
“Ayah!!!” teriak anak kecil dengan suara menggemaskan.
Amara dan Akram seketika menoleh dan melihat seorang balita laki-laki tersenyum. Berlari dan memeluk kaki Akram dengan penuh bahagia.
Amara yang masih belum sadar situasi hanya mengernyit heran.
Ayah?
“Mas Akram mengenalnya?”
Akram mengangguk.
“Kenapa dia memanggilmu ayah?”
Mendengar pertanyaan itu sontak Akram menoleh. “Tetaplah percaya padaku, Mara!”
“Ayah ... Ibra kangen,” ucapnya dengan suara khas anak-anak.
“Ibra sama siapa ke sini? Di mana ibu?”
“Ibu ke toilet.”
Akram mengangkat anak laki-laki berusia 5 tahun itu ke dalam gendongannya. Apa yang dilakukan tak luput dari pengawasan Amara yang menatap penuh selidik.
“Ibra ... Ibra ... jangan pergi begitu saja! Kamu bikin ibu jantungan,” omel seorang wanita yang baru saja datang. Wanita cantik dengan rambut panjang berwarna cokelat. Saat mengetahui sang anak bersama dengan Akram, tampak wajahnya sedikit berubah.
“Ibra turun!”
__ADS_1
“Gak mau ibu. Aku mau digendong ayah. Kangen sama ayah.”
“Maaf, Mas.” Wanita itu menunduk dengan wajah bersalah.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Aku sedang memeriksakan kondisi Ibra.”
“Dia sakit?”
Wanita itu mengangguk. Tangannya terulur ke arah sang putra, tetapi ditepis pelan. “Aku mau sama ayah!”
Wanita itu tampak tidak enak hati. Dia melirik ke arah Amara yang menatap mereka bertiga dengan tatapan bertanya.
“Zivanna. Saya ibunya Ibrahim, Mbak,” ujar wanita itu memperkenalkan diri.
“Amara.” Dengan senyum yang sedikit dipaksakan dia menerima jabatan tangan wanita bernama Zivanna itu.
“Tapi aku masih kangen sama ayah. Sudah lama gak ketemu. Ayah sibuk ya? Kenapa gak datang menemui Ibra?”
Akram tersenyum dan menyerahkan Ibra ke dalam gendongan ibunya. “Lain kali ayah main kalau sedang gak repot. Ayah mau antar mama menemui om dokter buat periksa adek bayi di perut mama.”
“Adeknya Ibra?”
Akram mengangguk.
“Adeknya di perut mama? Kenapa gak di perut ibu?” tanyanya menoleh ke arah Amara.
__ADS_1
Tak ingin memperpanjang percakapan yang mulai memanas. Zivanna membawa Ibra pergi, meninggalkan Amara yang dilanda kebingungan dan kecurigaan.
Tentang apa hubungan mereka.
Mengapa anak itu memanggil Akram dengan sebutan ayah.
Sebelum Amara bertanya banyak hal. Namanya telah dipanggil masuk ke ruangan dokter. Sengaja Akram menemani karena ini hari libur, sekaligus dia ingin mengetahui perkembangan buah hatinya.
Usia kandungannya sudah memasuki enam bulan. Mual, ngidam dan mood yang buruk telah terlewati di trimester kedua.
Dokter wanita itu meminta Amara berbaring dan salah satu perawat mengoleskan gel di atas perutnya. Kemudian layar di sebelahnya menunjukkan gambaran rahim dan janin yang dikandung.
“Bapak dengar suara detak jantungnya?”
Akram mengangguk dengan mata berkaca-kaca. USG dengan gambar 5D itu tampak dengan jelas. Hasilnya seperti gambar realistis, bahkan kulit warna bayi tampak terlihat kemerahan. Namun, belum banyak rumah sakit yang memiliki alat terbaru tersebut.
“Anda ingin mengetahui jenis kelaminnya?” tanya dokter dengan senyuman.
“Jangan. Biarkan jadi kejutan saja.”
Setelah dari rumah sakit, mereka segera pulang karena akhir-akhir ini tubuh Amara lebih mudah lelah. Inginnya hanya rebahan saja.
Sesampainya di rumah, Amara segera membersihkan diri dan berganti pakaian dengan daster rumahan yang lebih nyaman.
Walau sejak tadi dia penasaran, tetapi bibirnya tetap terkunci rapat untuk bertanya.
Namun, desakan rasa penasaran itu mengalahkan kesabarannya menunggu sang suami menjelaskan.
__ADS_1
“Jadi ... apa hubunganmu dan Zivanna, Mas?”
To Be Continue ....