ini.

__ADS_1


Mama Ella mengelus lembut putri kesayangan nya, tersenyum melihat wajah cantik sang anak. ''Sayang ... kau berhak bahagia, raihlah kebahagiaan mu sendiri. Mama selalu mendukung apapun keputusan mu."


Ziell tersenyum lalu memeluk sang Ibu. ''Makasih yaa, Mah.''


''Jadiii ... apa kamu mencintainya?''


Ziell yang di tanya seperti itu, jadi malu hingga kedua pipinya memerah. ''Ziell, baru mau membuka hati untuknya Mah. Ziell juga udah nyaman bangat sama Kak Sultan, dia itu baik banget ... nggak seperti si Evan!''


''Evan, siapa itu Evan?''


Ziell langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tidak mau membahas orang yang membuat ia sakit hati dan menorehkan luka padanya.


''Udahlah Mah, lupain aja. Oh iyaa mana baju nya?''


''Ini ... antarkan cepat, nanti calon menantu Mama masuk angin.'' Guyon Mama Ella.


''Ish, Mama ini.''


Ziell pun mengambil baju dari tangan sang Ibu, lalu melangkah ke luar kamar menuju kamar tamu untuk memberikan baju ganti pada Sultan.


Ziell mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada yang membukanya, ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu dan melihat kanan kiri namun tak ada Sultan di mana pun.


''Kak.'' Panggilnya.


Ziell pun masuk bersamaan pintu itu tertutup, yang ternyata Sultan ada di balik pintu dengan bibir menyungging. ''Kaaaak!'' Ziell terkejut melihat Sultan bertelanjang dada, dan hanya memakai handuk saja sampai pinggang.


Memperlihatkan tubuh kekar dan seksi dengan butiran air yang menetes dari rambut yang belum kering.


''Kau itu lama sekali! Pasti sedang menggosipkan ku, iya 'kan?'' tanya Sultan, sambil melangkah ke depan Ziell.


Sedangkan Ziell malah mundur saat merasakan jika dirinya sedang bahaya, sampai sampai Ziell tidak menyadari jika tubuhnya sudah mentok ke dinding.


''Kak! Jangan buat aku jantungan deh.'' Ucap Ziell sambil memejam'kan kedua matanya.


Sultan terus melangkah dan mengurung Ziell di dinding, hingga Ziell bisa merasakan harum sabun dari tubuh Sultan yang menggelitik dadanya.


''Kakak mau apa?''


Ziell mendorong dada bidang Sultan untuk sedikit menjauh, tapi kekuatan pria yang hanya memakai handuk di pinggang nya jauh lebih besar di bandingkan Ziell.


Tangan kekar milik Sultan perlahan menarik tengkuk dan pinggang ramping milik Ziell. Lalu bibir mereka perlahan mendekat dan bersentuhan, mencicipi rasa yang benar-benar membuat mereka kecanduan untuk melakukan nya lagi dan lagi.

__ADS_1


Bersamaan dengan Mama Ella, yang berada di luar kamar melangkah ke arah kamar tamu.


Adegan slowmotion pun terjadi ... dimana langkah Mama Ella di perlambat, sedangkan di dalam kamar tengah menikmati rujak bibir yang sangat manis untuk di nikmati..


''Kak, aku tidak bisa bernafas." Ziell menyudahi pergulatan bibir mereka.


''Makannya bernafas, kau itu terlalu bersemangat sekali mencicipi bibir bujangku.''


Hah apa? ingin sekali Ziell menjitak kepala Sultan saat berkata seperti itu. Kalau dia bujang, bagaimana dengan dirinya yang masih perawan? dan dia sendiri yang mencicipi bibir perawan nya.


Ziell cemberut merapihkan rambutnya yang acak acakan, penampilan nya seperti sudah lari marathon dari jarak yang cukup jauh.


Sedangkan Sultan mempertajam indra pendengaran nya, dan mendengar langkah kaki menuju ke depan pintu. ''Stttt ... kau dengar itu?''


Ziell mengangguk, mata mereka saling pandang dengan cemas dan khawatir.


Sedangkan di luar ...


Mama Ella berdiri di depan pintu kamar tamu dan ingin mengetuk pintu, namun belum juga tangan nya hendak mengetuk, pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya sang anak dari dalam.


''Astagfirullah, Mah.'' Ziell pura-pura terkejut, padahal ia sudah tau jika sang Ibu berada di luar kamar.


''Loh ... masih ada di dalam kamu, mana Sultan?'' tanya sang Ibu, mencoba untuk mengintip kedalam.


''Ah ... Kak Sultan masih ada di kamar mandi, Mah.'' gugup Ziell, padahal Sultan berada di balik pintu mendengarkan obrolan mereka.


''Mama, Mau ngapain?'' tanya Ziell memincingkan kedua matanya curiga. Sedangkan Mama Ella mengerutkan keningnya, melihat sang anak menatapnya seperti itu.


''Ada apa dengan mata mu? jangan mikir yang macam macam! Mama cuma mau ajak Nak, Sultan untuk makan malam.''


''Ouhh ... he he he ya udah kita tunggu di ruang tamu aja, Mah.'' Ziell menyeret tangan sang Ibu untuk pergi dari sana, bisa gawat jika sang Ibu melihat Sultan hanya mengenakan handuk saja.


Bisa bisa air liur sang Ibu menetes sampai tembus ke alam goib, melihat betapa sispex dan menggoda tubuh Sultan yang menggiurkan mata.


Sedangkan Mama Ella hanya pasrah dan mengikuti anaknya, sedangkan Sultan dengan terburu buru mengenakan pakaian nya agar tidak ada yang curiga.


Setelah selesai, Sultan pun keluar kamar dan menampilkan wajah biasa saja agar tidak di curigai.


Kini ... mereka bertiga makan di satu meja dengan hangat, penuh canda tawa tanpa rasa canggung menyeruak dalam setiap perkataan.


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2