
Liam sangat hati-hati membawa mobilnya, karena kini ia sedang bersama seorang ibu hamil. Begitu juga saat mereka sampai di depan Nadvilla, Liam membantu Nadira menaiki kursi roda bahkan ia dorong sampai masuk kedalam kamarnya, Ia senang melakukan hal itu, ia bahakan sangat antusias saat akan membuat makanan sesuai apa yang di resepkan dokter.
"Kamu istirahat saja dulu, aku akan membuat makanan untukmu." Ucap Liam membantu membaring Nadira di atas kasur.
"Tidak usah, aku bisa pesan makanan saja, Kamu juga perlu istirahat, terimakasih untuk hari ini." Ucap Nadira tidak ingin terlalu membebankan Liam, karena sejak pagi Liam sudah menemaninya, bahkan Liam meninggalkan semua urusannya.
"Biarkan aku yang pesan, setidaknya aku harus lihat kamu makan sebelum aku pulang." Balas Liam, ia tidak ingin jika Nadira melewatkan makannya sampai pingsan lagi.
Liam kemudian keluar untuk memesan makanan, setidaknya ia akan memastikan bahwa makanan yang di buat untuk Nadira adalah makanan terbaik.
Semenatara Liam pergi, nadira berusaha untuk menghubungi ponsel suaminya, yang sejak tadi sulit untuk di hubungi. Karena Nadira ingin segera membagikan kabar bahagia ini kepada suaminya. Namun nampaknya sampai sekarangpun ponsel Bagsa belum bisa dihubungi, akhirnya Nadira menelphon Anggun untuk menanyakan keberadaan suaminya.
Rupanya, nadira harus sedikit bersabar menunda berita bahagianya untuk sampai di telinga Bagas. Ia sudah membayangkan betapa bahagianya Bagas begitu mendengarnya.
Tak lama datang Liam dengan membawa makan malam, Begitu masuk Liam melihat Nadira nampak sedih, dengan memegang ponselnya.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Liam seraya memberikan makanan yang di bawanya kehadapan Nadira.
"Bagas iam, sejak tadi ponselnya tidak bisa di hubungi." Jawab Nadira mengambil piring dari tangan Liam.
Tiba-tiba Nadira merasa perutnya bereaksi, setelah mencium aroma dari piring berisikan makanan yang sedang di pegangnya. Aroma yang seharusnya membangkitkan selera makan, justru membuat Nadira mual, ia kemudian segera menyimpan makanan tersebut diatas meja dan segera berlaari menuju kamar mandi.
Liam yang terkejut segera menghampiri Nadira di dalam kamar mandi, ia melihat Nadira sedang memuntahkan isi dalam perutnya yang hanya berupa cairan, sebab ia belum memakan apapun yang bersifat padat, hanya vitamin yang dokter brikan melalui selang infusnya sewaktu di rumah sakit.
Sambil terus menepuk pelan punggung Nadira, Liam juga membantu memegangi rambut Nadira yang terurai. Tidak ada perasaan jijik ataupun tak nyaman melihat Nadira, justru Liam merasa berguna berada di dekat Nadira, bisa membersamai Nadira di saat seperti ini adalah suatu hal yang Liam syukuri.
__ADS_1
"Apa sudah baikan?" tanya Liam seraya membantu nadira untuk kembali berbaring di atas kasaurnya.
Nadira mengaggu lemah, ia hanya bisa berbaring lemas setelah mengeluarkan semua rasa mualnya.
Liam kemudian menyingkirkan makanan tadi, membawanya jauh dari hadapan nadira. "Kamu tunggu disini, aku akan buatkan makanan. yang pastinya kamu tidak akan merasa mual, setidaknya perut kamu harus di isi meski hanya sedikit." Ucap Liam, yang kemudian mengusap pucuk kepala Nadira, lalu pergi untuk kembali menuju dapur resto Nadvilla.
Liam mulai mengumpulkan bahan makanan yang akan dimasaknya sesuai tips yang diberikan dokter kepadanya, memasak bukanlah hal baru bagi Liam, ia sudah melakoni ini sejak ia hidup mandiri jauh dari orangtuanya. sehinga ia sudah terbiasa dan bahkan lihai dalam menggunakan semua lat-alat dapur. tak butuh waktu lama, makanan masakannya selesai, ia sangat senang dengan hasilnya dan yakin akan bisa di terima perut Nadira.
Dengan langkah riang, Liam kembli ke kamar Nadira, dari pintu ia sudah melihat senyum nadira yang seolah menanti kedatangannya. Liam kemudian memberikan makanan tersebut kepada Nadira, sempat ada rasa khawatir jika ternyata tips dari dokter tidak bekerja, maka dia akan bingung untuk mencari cara agar nadira bisa menerima makanan. Namun nampaknya usahanya berhasil,karena suapan pertama lolos masuk kedalam mulut Nadira.
"Bagaimana caranya, aku tidak merasakan mual sama sekali." Ucap Nadira menikmati makannya.
"Habiskanlah, aku akan membuat ini setiap hari." Liam sangat senang, karena melihat Nadira sangat lahap. padahal makanan itu sama dengan makanan yang sebelumnya, hanya ada beberapa yang dikurangi.
*********************
setelah mendaptkan yang dicari, Liampun pulang.
Sesampai di rumah, Liam melihat kedua sahabatnya masih di depan laptopnya, rupanya kedua sahabatnya masih bekerja, sementara Liam medaratkan dirinya di atas kursi, dan mulai membaca buku yang baru saja di belinya.
"Dari mana saja seharian ini?" Tanya tristan yang dia sendir sudah tahu jawabannya, karena jawabannya tertulis di wajah ceria Liam.
"Bu Dira baik-baik sajakan?" kini giliran Boy yang bertanya, karena tadi pagi Liam pergi setelah menerima telphon dari Nadira.
"Aku harus mengantar Nadira ke rumah sakit." Jawab Liam singkat.
__ADS_1
"Bu Dira sakit apa?" Tanya tristan yang merasa bersalah karena salah menudga, ia pikir Liam dan Nadira seharian ini bersenang-senang.
"Adalah, pokoknya dia sudah baik-baik saja." Liam tak terlalu menanggapi pertannyaan dari kedua sahabatnya, karena ia sedang fokus membaca.
Boy yang penasaran karena liam tak terlalu serius menanggapi pertanyaannya sedangkan yang mereka bahas adalah tentang Nadira, yang biasanya Liam selalu semangat jika bercerita mengenai Nadira. datang menghampiri meja Liam, untuk melihat apa yang sedang Liam baca sampai begitu fokus.
"Hal yang harus di hindari ibu hamil, yang suami harus tahu'." Ucap Boy membaaca buku yang tergeletak di meja Liam.
Liam segera merebut buku itu dari tangan Boy,dan menyimpan semua buku di dalam laci kerjannya. lalu melanjutkan membaca, tanpa menjelaskan apapun, padahal Boy sedang menatap tajam kearahnya.
Tak hanya Boy, tristan yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya melirik tajam kearah Liam. "Untuk apa kamu membeli buku-buku itu?": tanya tristan kemudian.
"Ayo iam, kita butuh penjelasan, apa kamu akan diam saja seperti ini," Ucap boy melanjutkan.
Lim benra-benra kehilangan fokusnya, ia kemudian menutup bukunya dan menatap kedua sahabtnya. Mau tidak mau ia harus menjelaskan kepada mereka.
"Nadira sedang hamil." Jawabnya singkat, dan kembali membuka buku dan lanjut membaca.
Rupanya kedua sahabtnya tak puas menedengar jawaban dari Liam, karena Liam tidak ada hubungannya dengan kehamilan Nadira, sampai harus membeli banyak buku tentang kehamilan.
"Lalu mengapa harus kamu yang mempelajari buku-buku itu, kamu bukan suaminya." Ucap tristan. ia miris melihat sikap Liam akhir-akhir ini, ia melihat liam seperti terobsesi dengan Nadira. jika hal ini di teruskan ia khawatir Liam tidak bisa lepas dari nadira,
"Apa salahnya,? setidaknya aku tahu dasarnya, karena disini Nadira tidak memiliki siapapun selain aku. aku merasa berkewajiban untuk melindungi Nadira" Jawab Liam mulai kesal, karena setiap topik tentang Nadira pasti di akhiri dengan ketegangan,
"Kamu benar, memang tidak ada yang salah, tapi kamu berlebihan." Ucap tristan yang kemudian pergi kedalam kamarnya meninggalkan Liam. Boy yang sedari tadi hanya diam di perdebatan kedua shabatnya, hanya bisa memberi semangat dengan menepuk bahu Liam, dan kemudian ikut pergi menyusul tristan.
__ADS_1
"Arrgghhh...." Liam melemparkan buku keatas mejanya, ia kehilanagn selera membacanya. karena ia kesal dengan tristan yang tidak mengerti dengan apa yang di inginkannya, dengan tujuannya. ia hanya berharap kedua sahabtnya bisa menerima dan mendukungnya. meskipun tidak setuju dengan tujuannya, setidaknya tidak mengomentari dengan apa yang dilakukannya.