Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Melangitkan doa yang sama


__ADS_3

Akram mengutarakan niatnya kepada kedua orang tuanya bahwa dia berniat melamar Amara Khaira Shaza, putri dari pengusaha properti Adnan Hamish dan Raisa Andriana.


Dia juga menceritakan bahwa mereka telah bertemu sebelumnya. Semenjak pertemuan pertama itu Akram sudah mulai merasakan bibit-bibit cinta yang mulai tumbuh di hatinya.


“Jadi di tempat Ustadz Yusuf bukan pertemuan pertama?” tanya Ahmad Arsalan sambil menatap putranya yang menunduk.


“Bukan, Papa. Aku telah bertemu dengannya dua kali. Di pertemuan ketiga aku ingin meluruskan niat untuk melamarnya, tapi Umi Rahma bilang dia masih belajar memperbaiki diri. Jadi aku menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta, berharap memang kami telah ditakdirkan berjodoh.” Akram menjawab tegas. “Semua pertemuan kami seperti bukan kebetulan, tapi Allah seolah menunjukkan jalan jodoh untuk kami.”


“Lakukan jika memang kamu rasa dia wanita yang pantas, Nak. Mama akan mendukung apa pun demi kebahagiaan kamu,” kata Nufa sambil tersenyum lebar. Setelah sekian tahun lamanya menunggu, akhirnya kabar bahagia itu didengar dari mulut putranya sendiri.


“Apa yang membuatmu memilih dia dibandingkan wanita-wanita yang telah kami pilihkan, Akram?”


Akram menatap wajah sang ayah. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang begitu indah. Dia menjawab dengan yakin, “Tentang hati siapa yang tahu, Papa. Cinta itu sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh pemilik hati dan pemilik kehidupan. Gak ada yang salah dengan pilihan kalian, tapi hati gak bisa dipaksakan. Rasa itu belum ada.”


“Apa dia sudah memenuhi syarat sebagai calon istri?” tanya Ahmad Arsalan lagi.


Akram kembali mengangguk dengan yakin. “Sudah, Papa. Parasnya cantik, dia dari keturunan yang baik, harta dia juga punya, agamanya juga baik, insya Allah.”


Ahmad Arsalan tersenyum dan mengangguk. Dia tidak akan mempertanyakan keputusan putranya lagi. Pria itu sudah cukup matang untuk menentukan calon istri yang akan mendampingi.


“Dia sangat cantik sekali, ya?” pancing Ahmad Arsalan dengan senyum khas.

__ADS_1


“Iya. Cantik sekali, hidungnya mancung dengan bulu mata lentik dan bibir yang ranum. Kulitnya seputih kapas dan selembut sutra,” jawab Akram tanpa sadar.


Azizah terbatuk kecil mendengar pengakuan putranya yang telah memuji dan mengagumi paras seorang wanita dewasa.


“Astaghfirullah,” kata Akram sambil menunduk malu, menyembunyikan bahwa dia telah melebihi batas.


“Sepertinya anakmu telah terpeleset memandang keindahan ciptaan-Nya dan mengagumi sosok yang belum halal untuknya.” Ahmad Arsalan menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan. Kepalanya menggeleng pelan, anak muda jaman sekarang, pikirnya.


Dari mata turun ke hati, itu mungkin peribahasa yang sering digunakan. Cinta itu murni, tetapi terkadang ternista oleh orang-orang yang melakukan hal di luar batas dan mengatasnamakan cinta sebagai alasan.


Tidak salah Akram memandang seorang wanita, tetapi jika dalam tatapan itu mengandung banyak arti dan menginginkan lebih, jatuhnya sudah dosa.


“Kita harus segera melamar gadis itu.” Azizah menatap Akram yang mengangguk bahagia.


Akram semakin menunduk malu. Dia gugup ketika sang ayah sudah mengeluarkan sindiran yang dikemas apik diiringi nasihat.


“Kalau orang yang gak paham, pasti akan menyebut kalimat itu sentimen pada wanita. Padahal Nabi SAW ingin menunjukkan, bahwa daya goda wanita itu melebihi setan, dari depan menggoda dari belakang pun menggoda. Karena itu syariat benar-benar mewajibkan kita kaum muslimah harus menutup aurat,” sahut Azizah menambahkan.


Akram menunduk dan tersipu.


“Papa gak mau ngajari kamu mana yang benar dan salah. Kamu sudah dewasa dan jelas bisa memilah. Setelah menikah nanti jagalah pandangan dari sesuatu yang gak seharusnya kamu lihat dan jagalah hati untuk selalu ingat dengan Allah, agar senantiasa hatimu terjaga dari hal-hal yang bisa menyakiti hati lainnya.”

__ADS_1


Akram mengangguk khidmat. Setelah pembicaraan itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.





“Ya Rabb, aku percayakan semuanya hanya pada-Mu. Jika memang kami berjodoh, maka dekatkan dan lancarkan segala urusan kami dalam setengah menjalani ibadah terpanjang yang telah Engkau tentukan,” ujar Amara sambil menangkupkan tangan dan berdoa. Dari matanya mengalir cairan bening yang melewati pipi begitu saja.


“Ya Rabb, jika dia adalah yang terbaik untukku. Semoga dia adalah pria salih. Berbakti kepada kedua orang tuanya dan agamanya. Selalu menangis karena-Mu dan menjaga dirinya dengan doa hanya pada-Mu.” Seiring dengan doa dipanjatkan isak tangisnya terdengar.


“Ya Allah, aku meminta petunjuk kebaikan-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon keputusan-Mu dengan qudrat-Mu dan aku meminta dengan karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkau yang berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau Yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” Akram memberikan jeda pada kalimatnya, menunduk semakin dalam dengan penuh permohonan hanya pada Sang Pemberi Kehidupan.


“Ya Allah, sekiranya Engkau ketahui bahwa dia wanita yang baik baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka takdirkanlah dia untukku, mudahkanlah perjalanan kami, dan berkahilah aku padanya. Tapi jika dalam ilmu-Mu apa yang telah direncanakan akan membawa bencana bagiku dan bagi agamaku, membawa akibat dalam kehidupanku baik yang sekarang atau masa yang akan datang, jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Semoga Engkau takdirkan aku pada yang baik, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”


Di atas sajadah yang berbeda, di arah kiblat yang sama, di bawah langit yang sama yang mereka huni, keduanya memohon, bersimpuh dan merendahkan diri untuk meminta petunjuk dari apa-apa yang akan terjadi dalam hidup.


Melangitkan doa yang sama, berharap takdir akan berbaik hati mendengar doa-doa itu dan mengabulkan salah satunya.


Karena sesungguhnya manusia bisa merencanakan banyak hal, tetapi semua tetap atas persetujuan Sang Pencipta yang telah mengatur segalanya.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2