Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Terus belajar


__ADS_3

“Ning Fatimah gak gerah pakai pakaian sebanyak itu di musim panas seperti ini?” tanya Amara ketika tahu bahwa wanita itu mengenakan dalaman panjang sebatas mata kaki, ditambah lagi kaos kaki yang menutupi kakinya, belum lagi dalaman dan hijab syar’i yang dipakai.


Amara memang telah berhijab, tetapi yang dia tahu hanya sekadar wajib menutup aurat.


“Mara, inilah pakaian yang sesungguhnya dianjurkan dalam ajaran agama Islam, yaitu pakaian syar’i yang lebar dan tidak mempertontonkan bentuk tubuh. Di dalam Al-Qur’an ada ayat yang isinya diperintahkan kalau kerudung dan hijab yang benar ya seperti ini. Ada dalam Surah An-Nur ayat 31 dan Surah Al-Ahzab ayat 59.”


Surah An-Nur ayat 31 isinya : Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kem@luannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.


Surat Al-Ahzab ayat 59 isinya : Allah memerintahkan pada Nabi Muhammad untuk menyeru kepada istri-istri, anak-anak perempuan, dan istri-istri orang mukmin agar menutup seluruh tubuhnya dengan jilbab.


“Menurut Kemenag (Kementrian Agama), pakaian yang jauh lebih baik daripada pakaian lahiriah yaitu pakaian takwa. Pakaian ini bersifat rohaniah yang dapat menghimpun segala kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Riwayat Abu Ya’la dari Abu Sa’id : ‘Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya takwa itu menghimpun segala kebaikan’. Menurut surah Al-A’raf ayat 26 pakaian yang paling baik di mata Allah SWT adalah pakaian takwa. Sebagaimana firmanNya berikut ini : ‘Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu, tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat’. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menutup aurat dan tidak berlebihan dalam berpakaian.”


Fatimah menjelaskannya panjang lebar dengan senyuman khas yang membuat lesung pipit di kedua pipinya terlihat.


“Berarti pakaianku ini tidak benar?” tanya Amara menatap dirinya sendiri.


“Semuanya melalui proses dan tidak ada yang instan, Mara. Semakin hari kamu pasti akan mengerti tanpa harus merasa dituntut atau dipaksa.”


Tidak ada yang boleh menghakimi atau mencela orang lain yang belum berhijab. Manusia itu tugasnya mengingatkan, bukan menjadi panitia surga yang akan menentukan akhirat seseorang.


Manusia yang baik tidak akan menghakimi kesalahan orang lain dan membenarkan dirinya sendiri.



__ADS_1



Pagi ini matahari lumayan cerah. Amara sudah mulai menyesuaikan diri selama satu bulan tinggal di sana.


Aktivitasnya diawali mulai pukul empat pagi sampai pukul sepuluh setelah belajar dengan ustadz dan ustadzah yang ada di sana. Lalu dia akan membantu adik-adik panti sebentar sebelum waktu zuhur.


Selepas salat dan makan siang dia akan istirahat sebentar sebelum sore harinya kembali belajar dengan Fatimah. Usai salat isya dia akan belajar bersama dengan Umi Rahma hingga pukul sembilan malam.


Begitulah rutinitas terjadwal yang setiap hari dilakukan. Walaupun awalnya sulit, tetapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.


Perlahan Amara mulai kembali membuka diri dan mulai banyak tersenyum. Walaupun sikapnya masih sering tertutup, tetapi cukup membawa perubahan besar pada dirinya.


“Nak Mara betah tinggal di sini?” tanya Ustadz Yusuf saat berpapasan dengannya.


“Alhamdulilah, semoga semakin baik ke depannya.”


“Aamiin.”


Selepas isya, Amara duduk bersama dengan Umi Rahma di ruang tamu dengan alas karpet bulu yang nyaman.


Mereka akan belajar tentang ilmu-ilmu kehidupan, pernikahan dan lainnya. Umi Rahma seseorang yang memiliki sikap keibuan, mengayomi dan selalu rendah diri.


“Masih sakit?” tanya Umi Rahma yang melihat wajah Amara intens.


“Rasa itu masih ada, itu yang membuatku sakit.”

__ADS_1


“Mau sampai kapan, Nak? Hidup itu terus berjalan, kesedihan dan bahagia silih berganti menghampiri. Jangan terlalu meratap sesuatu yang gak berguna, itu hanya akan membuang tenaga dan pikiran.”


“Dia tidak mau hilang dari kepalaku, Umi. Aku selalu katakan pada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu, tapi mengapa sulit sekali. Bahkan waktu telah menghapus jarak dan hubungan ini, tapi kenapa waktu gak mampu menghapus perasaan ini?” Amara menunjuk dadanya yang berdenyut nyeri.


“Penyakit yang paling berbahaya adalah pikiran, dari sana penyakit hati muncul. Cobalah untuk mengalihkan perhatian dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat.”


Amara menunduk dan terisak pelan.


“Dia pria yang sudah beristri, dia juga bukan pria yang halal untuk kamu pikirkan lagi.”


“Aku harus apa, Umi?”


“Cinta itu datangnya karena Allah. Dia yang maha membolak-balikkan hati manusia, maka mintalah padaNya untuk menghapus perasaan yang kamu miliki. Cintai manusia sewajarnya saja, jangan mencintai ciptaannya melebihi cintamu kepada Sang Pencipta.”


Amara mengangguk. “Semoga aku bisa melakukannya, Umi.”


“Level tertinggi dari mencintai adalah ikhlas melepaskan. Menerima apa yang terjadi tanpa bertanya dan menyalahkan siapa pun. Sebab kamu yakin bahwa semua yang telah terjadi sudah kehendak Allah.”


To Be Continue ....


...♡♡♡...


...Notes : Semua yang aku tulis, sumber dari detikedukasi. Jika ada yang salah, mohon dikoreksi dan diluruskan....


...Novel ini tidak bermaksud menyingung siapa pun atau merajuk pada pihak mana pun....

__ADS_1


__ADS_2