Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Rencana Claudia


__ADS_3

Akram berusaha menahan diri dan amarah ketika melihat sikap kurang ajar yang dilakukan Claudia. Dia berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan berharap segera enyah dari sini. Kembali menemui istri dan calon anaknya. Kerinduan dalam dadanya sudah tak mampu terbendung, meski setiap malam mereka selalu melakukan panggilan video.


“Mau ke mana Pak Akram? Anda gak mau menemani saya makan siang kah? Sayang sekali, saya akan kesepian,” ujar Claudia dengan suara mendayu. Namun, di telinga Akram tampak begitu menjijikan.


“Silakan makan siang dengan asisten saya jika Anda gak keberatan. Dia bisa menemani Anda yang kesepian,” balas Akram datar dan pergi begitu saja.


“Ngapain kamu masih di sini? Berharap aku mau makan siang denganmu? Cih! Jangan mimpi,” bentak Claudia pada Hakim yang masih berdiri di tempatnya. Bentakan itu menyadarkan lamunan panjangnya.


“Saya juga gak berniat menemani Anda, Bu Claudia.” Hakim pergi dengan langkah lebar. Meninggalkan Claudia dengan umpatan dan caci maki yang sangat kasar. Andai tidak ingat jika wanita itu adalah klien yang tetap harus dihormati, sudah pasti Hakim ingin sekali mengomentari perangai buruknya.


Akram sudah menunggu di mobil dan menoleh saat Hakim masuk dengan wajah kesal.


“Kenapa?”


“Bukan apa-apa, Pak. Hanya sedikit kesal dengan klien yang satu ini. Sangat keterlaluan!”


Akram mengangguk setuju.


“Apa Anda gak terganggu dengan sikapnya? Dia terlalu rendahan menjadi putri Pak Galih. Sangat gak pantas,” gerutu Hakim dengan kata-kata yang lumayan pedas.


“Sudahlah. Jangan kotori lisanmu untuk bicara buruk,” balas Akram sambil meminta Hakim melajukan kendaraannya untuk mencari tempat makan.

__ADS_1


Sambil menikmati makan siangnya, sesekali dia mengobrol dengan Hakim untuk menanyakan tentang pekerjaan yang telah menunggu. Lepas makan siang mereka kembali ke lokasi dan memeriksa hasil akhirnya.


Senyum puas tampak tersungging di bibir Akram saat melihat proges di hadapannya lancar tanpa halangan.


“Finally!”


Akhirnya dia bisa kembali pulang setelah berjauhan dengan sang istri hampir satu minggu lamanya.


Sesampainya di hotel, Akram segera membanting tubuhnya di ranjang yang empuk. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi sang istri guna mengatakan, bahwa besok dia akan pulang.


“Aku menunggumu, Mas.” Itu kalimat terakhir dari Amara sebelum panggilan berakhir.


Namun, saat alam bawah sadarnya baru saja melayang, suara dering ponsel menyentak kesadarannya lagi. Dengan malas dan tanpa membuka mata, diraihnya ponsel yang ada di atas nakas, menjawabnya masih dengan mata yang tertutup.


“Maaf mengganggu waktu Anda, Pak. Baru saja Pak Galih mengirimkan undangan makan malam pada Anda. Sekaligus beliau ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.” Suara di ujung sana terdengar memberitahu. “Apa Anda berniat datang ke sana?”


“Hmm, ya.” Akram menjawab dengan gumaman dan melemparkan ponselnya begitu panggilan berakhir.


Suara adzan magrib terdengar dari ponsel yang kini ada di bawah kakinya. Pemilik tubuh yang nyatanya masih bermalasan di atas kasur, perlahan membuka mata, merenggangkan tubuhnya pelan dan duduk ketika menyadari waktu telah beranjak petang.


Setelah membersihkan diri dan menunaikan panggilan dari sang pemilik kehidupan, Akram duduk dan memainkan ponselnya. Keningnya mengerut ketika sadar ada panggilan dari Hakim yang terlewatkan beberapa kali. Tangannya mendial nomor Hakim dan memintanya datang ke kamar.

__ADS_1


“Ada apa, Pak?” tanya Hakim saat sudah berada di depannya.


“Untuk apa kamu menghubungi beberapa kali? Ada hal penting?”


Hakim menggeleng pelan.


“Lalu?”


Pria itu segera menjelaskan jika dia menghubungi untuk menanyakan kesediannya atas undangan makan malam yang dilakukan Galih.


“Jawab saja gak bisa. Aku lelah.”


Hakim bingung bukan main. Dia sudah terlanjur mengatakan jika mereka akan datang. Mendengar penuturan itu, Akram langsung menghela napas panjang dan berat. Mungkin dia mengatakannya saat dirinya setengah sadar, jadi dia menjawab sesukanya.


“Ya sudahlah. Tolong untuk jangan jauh-jauh dariku. Perasaanku sedikit gak enak.”


Akram segera mengganti pakaian. Mereka meninggalkan hotel dan menuju restoran tempat Galih mengundangnya.


Namun, sesampainya di sana, hanya ada Claudia duduk sendirian. Membuat Akram yang malas, semakin menunjukkan wajah tak senang.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2