Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Merestui


__ADS_3

Hari dimana Nadira akan bertemu dengan sandra pun tiba, meski dengan perasaan cemas, Nadira tetap yakin karena melihat kepercayaan yang luar biasa yang Liam tanamkan. Liam menginjak rem begitu tiba di depan restoran tempat yang sudah Liam janjikan  dengan orang tuannya. Dengan menggengam erat tangan Nadira, mereka berjalan bersama menuju sebuah ruangan private yang sengaja Liam booking untuk kenyamanan pertemuan orang tua dan juga calon istrinya.


Berdirilah Nadira yang menunduk kan kepala menyapa sandra yang sudah lebih dulu tiba. Ada rasa enggan untuk Nadira menujukan kembali wajahnya, ia takut dengan reaksi dari sandra begitu melihat perut besarnya. Namun tanpa Nadira sadari sandra sudah lebih dulu datang dan segera memeluk erat Nadira dan menanyakan kabarnya, seraya memberikan kode dengan matanya di balik punggung Nadira kepada Liam.


Jika di katakan terlkejut, Sandra sangat amat terekjut, ternyata calon istri dari anaknya telah berbadan dua, sebetulnya Sandra tidak mempermasalahkan dengan kehamilan Nadira, bahkan ia sangat senang melihatnya, karena ia merupakan seorang yang senang melihat ibu hamil. Namun yang menjadi kekhawatiran Sandra adalah sikap anaknya yang sama dengan sang adik, dan itu cukup membuat Sandra malu untuk menghadapi para kerabat yang pada saat itu mengetahui.


Liam sangat tahu bahwa ada tanda tanya besar di benak sang mama, namun Liam hanya mengusap pundak sang mama, meminta mamanya tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh.


Pertemuan Nadira di awali dengan ketegangan, namun semakin lama semakin mencair, bahkan terdengar gelak tawa dari pertemuan mereka. Sandra pun demikian, dia hanya akan menunggu penjelasan dari sang anak, dan memulai pertemuan mereka tanpa membahas tentang masalh pribadi anaknya.


"Mam, hari minggu jadwal Nadira kontrol kandungannya, mama mau ikut?" Tanya Liam mulai membeicarakan tentang hal pribadi dan sensitif.


"Benarkah mama boleh ikut?" Sandra terlihat antusias, dia merasa yang ada di dalam kandungan Nadira adalah cucunya sendiri.


"Boleh dong tan." Kini giliran Nadira yang menimpal.


Namun begitu Nadira memanggilnya tante, Sandra segera meeralatnya, dan meminta untuk di panggil mama seperti panggilan Liam untuknya. Karena sebntar lagi Nadira akan menjadi anak menantunya.


Nadira hanya tersipu, panggilan itu sudah lama tak ia gunakan untuk memanggil Sandra, rasanya kembali seperti bertahun tahun lalu, saat dirinya masih menjadi kekasih dari Liam.


"Kalau mama boleh tahu, kandungan kamu sudah masuk usia  berapa bulan?" Tanya Sandra yang sudah ingin banyak bertanya mengeenai kehamilan Nadira.

__ADS_1


"Memasuki 8 bulan mam." Jawab Nadira seraya mengelus perutnya.


"Mama bisa bertanya banyak hal...." Tambah Liam di barengi tawa renyah dari mamanya, sepertinya Liam sudah mengetahu bahwa Sandra sudah ingin mengetahui banyak hal.


            *****************************


Setelah mengantarkan Nadira menuju apartemen, Liam kembali menemui Sandra di rumhnya, karena Liam masih memiliki utang penjelasan kepada Sandra.


Liam mulai menceritakan semuanya, dari pertama ia memutuskan untuk berteman dengan Nadira, dan sampai ia yang merawat Nadira di saat-saat Nadira hamil muda, bahkan Liam juga menceritakan mengapa sampai Nadira bercerai dengan Bagas, tentang penyakit Bagas dan tentang semuanya, sampai ia yakin untuk menjadikan Nadira wanita masa depannya.


"Syukurlah jika bukan kamu yang menghamili Nadira, setidaknya anak yang Nadira kandung memilki ayah yang jelas." Ucap sandra menanggapi.


"Seperti yang aku pernah katakan, bahwa aku tidak akan menikah kecuali dengan Nadira, itu adalah kenyataanya. Dan mungkin iini adalah buah dari kesabaranku."


"Ajak Nadira makan malam di rumah, kamu harus memperkenalkannya secara resmi kepada papa dan mama." Ucap Sandra sebelum Liam pergi untuk pulang.


Keesokan harinya, Sandra sudah berdiri di depan apartemen anaknya dengan membawa makanan yang sengaja ia buat sepesial untuk Nadira, bahkan sandra datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Mama, sendirian?" tanya nadira begitu membuka pintu apartemennya. Nadira mengira Sandra datang bersama Liam.


"Kamu pasti belum makan siang, mama sengaja datang untuk membawakan kamu ini." Sandra segera mengeluarkan isi barang bawaannya, bahkan Sandra sendiri yang menyiapkan semuanya di meja makan.

__ADS_1


"Kabari Liam, tidak usah pulang untuk membawakan kamu makan, juga katakan bahwa kita berdua akan pergi belanja kebutuah bayi." Ucap sandra meminta Nadira segera menghubungi Liam,


Nadira merasa tersentuh mendapatkan perhatian seperti itu, apalagi dari seorang ibu yang ibunya sendiripun tak memperhatikannya, jangankan dengan kehamilannya, tentang perceraiannya pun mereka tak banyak membahasnya.


"Mam, Liam yang akan mengantar kita belanja kebutuhan bayi, dia memaksa ikut."  Ucap nadira setelah mengabari Liam prihal kedatangan Sandra ke apartemen.


Nadira menghabiskan makanbuatan Sandra sebelum bersiap untu berbelanja, kebetulan Liam sudah datang untung mengantarkan mereka, Liam sengaja menunda rapat untuk bisa menemani Nadira belanja keperluan untuk anaknya, karena dia tidak ingin kehilangan momen penting di setiap kehamilan Nadira.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan yang cukup besar di daerahnya, dan mulai mencari apa yang akan mereka beli, terutama Sandra yang sudah lebih dulu masuk dan memilih apa sekiranya yang di butuhkan bayi baru lahir, Liam dan Nadira sangat mendengarkan semua ucapan Sandra, sebab yang lebib berpengalaman tentu saja Sandra, semua yang menurut sandra akan si butuhkan sang bayi mereka beli, bahkan saking semangatnya Sandra justru banyak membeli apa yang menurut Liam tak perlu dibeli. Karena Liam sudah membaca buku mengenai hal itu, apa saja yang harus di beli dan tidak, lama pemakaian dan sampai hal terkecil, Liam masih mengingatnya


Sementa menunggu kedua wanitanya memilih, Liam pun tak ingin hanya melihat saja, ia kemudian mencari sesuatu untuk di jadikan kado pertamanya begitu anaknya lahir. Dia yang sudah menemani sepanjang kehamilan, ingin memberikan sesuatubyang special bagi sang anak juga membelikan sesuatu untuk Nadira karena telah melahirkan putrinya yang cantik.


Liam sudah menemukan sesuatu yang akan ia berikan untuk Nadira juga anaknya, kemudian ia meminta pelayan store tersebut untuk membungkusnya, dan minta di kirimkan ke kantornya, karena ia tak ingin Nadira mengetahui bahwa dirinya membeli sesuatu yang akan di hadiahkan untuk Nadira juga anak mereka.


"Apa sudah semua?" Tanya Liam kepada mamanya.


Sandra mengiyakan, dan kini tugas Liam untuk membayar seluruh belanjaan yang sangat banyak itu.


"Tunggu dulu," Cegah Nadira menhan troli di tangan Liam.


"Apa ini tidak terlalu banyak?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Tidak sayang, ini semua yang kamu dan anakmu butuhkan." Jawab Sandra meminta Liam segera pergi untuk membayar.


Nadira merasa belanjaanya terlalu banyak, bahkan ia ragu apa anaknya akan memakai semua itu, Namun Sandra tetap bersikukuh karena anaknya adalah anak pertama sehingga banyak yang harus di beli. Dan meminta agar Nadira mengikuti apa katanya.


__ADS_2