
Amara tengah melakukan panggilan video dengan suaminya. Sudah tiga hari mereka terpisah oleh keadaan.
Walau hanya tiga hari, tetapi bagi Amara tidaklah mudah. Dia yang terbiasa dimanjakan suaminya, sungkan jika harus merengek pada mertuanya.
“Dede rewel gak?” tanya Akram yang masih bertelanjang dada setelah mandi.
“Enggak, tapi dede kangen di sapa papa.”
Di seberang sana Akram tersenyum dan memintanya menempelkan ponselnya di perut.
“Halo anak papa, jangan nakal ya, Nak. Papa masih kerja, yang pinter sama mama. Sebentar lagi kita akan bertemu dan berkumpul bersama. Papa sayang dede, sayang mama juga,” ucap Akram dengan senyum tipisnya.
“Dia menendang, seperti paham apa yang kamu katakan, Mas,” kekeh Amara sambil meringis pelan.
“Sudah makan dan minum susu? Vitaminnya jangan lupa.”
Amara mengangguk. “Kapan pekerjaan selesai? Kangen, Mas.”
“Jika gak ada revisi lagi, insya Allah lusa sudah bisa pulang. Maaf harus meninggalkanmu sendirian di saat seperti ini.”
__ADS_1
“Semoga semuanya dilancarkan, Mas.”
Amara dapat mendengar suara bel kamar hotel suaminya.
“Sebentar, sepertinya ada Hakim,” kata Akram, memakai pakaian dan menuju pintu. Tanpa melihat, dia buka dan terkejut dengan siapa yang berdiri di sana. “Bu Claudia, ada apa?” tanyanya dingin.
“Hanya ingin berkunjung. Boleh saya masuk?” tanyanya sambil mendekatkan tubuh. Aroma parfumnya sangat menyengat hingga membuat Akram mendengus pelan.
“Maaf, kita berdua gak ada urusan di luar pekerjaan, Bu Claudia. Sebaiknya jaga batasan Anda,” ucapnya dingin. Tak lagi ramah seperti biasanya.
Claudia yang mendapat penolakan, justru tersenyum karena merasa tertantang. Tidak ada yang berani menolaknya terang-terangan, tetapi pria di ini justru melakukannya. Harga diri Claudia terasa jatuh. Dia seperti tak berharga karena pesonanya tak mampu membuat pria di depannya luluh.
“Anda yakin Pak Akram? Saya membawakan makan malam spesial untuk Anda nikmati,” bisik Claudia sambil memainkan bibirnya. Dia juga sengaja mengibaskan rambut hingga leher jenjangnya terlihat menggoda.
“Tawarkan makanan kepada seseorang yang kelaparan. Jangan memaksa, apalagi pada orang yang kebutuhannya saja terpenuhi dengan baik.” Akram mundur beberapa langkah, dia menarik napas panjang dan menatap manik mata wanita itu sekilas. “Jaga batasan Anda. Saya tahu niat Anda, Bu Claudia, hentikan apa pun yang ada dalam pikiran. Karena jujur saya merasa sikap Anda terlihat sangat murahan,” desis Akram masih menahan diri.
Claudia terkekeh, “Anda menyebut saya murahan? Keterlaluan sekali.”
“Selamat malam!”
__ADS_1
Akram mundur dan menutup pintu begitu saja. Sementara Amara yang di seberang panggilan tampak masih menunggu kehadiran suaminya.
“Lama banget. Ngapain Hakim cari kamu?” tanyanya ketika melihat Akram sudah kembali.
“Bukan apa-apa,” jawab Akram.
Obrolan suami istri itu kembali berlanjut sampai malam. Sesekali terdengar suara canda dan tawa dari keduanya.
Berbeda keadaan dengan Claudia yang saat ini tengah mengamuk di dalam salah satu kamar hotel yang telah dibooking.
Wanita itu benar-benar marah karena penolakan dan kalimat Akram yang menghinanya sebagai murahan.
“Sudah saya bilang bahwa Pak Akram bukan pria yang akan tergoda begitu saja. Saya sudah cukup lama mengenalnya.” Asisten Claudia berkata sambil merapikan pakaian yang berceceran. Wanita berusia tiga puluh tahunan itu sudah lama mengenal Akram, saat itu dia masih menjadi sekretaris Galih. Pria itu juga dulu masih lajang dan belum menikah.
“Dia pria yang baik, Bu. Bukan jajaran pria bajingan yang akan tergoda hanya dengan wajah cantik dan tubuh seksi,” lanjutnya terus merapikan barang yang berceceran di lantai.
“Itu hanya kedok saja. Semua pria pada dasarnya sama, gak akan nolak kalau disodorin ikan,” gerutu Claudia.
“Jangan lakukan apa pun yang bisa membuat Anda merugi. Keluarga Pak Akram berasal dari kalangan baik-baik, meski bukan seorang ustadz dan ustadzah tapi ilmu agama mereka cukup baik.”
__ADS_1
“Bullshit! Aku akan dapatkan dia dengan cara apa pun!”
To Be Continue ....