
“Boleh saya duduk dan bicara sebentar dengan Anda?”
“Hal apa yang ingin Anda bicarakan? Jika urusan pekerjaan, maaf saya sedang cuti dan tidak menerima keluhan atau pengaduan apa pun.”
Amara menatap pria di depannya datar. Kebetulan atau memang sengaja, dirinya tak mau berprasangka. Namun, sudah beberapa kali mereka berada di tempat yang sama.
“Ini masalah pribadi.”
Amara mengernyit heran. Pribadi?
“Hal pribadi macam apa yang Anda maksud? Saya ataupun Anda bahkan tidak sedekat itu untuk membicarakan hal di luar pekerjaan.”
Pria itu tersenyum. Senyum penuh arti yang membuat Amara bergidik ngeri.
“Ini tentang suami Anda. Pak Akram.”
Amara menghela napas pelan. “Jika itu menyangkut suami saya, Anda bisa bicara jika ada orangnya.” Rasa tidak nyaman membuatnya memilih segera pergi.
“Anda harus tahu satu hal, Bu Mara.”
“Tolong jangan paksa saya untuk mendengarkan Anda, Pak Wahyu. Saya pamit lebih dulu,” ujar Amara tegas dan pergi begitu saja.
Meskipun penasaran menggerogoti hati, tetapi Amara tak ingin serta merta mendengar pria itu mengatakan tentang suaminya. Jelas yang dikatakan bukan sesuatu hal yang baik.
Amara segera menyusul sang ibu yang masih ada di sebuah toko perhiasan. Mereka sengaja datang ke salah satu mall terbesar untuk mencari hadiah.
“Belum selesai, Bu?” tanya Amara menghampiri Raisa.
“Ibu pusing. Takut gak cocok sama selera besan,” katanya dengan tertawa.
“Apa pun yang ibu pilih, mama pasti akan menerimanya. Gak perlu mahal asal ikhlas,” sahut Amara kesal.
__ADS_1
“Eh ... anak ini. Tentu saja ibu ikhlas. Bicara sembarangan,” omel Raisa khas ibu-ibu.
Amara memberikan waktu pada Raisa tiga puluh menit untuk memutuskan pilihan, tetapi nyatanya butuh waktu satu jam sampai mereka keluar dari toko perhiasan.
“Kamu gak kasih hadiah sama mertuamu?”
“Sudah, ibu tenang saja.”
“Kamu tadi sudah jadi makan? Sekarang ibu gantian yang lapar.” Raisa terkekeh pelan. Terlalu sibuk memilih perhiasan, dia mengabaikan Amara yang mengajak makan siang dan memintanya pergi sendiri.
“Sudah, tapi hanya beberapa suap karena ada yang bikin suasana hatiku buruk. Kalau ibu mau makan, ayo. Aku juga masih lapar.”
Raisa menoleh dan penasaran. Namun, Amara menggeleng karena malas menjelaskan.
“Kak Juan kapan ke Surabaya. Aku kangen.”
“Telepon dong!”
Mereka keluar dari mall dan memilih makan di tempat lain yang telah disepakati.
♡
♡
♡
Tidak semua hal yang diinginkan akan didapatkan. Salah satunya jodoh. Manusia bisa berusaha, berharap dan berdoa, tetapi penentu segalanya tetaplah Sang Pemilik Kehidupan.
Setelah kembali dari Surabaya, Fatimah tampak selalu murung dan menyendiri. Dia sudah jarang mengajar lagi karena semangatnya masih naik turun. Mungkin inilah yang dinamakan patah hati terhebat.
Fatimah sudah mencoba melapangkan hati dan berusaha ikhlas, tetapi selalu gagal dan berakhir dengan menyalahkan orang lain karena kegagalan yang diterima.
__ADS_1
“Kamu selalu murung dan meratap. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ada masalah kamu bisa cerita sama umi.” Winata berujar setelah beberapa saat mengamati putrinya yang sejak dua jam yang lalu masih betah duduk di pinggir sungai.
“Gak ada apa-apa, Umi. Hanya masalah hati yang belum selesai hingga detik ini,” balas Fatimah mencoba tersenyum.
“Kamu mencintai suami dari Nak Mara?” tembak Winata membuat Fatimah menegang.
“Bukan salahku, Umi. Aku yang mengenalnya lebih dulu dan menaruh perasaan padanya.”
“Tapi kamu tetap bersalah, Fatimah. Laki-laki itu sudah menjadi suami wanita lain. Memikirkannya saja kamu dosa, apalagi sampai menaruh perasaan. Memikirkan pria yang bukan mahram kamu itu termasuk zina.”
“Tapi aku juga gak bisa mengendalikan perasaan ini. Sudah cukup lama aku menaruh hati dan melangitkan namanya, berharap suatu nanti kami disatukan dalam ikatan yang sakral. Tapi kenapa justru wanita lain yang mendapatkannya?”
Terdengar helaan napas Winata tampak berat. Dia mengusap bahu putrinya lembut, mencoba menenangkan dan mengembalikan akal sehat yang kacau karena terluka.
“Fatimah .... berharap selain pada Allah itu adalah hal yang salah. Jika kamu berharap doa-doa mu minta dikabulkan, itu artinya kamu gak ikhlas melakukannya.”
“Aku harus apa, Umi? Aku sudah berusaha menghilangkan dia dari kepalaku, tapi justru namanya selalu menari-nari memenuhi pikiran. Tanpa umi minta aku sudah mencoba untuk ikhlas, tapi itu gak mudah dan aku belum mampu melakukanya.”
Semakin kuat keinginan melupakan, semakin kuat pula setan mempengaruhi agar manusia melakukan kesalahan.
Hati memang tak bisa diprediksi akan berlabuh di mana dan dengan siapa.
“Gak apa. Semuanya butuh waktu. Umi yakin kamu bisa. Jangan meratap terlalu dalam, itu gak baik. Gunakan waktumu untuk hal-hal yang bermanfaat.”
“Tolong jaga rahasia ini, Umi. Aku akan belajar menerima dan berusaha ikhlas.”
“Doa yang sudah melangit, gak akan kembali dengan hampa. Yakinlah, Allah telah menyiapkan kejutan yang indah untukmu.”
Fatimah mengusap buliran bening yang menetes membasahi pipi, dia mengangguk dan tersenyum dalam tangis.
To Be Continue ....
__ADS_1