
Tia mendatangi Nadira seusai rapat, dia datang seorang diri mewakili Bagas, yang jelas tidak akan pernah datang, sebab ada nadira disana.
"Pak Bagas menitipkan ini." Ucap Tia memberikan map coklat titipan dari bosanya.
Nadira sudah bisa menebak isi dari map itu yang tak lain adalah surat putusan sidang perceraiannya. Begitu singkat proses sidang perceraian yang hanya di hadiri Bagas dan pengacara Nadira.
Sengaja Bagas membawa putusan cerainya untuk menitipkan secarik kertas yang merupakan kalimat terakhir yang ingin ia sampaikan untuk Nadira. Andai saja ia bisa mengatakan secara langsung meski lewat telphon namun ia tak memilki kekuatan untuk mengucapkan perpisahan lewat bibirnya sendiri.
Nadira kemudian membuka map tersebut, dan jatuhlah selembar kertas yang terlipat di dalamnya. Nadira kemudian memungutnya dan segera membuka untuk mengetahui apa isi dari kertas itu.
Sebuah kata maaf untuknya dari Bagas yang tidak bisa menjaganya dan calon buah hatinya. Setiap kata yang tertulis membuat Nadira mengeluarkan airmatanya. Ia sangat paham karena ini semua bukan semata keinginan Bagas ataupun dirinya. Dalam ketidak berdayaannya yang membuatnya memutuskan harus ada perpisahan.
"Jika anak kita lahir, tolong berikan nama ini di tengah namanya."
Kalimat terakhir dari isi surat yang Bagas tulis. Bagas memberikan sebuah nama yang sudah ia persiapkan, setidaknya hanya itu yang dapat bagas berikan sebagai seorang ayah.
Bagas tidak ingin egois, ia hanya memberi satu kata nama yang ia minta di sematkan di tengah-tengah nama buah hatinya kelak, biarlah nama depan dan belakang Nadira atau Liam yang akan memberikannya.
Nadira memeluk erat surat tersebut, dengan isak tangis menagisi setiap kata perkata yang menggambarkan betapa terlukanya mereka dengan perceraian ini.
Kini Nadira bukan lagi istri dari seseorang, sesuai janji yang ia buat kepada Liam, bahwa Liam boleh datang jika perceraiannya dengan Bagas selesai. Degan cepat Nadira memberi tahu bahwa kini Liam bisa datang dan menjemputnya.
__ADS_1
Nadira dengan di bantu Anggun mengepak beberapa pakaiannya kedalam koper, karena hari ini juga Nadira akan terbang menuju jakarta untuk menetap dengan calon suaminya. Ia sudah memberskan semua pekerjaannya, bahkan ia menyerahkan kembali perusahaannya kepada sang papa, dan itu berarti perusahannya akan kembali di percayakan kepada Bagas, itu semata bukan karena ia akan tinggal bersama Liam, melainkan itu adalah rencananya sejak dulu sebelum kehamilannya, bahwa Nadira hanya akan fokus untuk membesarkan anaknya.
...****************...
Liam yang mendapatkan kabar dari Nadira segera memesan penerbangan yang paling cepat, karena ini adalah saat-saat yang sudah ia nantikan selama ini, bahakan selama setengah umurnya ia sudah membayangkan bisa hidup bersama dengan Nadira.
Liam yang kebetulan sedang bersama Sandra, mengatakan kepada sang mama untuk menatikan kedatangan Nadira, karena ia akan menjemputnya dan segera ia bawa kehadapan kedua orang tuannya untuk kembali ia perkenalkan.
Meski kedua orang tua Liam sudah mengenal Nadira, namun tetap saja Liam ingin memperkanalkan Nadira sebagai calon istrinya.
Namun sebelum mempertemukan Nadira dengan sang mama, Liam terlebih dahulu memberi peringatan agar Sandra tidak terkejut dengan apa yang nanti di lihatnya, dan jangan menyimpulkan dari apa yang di lihat saja, sebelum Liam menjelaskan.
Mendengar anaknya mengatakan hal aneh seperti itu, membuat sandra berpikir keras dengan apa yang kemungkinan membuatnya terkejut begitu melihat Nadira. Namun sekeras apapun sandra berpikir itu tak membuatnya menemukan jawaban, meski segala kemungkinan sudah ia pikirkan.
Hari sudah gelap, matahari sudah benar-benar tak lagi terlihat, Liam menghentikan mobilnya di depan apartemen yang hampir satu bulan menjadi tempat tinggalnya sementara, Kemudian ia menoleh kearah sampingnya, terlihat Nadira yang sudah tertidur pulas, entah karena lelah atau bawaan bayi, selama perjalanan Nadira banyak tertidur.
Tak tega untuk membangunkan, Liam pun menggendong Nadira sampai kedalam apartmentnya. Kemudian membaringkan di atas tempat tidur di kamarnya.
Aparteman yang Liam tempati hanya memilki 1 kamar tidur, sementara sebelum ia sah menjadi suami Nadira, maka ia akan tidur di sofa depan, dan membiarkan Nadira mengisi kamarnya, sampai mereka menikah dan rumahnya siap untuk di tempati.
Nadira merasa sangat nyaman saat tidur, bahkan tidak terasa pegal sama sekali, sebab seingatnya ia tidur di dalam mobil, Namun begitu membuka mata ia sangat terkejut karena silau dari mata hari pagi membangunkanya, dan lebih terkejut lagi karena ia sudah berada di atas kasur.
__ADS_1
"Kamu yang menggendongku sampai kedalam kamar?" Tanya Nadira begitu keluar dari dalam kamar dan melihat Liam yang sudah bangun dan berada di dapur.
"Kamu sudah bangun, sini kita sarapan." Liam melambaikan tangannya meminta Nadira mendekatinya.
"Semalam kamu tidur sangat pulas, aku tidak tega membangunkan." Lanjut Liam memberi kecupan di keningnya.
Nadira tersipu, karena ini hal baru yang Liam lakukan, mendapatkan kecupan selamat pagi, membuatnya merasa sangat di sayangi.
"Kita jadi menemui dokter kandunga?" Tanya Nadira, sebab kemarin Liam mengatakan sudah mendaftarkan Nadira ke salah satu dokter kandungan terbaik di kawasan itu.
"Jadi dong, aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita." Ucap Liam antusias.
"Setelah itu kita temui mama." Lanjut Liam membuat Nadira terdiam.
Nadira tidak memikirkan tentang orang tua Liam, reaksi apa yang akan ia dapatkan saat mereka melihat keadaannya. Ia tidak berpikir sejauh itu, selama ini ia hanya memikirkan tentang nasib anaknya, sementara ada orang tua lain yang juga mengkhawatirkan nasib anaknya.
"Ada apa?" Tanya Liam yang menyadari perubahan pada wajah Nadira.
"Apa harus hari ini kita menemui tante sandra?" Tanya Nadira ragu.
Liam sangat mengerti dengan kekhawatiran yang kini di rasakan Nadira, ia kemudian meraih tangan Nadira untuk ia genggamnya, menanamkan kepercayaan kepada Nadira bahwa dia akan baik-baik saja, bahwa orang tuannya akan senang menerima Nadira yang tengah mengandung seorang anak yang sangat di idamkan orang tuanya, apa lagi mamanya yang sudah berkali-kali mengatakan ingin segera menggendong seorang cucu.
__ADS_1
Nadira sangat tahu bahwa Sandra adalah sosok yang sangat baik, bahkan Sandra tidak menaruh benci kepadanya saat anaknya ia khianati, Sandra masih saja baik dan mengaggapnya seperti anaknya sendiri. Namun jika Sandra tidak bisa menerima dirinya yang tengah mengandung, maka ia akan dengan suka rela mundur karena ia tak ingin membuat hubungan antara ibu dan anak menjadi hancur, semata karena harus memilih dirinya.
Namun ia masih tetap berdoa dan berharap bahwa ia bisa di terima di keluarga Liam, menjadi bagian keluarga Liam dengan segala kekurangannya.