Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Kembali Bekerja


__ADS_3

Nadira menggeliat, merasakan sekujur tubuhnya yang begitu kaku. Dengan seluruh tubuh yang tertutup ia menyungingkan senyumannya, pipinya pun ikut merona, mengingat semalam ia begitu menggebu, sampai pria di sampingnya tak juga terbangun meski matahari sudah menunjukan sinarnya.


Ini bukan kebiasaan Bagas tidur lewat dari batasnya. Namun sepertinya semalam ia mengeluarkan seluruh energinya sampai tak tersisa.


Jika melihat Bagas terlelap, satu hal yang selali Nadira lakukan, ia akan berlama-lama memandang wajah lembutnya. Wajah bak bayi yang tak berdosa. Satu kecupan pun lolos mengenai pipi pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu, Lalu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.


Dengan berbalut handuk kimononya, Nadira memandangi sebuah lingerie yang sudah ia persiapkan untul malam pertamanya, Namun gagal ia pakai semalam. Karena mereka melakukannya dengan masih berbalut gaun pengantin.


Nadira kemudian memakai lingerie itu dan dilapisi dengan outer berbahan rajut.


"Bli, apa kamu tidak akan bangun?" Nadira menepuk-nepuk lengan Bagas untuk membangunkannya.


Bagas menggosok kedua matanya, mencoba membangunkan tubuhnya.


"Apa aku kesiangan?" Tanya Bagas karena ia sudah melihat cahaya yang begitubterang dari balik jendela.


"Iya, ini sudah sangat siang Bli." Jawab Nadira dengan senyuman manisnya.


Entah mengapa sulit untuk Nadira menurunkan bibirnya, sejak Bangun Nadira sudah merasakan perasaan bahagia, moodnya hari ini sangat baik.


"Kamu mandi dulu, nanti kita sarapan." Ucap Nadira menujuk kearah meja yang sudah di penuhi dengan makanan.


"Maaf ya, harusnya aku bangun lebih pagi." Balas Bagas mengecup kening istrinya kemudian beranjak menuju kamar mandi.


Bagas terkejut begitu sampai di dalam kamar Mandi, karena Nadira sudah menyiapkan air hangat untuk dirinya berendam. Dan itu sangat wajar di lakukan sang istri kepada suami. Namun tetap saja Bagas sangat tersentuh. Karena seorang Nadira yang biasannya selau di layani kini melayaninya.


Sementara menunggu Bagas, Nadira membuka tabletnya untuk jadwal kegiatan yang di kirimkan Anggun. Terdengar helaan nafas kasar dari Nadira, begitu selesai melihat jadwalnya.

__ADS_1


"Tidak bisakah memberiku waktu yang lebih untuk bulan maduku." Tuturnya kesal.


Dan ucapannya itu terdengar oleh Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Bagas kemudian menghampiri dan membuka kembali tablet yang tadi Nadira lihat.


"Kamu lihat Bli, pak Arez sangat tidak pengertian." Omel Nadira yang kini di limpahkan kepada suaminya.


"Nampaknya memang kamu sangat di butuhkan disana." Bagas tidak bisa menolak dengan kesibukan Nadira pasca mereka menikah, karena semuanya tidak berubah. Dia dan Nadira di hadapi segudang pekerjaan.


Memang tahun ini adalah tahun yang sangat sibuk untuk Nadira maupun Bagas. setelah persemian villanya, juga pekerjaan hotel yang sempat di tunda. Kini pihak Amecrop tiba-tiba ingin pekerjaan hotel dimulai kembali.


"Kita harus segera berangkat besok. Padahal aku masih ingin bersantai seperti saat ini." Keluh nadira, baru beberpa hari tidak dilibatkan pekerjaan rupanya ia mulai nyaman dengan aktivitas barunya sebagai seorang istri.


Bagas membelai rambut sang istri, ia pun merasakan hal yang sama, jika dulu ia sangat menikmati pekerjaannya, tak ada satu hari pun ia lewatkan tanpa bekerja. namun sekarang ia ingin menghabiskan waktunya kebuh banyak dengan Nadira.


"Maaf sayang, sepertinya kamu harus berangkat sendiri. Ada sedikit masalah di kantor mengharuskan aku sendiri yang menyelsaikannya." Tutur Bagas merasa sedih.


Karena peroyek pekerjaan Nadira bersama amecrop akan kembali di mulai, itu membuat Nadira harus tinggal berjauhan dengan Bagas. Dan mereka menyiasati akan melangsukan bula Madu di sana.


Namun nampaknya pekerjaan mendadak Bagas membuat rencana mereka di undur, al hasil Nadira berangkat seorang diri tanpa di temani Bagas, Barulah setelah urusan Bagas selesai, ia bisa menyusul sang istri.


...****************...


Berat rasanya membiarkan Nadira pergi tanpa dirinya, meski hal ini sudah biasa bagi nadira, Namun setelah menjadi seorang suami, Bagas merasa tidak tenang membiarkan Nadira pergi seorang diri.


Dengan pelukan hangat juga kecupan di kening, bagas melepas kepergian Nadira yang pastinya akan lama berada disana.


"Aku secepatnya akan menyelesaikan pekerjaanku disini, lalu menemuimu sayang." Kalimat terakhir Bagas kepada sang istri.

__ADS_1


Sama halnya dengan Bagas, Nadira pun enggan melajutkan langkahnya, kakinya tiba-tiba terasa berat, ia masih ingin berada di dekat suaminya.


Berkali-kali ia menoleh kearah Bagas yang sedang melambaikan tangannya. Ada kekosongan yang ia rasakan dalam hatinya. Sejujurnya ia merasa takut, ia tidak percaya dengan dirinya sendiri. Ia butuh sosok Bagas untuk menghadapi seorang Liam yang tentu saja setiap harinya akan selalu berinteraksi dengannya. Ia takut kejadian dulu terulang lagi. Karena itu ia merasa berat pergi tanpa Bagas.


...****************...


Liam mendaptkan telphon dari bosnya untuk segera kembali, karena mereka akan memulai kembali proyek yang sempat tertunda.


Sempat kesal karena pak Arez melanggar jajinya, yang awalnya membebaskan Liam untuk kembali kapanpun. Namun telphon mendadaknya membuat Liam harus segera berkemas dan membatalkan semua janjinya.


Awalnya Liam akan mengadakan reuni dengan teman-temannya saat di sekolah juga ada beberpa kegiatan yang sengaja ia lakukan untuk menenagkan kegundahaan hatinya. Karena pernikahan Nadira kemarin ternyata berdampak fatal bagi hatinya. Ia kira ia bisa menerimanya namun ternyata hatinya bertambah luka. Dan itu pernah di peringatkan oleh kedua sahabatnya. Namun anehnya ada sedikit kebahagiaan yang ia rasakan. dan itu dinamakannya sebagai Luka membawa Bahagia.


Liam segera mengemas pakaiannya dan bersiap turun untuk menemui sang mama.


"Kamu mau kemana nak?" Tanya Sandra yang berpapasan dengan anaknya di depan pintu kamar Liam.


"Mama..." Ucap Liam terkejut.


"Liam, mendapat panggilan mendadak, sepertinya Liam harus kembali." Lanjut Liam pamit untuk pergi lagi.


Baru saja ia menikmati kebersamaan dengan anaknya yang sudah bertahun-tahun tidak pulang, kini Sandra harus kembali melepas sang anak. Padahal rasa rindunya belum sepenuhnya ia lepaskan.


"Mama mengerti sayang, kamu hati-hati ya." Sandra membawa Liam kedalam pelukannya, hampir saja air matanya menetes di depan sang anak. Ia tidak ingin Liam menjadi berat untuk meningglkannya. Ia hanya akan mendoakan sqng anak di manapun keberadaannya.


"Mama jaga kesehatan, Liam janji, liam pasti akan sering pulang." Saat ini sudah tidak ada lagi alasan bagi liam untuk tidak pulang. Sehingga ia bisa mengunjungi mamanya kapanpun.


Liam melepas pelukan Sandra, tak lupa ia mencium tangan mamanya, sebelum masuk kedalam taxi yang sudah menunggunya.

__ADS_1


Ia memilih untuk memesa taxi, dari pada meminta mamanya mengantarkan kebandara, karena ia tidak ingin membuat mamanya semakin sedih, karena harus melihatnya pergi. Seperti tahun-tahun sebelumnya.


__ADS_2