
Fatimah memandang sang ayah tak percaya.
Apa maksud ucapan pria paruh baya itu?
Berharap menikah dengan seseorang yang dicintai. Itu mustahil terjadi, karena pria yang telah mengisi hatinya telah menjadi suami dari wanita lain.
“Apa maksud Abah?”
“Menikahlah dengan pria yang kamu cintai.”
Fatimah menggeleng seraya meringis pelan. “Gak mungkin untuk saat ini, Abah. Dia pria beristri.”
“Jika kamu setuju, Abah yang akan mengurusnya,” jawab Zainudin meyakinkan.
“Sebenarnya apa yang ingin Abah katakan. Aku gak paham maksud dan tujuan Abah.” Fatimah mendongak, menatap mata sang ayah yang sendu.
“Menikahlah dengan dia yang kamu cintai. Kamu cinta dengan Akram, kan? Maka Abah akan mengusahakannya untukmu. Demi kebahagiaan kamu, Nak,” papar Zainudin pelan.
Fatimah justru menangis mendengar penurutan ayahnya. Tidak, dia tidak ingin merusak kebahagiaan wanita lain. Jika kebahagiaan yang didapat dengan menghancurkan kebahagiaan sesamanya, bukankah itu terdengar kejam.
“Abah!” pekiknya pilu.
__ADS_1
“Pria boleh memiliki lebih dari satu istri. Poligami itu gak dilarang. Akram juga pantas secara ilmu dan harta, jadi gak ada yang salah dengan itu,” jawab Zainudin pelan.
Fatimah semakin tergugu, bisa-bisanya sang ayah memiliki pemikiran dangkal seperti itu.
“Abah!”
“Demi kebahagiaanmu, Nak!”
Mendengar suara ribut-ribut dari kamar, Winata yang kebetulan melintas segera menghampiri suami dan anaknya.
“Ada apa ini?” tanyanya bingung, mendapati sang anak menangis pilu dan sang suami menunduk sedih.
“Apa Abah sudah gak waras? Bagaimana bisa Abah memiliki pikiran seperti itu? Masih banyak pria lajang yang mau mempersunting Fatimah, kenapa harus Akram?” geram Winata dengan emosi tertahan.
“Karena anak kita mencintainya. Dia pasti bahagia hidup dengan orang yang dia cintai,” balas Zainudin dengan helaan napas kasar.
Winata kaget bukan main. Dia heran, bagaimana suaminya bisa punya pikiran sedangkal itu.
“Cinta saja gak akan cukup untuk mengarungi bahtera pernikahan, Abah! Oke, mungkin Fatimah mencintai Akram, tapi belum tentu Akram akan membalas cintanya. Jika sudah seperti itu, apa Abah yakin Fatimah akan tetap bahagia hidup dengan seseorang yang bahkan tak menaruh perasaan lebih padanya? Seandainya itu terjadi pada Fatimah, apa Abah akan diam saja melihat suaminya diminta menikahi wanita lain?” Winata menahan segala sesak dan emosi bersamaan. Meski niatnya baik demi kebahagiaan anaknya, tetapi bukan dengan cara seperti ini.
“Dia memang gak memandang Fatimah karena mereka bukan mahrom, tapi akan beda cerita kalau mereka sudah suami istri. Akram paham bagaimana memperlakukan istrinya.”
__ADS_1
Winata benar-benar tak habis pikir dengan suaminya.
“Abah melakukan ini demi Fatimah. Abah ingin melihatnya bahagia meskipun terkesan salah.”
“Abah, aku sedang berusaha melupakan Mas Akram karena aku tahu, aku haram untuk memikirkan seorang pria, apalagi berstatus suami orang. Masalah aku mencintainya memang benar, aku pernah mengaguminya, tapi sekarang gak lagi. Cinta itu datangnya dari Allah, maka aku pun memohon pada-Nya untuk menghapus perasaan ini. Tolong, jangan lakukan hal apa pun yang menyakiti orang lain,” aku Fatimah pelan, dengan suara terbata.
Setelahnya Fatimah melangkah pergi dengan pelan karena diliputi perasaan bersalah.
“Poligami gak dilarang, bahkan di zaman Rasul, memiliki istri lebih dari satu bukanlah hal yang haram dilakukan,” ujar Zainudin pada istrinya.
“Gak ada yang melarang poligami, itu benar. Tapi harus ada keridhaan istri pertamanya, kamu gak lupa itu, kan? Istri pertama adalah wanita yang baik, dia gak memiliki kekurangan, bisa memberinya anak, masih bisa melayani dengan baik. Jika kamu meminta Ahmad Arsalan menikahkan putranya dengan putrimu, sama saja kamu zalim dengan istrinya.”
Zainudin tertunduk dalam. Tak menampik ucapan istrinya yang terbukti benar.
“Jangan memanfaatkan Ahmad Arsalan untuk keuntungan sendiri. Jangan kamu gunakan hutang budi untuk merusak kebahagiaan mereka.”
Winata terdiam selama beberapa menit untuk mengurai amarah yang membumbung tinggi. Meskipun dia ingin melihat Fatimah bahagia, bukan dengan cara seperti ini.
“Hanya karena nafsu, Abah lupa banyak hal.” Winata menghapus buliran bening yang meluncur membasahi pipinya. “Astagfirullah. Ampuni kekhilafan suami hamba, Ya Allah,” jeritnya.
To Be Continue ....
__ADS_1