Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Lamaran


__ADS_3

Tiga hari kemudian sesuai janjinya, Akram datang bersama kedua orang tuanya ke rumah Amara, mengutarakan niat baiknya yang ingin meminang wanita itu.


Sambutan baik diterima sang pemilik rumah karena sebelumnya Amara telah memberikan info.


Awalnya Raisa terkejut dengan pengakuan tiba-tiba yang dilontarkan Amara, karena dia tak pernah mengatakan apa pun perihal pria yang akan melamarnya.


Namun, saat nama keluarga pria yang akan melamarnya disebut, Adnan langsung mengangguk dan mengatakan bahwa Keluarga Arsalan memang cukup terkenal dalam kalangan pebisnis.


Adnan langsung setuju dan meminta istrinya mempersiapkan segalanya. Namun, saat berdua Raisa bertanya banyak hal pada putrinya. Dia hanya takut bahwa pilihan yang diambil hanya sebagai pelampiasan atas kekecewaan di masa lalu.


Sekali lagi Amara harus meyakinkan ibunya bahwa keputusan itu telah melalui berbagai pertimbangan, bukan sekadar pelampiasan seperti yang dipikirkan.


Amara dan Akram duduk saling berhadapan. Keduanya saling mencuri pandang dengan perasaan gugup dan bahagia yang hinggap bersamaan.


Ahmad Arsalan segera mengutarakan niat dan inti kedatangannya untuk melamar putri mereka, Amara Khaira Shaza untuk menjadi istri dari putra mereka, Hanif Akram Arsalan.


“Saya sebagai orang tua menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada putri kami. Kami sebagai orang tua hanya mampu mendukung kebahagiaan yang mereka pilih. Insya Allah semoga calonnya juga bisa membimbing menuju kebaikan,” kata Adnan dengan tegas dan berwibawa.


“Bagaimana, Nak? Bersediakah kamu menjadi menantu dan istri dari anak kami?” tanya Azizah begitu antusias. Sejak pertemuan mereka di mall kala itu, dia sudah tahu bahwa putranya menaruh hati.

__ADS_1


Amara mengepalkan tangan dengan gugup, dia mendongak sejenak untuk menatap kedua orang tuanya, kemudian beralih menatap pria yang duduk di seberangnya.


“Boleh saya mengajukan pertanyaan untuk Mas Akram?” tanyanya dengan suara lembut mendayu.


“Silakan. Aku akan menjawabnya, Mara.” Akram mengangguk dengan hati cemas menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan.


“Menurut Mas Akram pribadi, lebih penting mana kewajiban dunia dengan kewajiban untuk akhirat kelak?”


Kedua orang tua Amara tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Benar-benar tidak menyangka pertanyaan yang dilontarkan justru yang tidak berkaitan dengan pernikahan dan masa depan.


“Keduanya sama pentingnya. Kewajiban dunia atau akhirat haruslah seimbang, karena kita masihlah hidup di dunia dan ada tanggung jawab yang harus dilakukan. Sejujurnya kita diciptakan juga untuk beribadah dan memperbanyak kebaikan untuk di kehidupan selanjutnya. Bicara soal akhirat, wallahu a’lam ... kita manusia yang masih hidup gak akan tahu apa yang akan terjadi nanti, kita hanya bisa berusaha untuk mencari ridha-Nya sebanyak mungkin.” Akram menjawab begitu lugas tanpa kesulitan. “Sesungguhnya kita hidup di dunia untuk mempersiapkan akhirat. Dunia itu ladang akhirat, bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat. Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik, begitu pula sebaliknya.”


Bukan hanya Amara saja yang terpesona dengan kalimat panjang lebar dari Akram. Pun Adnan dan Raisa yang tampak begitu serius menyimak. Keduanya mulai kagum dengan sikap yang dimiliki Akram sehingga membuat mereka yakin bahwa pria itu adalah calon suami yang tepat untuk putrinya.


Amara mengangguk dan tersenyum puas. Dia bertanya lagi untuk pertanyaan selanjutnya. “Jika sudah menikah nanti, lebih utama mana antara orang tua dan istri?”


Pertanyaan itu membuatnya mendapatkan tatapan dari Azizah dan Raisa yang sedikit terganggu.


Bukan salahnya bertanya seperti itu. Terkadang ada beberapa pasangan yang setelah menikah, lebih mengutamakan orang tua dan menelantarkan istrinya.

__ADS_1


Bukankah itu tidak adil?


“Orang tua adalah anugerah, istri adalah pilihan. Aku ataupun kamu adalah seorang anak yang wajib berbakti pada orang tua. Tanggung jawabku pada kamu sebagai suami yang wajib menafkahi dan tanggung jawabku berbakti pada orang tua sebagai anak. Keduanya harus seimbang,” jawab Akram kembali dengan yakin.


Amara mengangguk dan berterima kasih atas jawaban yang telah diberikan. Keduanya saling tatap dan saling melempar senyum.


Amara puas dengan jawaban yang didengar. Meskipun bukan dari keturunan keluarga agamis, tetapi pemahaman agama dari pria itu dan keluarganya cukup baik dan bijak.


Semoga dia adalah pria salih yang taat dengan agama-Nya.


“Sudah puas dengan pertanyaan dan jawabannya, Nak? Kalau belum silakan tanya lagi,” kata Ahmad Arsalan diiringi kekehan pelan.


“Sudah cukup.” Amara mengangguk sopan pada pria paruh baya itu.


“Jika memang sudah gak ada yang ditanyakan, bolehkah sekarang aku yang bertanya?” tanya Akram sambil menatap ke arah Amara dan semua orang yang mengangguk.


“Amara Khaira Shaza ... di depan orang tuamu dan kedua orang tuaku, aku datang dan duduk di sini untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan mendalam yang bertujuan untuk menjalankan sunnah Rasul yang begitu mulia. Menuangkan perasaan dan cinta dengan semestinya, serta menuangkan rindu menjadi sebesar-besarnya pahala. Yang aku tahu, sebaik-baik perhiasan adalah wanita dan istri yang salihah. Wanita itu sudah aku dapatkan yakni ibuku. Maka selanjutnya, maukah kamu menjadi istri salihah yang akan menemaniku membangun cinta dalam ikatan suci yang diridhoi oleh-Nya?


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2