
Akram pun menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan Zivanna. Dia juga penasaran siapa pria kejam yang telah berniat jahat merusak namanya dan menjadikannya kambing hitam atas perbuatan yang tak dilakukan.
“Mas Akram dan Mas Wahyu sangat mengenal orangnya,” ucap Zivanna ragu.
“Katakan siapa bajingan itu! Aku ingin sekali membunuhnya,” desis Wahyu dengan kedua tangan yang terkepal erat.
Rasa bersalah membuncah dalam diri Wahyu karena telah menuduh juga memusuhi Akram karena kesalahan yang tak dilakukan.
Dadanya seperti diremas ketika mengingat niat buruknya untuk memisahkan Akram dengan sang istri. Dia hanya tidak suka melihat Akram hidup bahagia, sementara adiknya hidup dalam keterpurukan.
Untung saja niat itu tak pernah terlaksana. Andai karenanya rumah tangga Akram berantakan, mungkin penyesalan seumur hidup akan dirasakan.
“Niko Lesmana,” ucap Zivanna membuat Akram dan Wahyu saling berpandangan.
“Bajingan!” umpat Wahyu dengan napas tersengal.
Siapa yang tak mengenal Niko Lesmana. Mereka dulu adalah teman baik semasa masih berkuliah di tempat yang sama.
Niko pria yang ramah dan mudah bergaul. Tak pernah ada selentingan miring tentang pria itu. Meski wajahnya tampan dan banyak dikejar wanita, pria itu tak pernah terlihat dengan siapa pun.
Kabar terakhirnya dia telah bertunangan dengan salah satu anak pemilik perkebunan teh dari daerah Malang.
“Aku akan membuat perhitungan dengannya!” kata Wahyu penuh kemarahan.
“Tahan dirimu, Wahyu! Jangan gunakan emosi di saat seperti ini,” peringat Akram dengan tenang.
“Tenang katamu? Dia telah menghancurkan adikku! Menghancurkan persahabatan kita dan hampir membuat salah paham menuju kehancuran.”
__ADS_1
“Apa emosimu bisa menyelesaikan semuanya? Enggak! Amarahmu hanya akan menghancurkan segalanya. Tenangkan dirimu. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin.”
“Tolong bantu aku, Mas Akram,” kata Zivanna lirih. “Katakan pada Mas Niko bahwa anaknya butuh uluran tangannya untuk bisa bertahan hidup.”
“Apa maksudmu, Ziva?” tanya Akram heran.
“Ibra ... dia membutuhkan donor sum-sum tulang belakang dan hanya Mas Niko yang bisa melakukannya. Aku sudah mencocokan sum-sum tulang belakangku, tapi gak ada kecocokan di sana. Dokter bilang mungkin ayahnya memiliki 99% kecocokan,” kata Zivanna dengan helaan napas panjang.
Selama ini Ibra harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan perawatan dan cek up rutin untuk memantau kondisi kesehatannya.
Selama hampir satu tahun, Zivanna dan Wahyu telah melakukan berbagai cara untuk mencari donor sum-sum tulang belakang untuk Ibra. Namun, hingga detik ini belum ada satu pendonor pun yang cocok dengannya.
Zivanna frustrasi. Dia lelah dan akhirnya mengatakan kejujuran pada Wahyu. Bahwa sebenarnya Ibra bukanlah anak dari Akram. Agar pria itu tak terus mendesaknya.
“Tolong Mas. Selamatkan Ibra untukku,” ucap Zivanna terbata. Dia tak mampu membendung isak tangis yang menyesakkan dada ketika mengingat putranya.
Amara iba. Dia mendekat ke arah Zivanna dan memeluk wanita itu untuk menguatkannya.
Tidak ada yang mampu dikatakan Amara. Sebab dia tidak akan tahu bagaimana perasaan yang dirasakan wanita itu.
Kondisi kehamilan Amara cukup baik. Usia dan tumbuh kembang janin sudah sangat sesuai usianya. Namun, tekanan darah Amara lumayan tinggi.
Saat dokter melakukan USG, baik Amara dan Akram bisa melihat dengan jelas gambar janin di dalam rahim yang sudah sepenuhnya sempurna.
Mata keduanya berkaca-kaca. Suara detak jantung bayi itu membuat perasaan Amara dan Akram menghangat. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum haru.
“Ibu Mara jangan banyak pikiran, itu bisa mempengaruhi kondisi janin. Ikatan ibu dan anak itu kuat. Jadi sebisa mungkin Bu Mara harus tetap bahagia agar bayi pun merasa demikian,” ujar dokter dengan seulas senyum tipis.
__ADS_1
“Baik, Dok.”
“Saya resepkan vitaminnya ya. Nanti bisa dibeli di apotek rumah sakit atau bisa ditebus di luar.”
Setelah selesai memeriksa kandungan. Keduanya pulang dengan beban di pundak yang sedikit terangkat setelah mengetahui fakta tentang Zivanna dan Ibra.
“Mas ....” panggil Amara lirih.
“Ingin sesuatu?” tanya Akram menoleh.
Amara menggeleng pelan. Dia ingin sekali menangis menyadari kesalahannya yang telah berlaku tidak sopan pada Akram.
“Maafkan aku, Mas.”
“Maaf pernah berlaku gak sopan terhadapmu. Atas kesalahpahaman yang membuatku melawanmu.” Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
“Enggak apa-apa, Mara. Sudah jangan bersedih, ingat pesan dokter. Supaya bayinya bahagia, ibunya juga harus bahagia,” jawab Akram. Tangannya menggenggam tangan Amara dan membawanya ke atas pangkuan.
“Aku bersalah, Mas.”
“Aku juga salah. Tolong maafkan suamimu juga ya. Salah paham sudah selesai, jangan dipikirkan lagi.” Senyum Akram terukir dengan lebar. Menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
“Aku kasihan dengan Ibra. Anak sekecil itu harus merasakan kesakitan yang luar biasa.” Satu tangan Amara mengusap perutnya sambil berharap jika anaknya akan diberikan kesehatan.
“Ada hikmah dari setiap yang terjadi di dunia ini, Mara.”
Benar. Amara mengangguk setuju.
__ADS_1
“Allah itu menciptakan masalah selalu dengan jalan keluarnya. Gak perlu khawatirkan apa pun.”
To Be Continue ....