Di Antara Kita

Di Antara Kita
Bab 53 : Pergi dari rumah.


__ADS_3

Di Antara Kitaβ€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Ke esokkan pagiβ€’


Di kediaman Bilal, semua orang sudah duduk dengan rapih menyantap sarapan mereka masing masing. Ada empat orang di ruang makan, namun hanya tiga orang yang bercengkrama dengan hangat tanpa beban.


Ziell memakan sarapannya dengan cepat, lalu mengelap mulutnya ketika selesai. ''Aku sudah selesai.'' ucap Ziell, berhasil membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan.


''Non, ini koper mau di taruh di mana?'' tanya sang Bibi sambil mendorong koper milik Ziell.


''Taruh saja di sana, Bi.''


''Lho sayang, kamu mau kemana?'' tanya Papah Agam yang bingung.


''Kembali ke Jakarta, Pah.'' Jawab Ziell berdiri dari duduknya.


Papah Agam yang mendengar itu sangat terkejut, ia langsung berdiri dan menghampiri putrinya. ''Nak, Papah pikir kamu ngga akan pergi ke Jakarta lagi. Kenapa nggak kerja di Bandung aja?''


''Ziell udah betah di Jakarta Pah, terlebih Ziell agak risih dengan adanya orang baru.'' Ziell melirik Guntur.


Papah Agam melihat kemana lirikan sang anak tertuju, ia pun memohon agar Ziell tinggal di sini bersamanya dan bekerja di kantornya.


Namun Ziell tidak mau apapun tawaran yang di berikan oleh sang Ayah, Ziell benar-benar tidak bisa berdekatan dengan Guntur. Hatinya terlalu sakit untuk mengingat semua yang sudah mereka lalui bersama.


''Papah mohon, Nak.''


''Nggak bisa Pah ... Ziell ingin mandiri.''


Guntur yang sudah selesai dengan sarapan nya, ia pun berdiri dan menghampiri Ayah dan anak yang tengah berdebat. ''Maaf, saya ikut campur ... tapi jika Ziell risih dengan ada saya di sini, lebih baik saya aja yang keluar Pak.''


''Tidak! Evan, saya sudah anggap kamu sebagian dari keluarga ku. Ziell Papah mohon jangan seperti ini.''


''Pah, tolong ngerti Ziell.''


Papah Agam menggertakkan giginya dengan kesal, menahan emosi yang akan keluar dari mulutnya. Anak perempuan satu satunya sekarang sudah tidak bisa di atur dan sudah bisa membantah apa yang dia katakan.


Namun Papah Agam juga tidak bisa mengurung terus sang anak yang sudah tumbuh dewasa. Papah Agam menghela nafasnya lalu membuang nafas dengan perlahan.


''Baiklah, Papah izinkan kamu pergi tapi dengan penampilan seperti dulu.''


''No!'' Ziell sedikit membentak, dan menolak keras permintaan sang Ayah.


''Ziell nggak mau jadi culun lagi dan menjadi bahan ejekan orang lain karna penampilan Ziell yang kampungan. Ziell akan pergi seperti ini dengan tampilan Ziell yang apa adanya.''

__ADS_1


''ZIELL!!


''Tidak Pah! Kali ini Ziell akan mengikuti kemauan Ziell sendiri dan Ziell nggak mau berpenampilan culun.''


''Kalau begitu kamu nggak boleh pergi!'' ancam Papah Agam.


''Di izinkan atau tidak! Ziell tetap akan pergi dan mencari kebahagiaan Ziell sendiri!'' Ujar Ziell, pergi membawa kopernya dengan cepat.


''Ziell. Ziell.'' Papah Agam berteriak memanggil nama anak kesayangan nya yang pergi membawa koper keluar dari rumah.


Sedangkan Mama Ella mencegah Papah Agam untuk menyusul Ziell, Karna dirinya setuju jika sang anak pergi mencari kebahagiaan nya sendiri.


Mama Ella yakin jika pria yang semalam mengantarkan anaknya, pasti akan menjaga Ziell dengan baik. Mama Ella memang baru-baru ini mengenal pemuda yang bernama Sultan, tapi dari sikap dan perilaku Sultan yang sopan membuat Mama Ella yakin jika Sultan adalah pria baik-baik.


''Sudahlah Pah! Sampai kapan kamu akan mengekang anakmu? biarkan dia hidup bebas, Mama yakin jika Ziell pasti menjaga dirinya dengan baik.''


''Tapi, Mah.''


''CUKUP, PAH!'' Sentak Mama Ella yang sudah habis kesabaran nya.


''Ini demi kebaikannya.''


"Kebaikan apa, Pah? kamu hanya menyiksa anak mu sendiri! Jangan egois dan mementingkan dirimu sendiri.'' Pekik Mama Ella, yang terus menghalangi suaminya untuk menyusul Ziell.


''Minggir, Mah!''


''Cinderella!'' Bentak sang suami.


''What! Ziell itu sudah berumur 24thn, dia berhak menentukan pilihan nya sendiri dan putriku berhak untuk bahagia!'' Teriak Mama Ella tak mau kalah pada suaminya.


''Minggir.'' Papah Agam mendorong Mama Ella namun tidak kasar, lalu ia berlari untuk menyusul anaknya.


''Baik, selangkah lagi kamu maju dan menghentikan Ziell! Maka, mulai saat ini juga kamu tidur di ruang tamu.'' Ancam Mama Ella yang berhasil menghentikan langkah Papah Agam.


Mama Ella menyunggingkan bibirnya, karna hanya dengan tidur terpisah yang selalu ia gunakan jika suaminya keras kepala dan tidak mau mendengarkan dirinya.


''Mamam, tidur di lantai.''Gumam Mama Ella tersenyum dalam hati.


Sedangkan Papah Agam mengepalkan kedua tangannya, dan menggertakan giginya dengan kesal. Ia benar-benar di ancam dengan kelemahan nya, hingga Papah Agam tidak bisa berkutik.


β€’


β€’


Sedangkan Guntur menyusul keluar dengan cepat dan menggedor kaca mobil milik Ziell yang sudah menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


''Ziell ... tunggu Ziell.'' Guntur menggedor kaca mobil.


Ziell yang melihat Guntur hanya mengerlingkan kedua matanya dengan malas, lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak perduli dengan Guntur yang mencoba untuk menghentikan dirinya.


Sedangkan Guntur menjambak rambutnya prustasi karna Ziell pergi, untuk apa dirinya di sini jika wanita yang dia inginkan memilih pergi.


''Sialan! Kenapa situasinya jadi runyam sih.'' Guntur menjambak rambutnya prustasi, lalu menghela nafas semalam dalamnya.


''Nggak bisa, gue udah sejauh ini ... gue yakin jika Ziell bakalan jadi milik gue.'' Gumam Guntur dengan pelan, lalu melihat rumah besar yang ada di depannya.


Guntur melangkah ke dalam rumah, dan melihat jika Papah Agam tengah duduk di sofa sambil memijat keningnya yang terasa pusing atas perlawanan sang putri.


Guntur yang melihat itu tersenyum misterius, karna si Ilham sudah memberikan dia inspirasi untuk membuat siasat yang lebih nekat agar Papah Agam menyutujuinya untuk menikahi Ziell.


Guntur dengan perlahan menghampiri Papah Agam dan menghiburnya, Guntur sangat yakin jika lambat laun pria paruh baya yang tengah ia hibur pasti akan luluh dengan dirinya.


"Sudahlah, Pak. lebih baik biarkan dulu Ziell pergi ... semakin Bapak kekang, semakin Ziell akan memberontak dan tidak betah di rumah."


"Kamu benar, ini semua salah saya yang terlalu mengekang dia terlalu ketat. Hanya karna saya tidak mau anakku di sakiti oleh seorang pria, hingga saya sendiri tanpa sadar sudah menyakiti nya."


''Sabar ya, Pak."


"Kau tau, Evan.'' Papah Agam menatap Guntur dengan senyuman hangat. "Saya hanya ingin menjaga putriku dari pria brengsek."


Glek...


Guntur menelan ludahnya dengan kasar. Pria yang sedang di bicarakan oleh Papah Agam kemungkinan adalah dirinya, dan sekarang tanpa Papah Agam sadari jika pria brengsek itu ada di depan matanya.


"Pak, dari mana bapak tau jika pria itu brengsek?"


"Saya hanya menduga, dan saya juga pernah sekali mencari tau keseharian nya yang sering menghburkan uang dan berfaya foya dengan para wanita di club. Cih, membuat aku jijik."


"Boleh aku tau siapa namanya?"


"Namanya? ha ha ha tidak perlu kau tau nama pria brengsek itu ... karna saya sangat yakin jika anak ku tidak akan berjodoh dengan nya." Ucap Papah Agam dengan mantap.


Namun lain halnya dengan Guntur, ia malah yakin jika dirinya adalah jodoh untuk Ziell. Dia hanya perlu meyakinkan Papah Agam bahwa dia adalah pria baik-baik yang pantas untuk mendampingi Ziell di seumur hidup Ziell.


Guntur sangat yakin, jika nanti Papah Agam sendiri yang akan meminta dia untuk menikahi anaknya. Karna dia akan membuat citra dirinya baik dan soleh di mata Papah Agam dan Mama Ella.


β€’


β€’


...πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2