
“Mas Akram kok di sini? Mau ketemu sama orang juga kah?” tanya Amara memasang wajah terkejut saat melihat sosok suaminya.
“Iya,” kata Akram tak sepenuhnya berbohong. Dia datang untuk menemui istrinya, tidak salah, kan? Amara juga orang, bukan makhluk tak kasat mata.
“Ini aku mau selesai. Mas Akram pesan saja nanti kalau sudah aku nyusul dan temani kamu.”
Obrolan sepasang suami istri itu terdengar begitu manis. Mereka saling melempar senyum yang membuat salah satu pria itu mengepalkan tangan di bawah meja. “Tidak perlu, Bu Mara. Ajak sekalian suaminya duduk, kita sudah selesai membahas pekerjaan,” kata Wahyu dengan mata yang menatap Akram tajam.
“Tidak perlu, Pak.”
“Biarkan Pak Akram duduk di sini, Bu. Saya lagi nostalgia pengen ketemu teman lama.” Senyum pria itu tampak misterius.
“Terima kasih undangannya, Pak Wahyu.” Akram masih terlihat santai dan mengambil tempat duduk di samping istrinya.
“Anda tidak perlu sungkan, Pak Akram. Bukankah kita teman lama?” Wahyu melemparkan kalimat yang membuat Amara seketika menegang dengan raut terkejut.
Teman lama?
Jika memang benar mengapa Akram tak mengatakan yang sebenarnya dan jujur pada Amara.
Akram tersenyum tak terintimidasi sama sekali. “Sejak kapan kita berteman? Saya tahunya selama ini Anda menganggap saya rival yang selalu mengalahkan Anda.”
“Anda bisa saja.” Wajah Wahyu sudah merah padam menahan kesal, tetapi bibirnya tetap terkekeh pelan.
Amara meminta sang suami menghentikan perdebatan. Kebetulan Amara memesan banyak makanan, hasilnya dia akan makan berdua dengan suaminya saja daripada harus menunggu lama lagi untuk memesan yang baru.
Suasana di antara meja mereka tampak berbeda. Saat matanya mendongak dia melihat suami dan pria itu saling pandang dengan tajam dan penuh permusuhan.
“Darimana Pak Wahyu mengenal suami saya?” Amara menyesali pertanyaan itu. Ralat ... seharusnya dia bertanya kenapa mereka bisa saling kenal. Jika seperti ini terlihat sekali dirinya yang seolah tidak tahu apa pun tentang suaminya sendiri.
Wahyu tersenyum. “Saya mengenal suami Anda luar dan dalam, Bu Mara.” Ada kalimat yang tersirat meskipun tak terucap.
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Anda bisa bertanya pada suami Anda.”
Amara menoleh ke Akram yang menggelengkan kepala dan menatap dingin seolah berkata, “Nanti saja bicara di rumah.”
“Sudah selesai, kan?” tanya Akram yang disambut anggukan kepala. “Aku antar ke kantor.”
Mereka berpamitan dengan sopan, tak lupa Akram membayar semua tagihan makanan itu.
Akram tidak mau menduga-duga tentang kedatangan pria itu setelah sekian lama. Hanya saja perasaannya mengatakan ada yang tengah direncanakan dan dia hanya ingin hati-hati.
Apalagi jika itu menyangkut Amara, istrinya.
♡
♡
♡
Sore tadi saat Akram ingin menjemput istrinya, ada sedikit masalah di kantor yang harus diselesaikan, membuatnya harus meminta sopir menjemput istrinya dan membawanya ke kantor.
“Tunggu sebentar lagi, ya. Tinggal dikit kok.”
Amara mendengus pelan dan menutup mata lelah. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dia bahkan harus mandi dan salat magrib di kantor karena suaminya yang tak mengizinkannya pulang lebih dulu.
“Sudah, ayo pulang. Maaf, ya.” Akram merasa bersalah karena telah menyusahkan istrinya. “Kita cari makan sekalian saja, kamu pasti lapar.”
Setelah meninggalkan kantor mereka mampir di salah satu warteg pinggir jalan yang sangat ramai karena memang dikenal dengan cita rasa yang lezat.
“Samakan saja sama kamu, Mas,” kata Amara sebelum ditanya.
__ADS_1
Keduanya makan malam dengan lahap, sesekali menjadi pusat perhatian karena penampilan keduanya yang sangat rapi dan jelas mewah. Namun, yang membuat mereka mendapat lirikan ya karena visual keduanya yang sangat mengagumkan.
“Gak pernah makan di pinggir jalan?”
“Sembarangan. Aku gak pilih-pilih makanan asal perutku bisa terima di manapun oke saja sih.”
Amara tersentak saat merasakan tangan Akram menyentuh sudut bibirnya lembut. Wajah lembutnya tersenyum begitu manis. “Gak perlu buru-buru.”
“Sudah ih, malu dilihatin orang. Lihat kita jadi pusat perhatian lho,” bisik Amara pelan.
“Makannya pelan-pelan, nanti tersedak.”
Amara hanya mengangguk dengan rona merah di kedua pipinya.
Katanya lelah, pegal dan ngantuk, tetapi nyatanya selepas makan Amara justru mengajaknya mampir ke taman dan bersantai di sana hingga tengah malam. Menikmati suasana ramai oleh para muda-mudi yang tengah menikmati malam Minggu.
Alhasil Akram harus melepas jas dan hanya memakai kemeja yang dua kancing atasnya terbuka. Sesuai permintaan istrinya.
Sementara Amara juga melakukan hal yang sama, dia melepas blazer yang dipakai dan menggantinya dengan sweater yang kebetulan ditemukan di mobil.
“Pacaran kita, Mas?” tanya Amara melihat
“Pacaran versi halal,” jawab Akram terkekeh pelan.
Keduanya menikmati malam seperti sepasang kekasih, tanpa takut jika harus berpegangan tangan atau melakukan hal lebih.
“Tetaplah selalu percaya padaku apa pun yang terjadi, Mara.”
Seketika Amara menoleh dan menatap intens suaminya dengan pandangan menyelidik.
Ada apa?
__ADS_1
Apakah ada yang disembunyikan oleh Akram?
To Be Continue ....