
“Ibu bangga kamu bisa melewati ini semua, Mara. Maafkan kami yang terkesan tega meninggalkanmu. Ayah atau ibu gak ada niat seperti itu, kami hanya ingin kamu belajar menjadi lebih baik.”
“Iya, Bu. Aku paham,” jawab Amara dengan senyum, menyentuh tangan wanita yang telah melahirkannya. “Terima kasih dan maaf jika sampai sebesar ini Mara masih suka merepotkan,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
“Itu sudah tugas dan tanggung jawab kami sebagai orang tua, Mara.”
Amara memeluk ibunya sambil menangis pelan. Menangisi kekeliruan dan kesalahannya hingga membuat kedua orang tuanya susah.
“Maafkan aku, Bu.”
Tangan lembut Raisa mengusap punggung anaknya. “Suatu saat nanti kamu akan tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua. Semakin besar seorang anak, akan semakin besar pula kekhawatiran yang dirasakan. Apalagi untuk anak perempuan.”
Selepas magrib mereka berkumpul di meja makan. Adnan tampak tersenyum bahagia bercampur haru saat melihat perubahan dari diri putrinya. Dia memeluk Amara penuh kerinduan, menciumi puncak kepalanya dengan bangga.
“Ayah rindu kamu, Mara.”
“Aku juga. Rindu sekali, banyak-banyak,” kata Amara dengan senyum lebar.
Sikap Amara terlihat begitu manja jika bersama sang ayah, sangat berbeda ketika bersama dengan ibunya.
Selepas makan malam Amara dan kedua orang tuanya menghabiskan waktu bersama. Membahas banyak hal yang terlewati dengan suka cita. Sesekali terdengar gelak tawa yang memecah suasana.
Sekitar pukul sebelas malam, baru mereka semua mengakhiri obrolan dan kembali ke kamar masing-masing.
♡
__ADS_1
♡
♡
“Ini mau dibuang, Mbak?” tanya Nur, salah satu asisten rumah tangga yang usianya sedikit lebih muda dari Sumiyati.
“Iya. Semuanya masih bagus, kalau bibi mau ambil buat anak di rumah juga gak apa. Masih layak, gak ada yang rusak,” jawab Amara.
Hampir ada dua kardus penuh barang-barang yang telah dikosongkan dari kamarnya. Semua itu barang pemberian mantan calon suaminya.
Amara sengaja menyingkirkan semua itu untuk membuang kenangan mereka. Sebelum akhirnya pria itu benar-benar tak lagi berarti apa pun dalam hidupnya.
Setelah bersiap dengan pakaian rapi dan riasan tipis di wajah, Amara pergi dari rumah. Dia berniat bertemu dengan teman-temannya, menyambung komunikasi yang sempat terputus.
Mobil yang dikendarai memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan terkenal yaitu Tunjungan Plaza.
Amara menuju lantai enam dengan tujuan Starbucks. Ketika kakinya baru memasuki pintu, dia melihat lambaian tangan temannya.
Amara mendekat, tak lupa mengucapkan salam sebelum berpelukan dengan ketiga temannya.
“Masya Allah, Mara ... makin hari makin cantik saja.” Dini memeluk dan mencubit pipi Amara pelan.
“Sakit tahu!” omel Amara pelan.
“Alhamdulilah, kami semua bahagia dengar kabar kamu baik-baik saja. Semoga Allah segera ganti sedihmu dengan bahagia,” kata Ayu dengan senyum khas yang begitu anggun.
__ADS_1
“Aamiin. Terima kasih banyak karena kalian tetap selalu mendukungku dalam keadaan apa pun.”
“Kamu sampai kapan tinggal?” tanya Nisa.
“Cuma tiga hari,” jawab Amara.
Saat ketiganya bertanya tentang apa saja kegiatan yang dilakukan di sana, Amara menjawabnya dan menceritakan semuanya.
Tampak ketiganya begitu antusias mendengar cerita tersebut. Sejak awal mereka bertiga memang telah berhijab, saat berteman dulu Amara pernah minder dan merasa berbeda karena penampilannya yang selalu terbuka.
Mereka sudah kenal sejak lama saat masih duduk di bangku SMP, hingga saat ini. Mungkin Amara harus bersyukur karena memiliki teman yang benar-benar setia dan tulus tanpa memandang apa pun.
“Anakmu kok gak diajak, Din?” tanya Amara yang ingat jika salah satu temannya itu sudah memiliki anak.
“Sama suster. Gak diijinkan mama mertua dibawa keluar lah,” jawabnya sambil terkekeh.
Tiba-tiba ketiga temannya tampak diam dengan menatap ke arah pintu. Sesekali mereka saling pandang tanpa mengucap apa pun, Amara yang kebetulan memunggungi pintu tampak heran. Saat dia ingin menoleh, Ayu kembali mengajaknya bicara.
Begitu seterusnya sampai Amara tidak tahan dan menoleh dengan cepat. Melihat pemandangan yang ada di depannya.
Amara bisa melihat keterkejutan di wajah itu.
Mata mereka bertemu.
To Be Continue ....
__ADS_1