
“Kamu bahagia, Mara?” tanya Fatimah lirih.
“Alhamdulillah, Mbak.” Amara hanya tersenyum menanggapi.
“Ah aku penasaran sekali dengan kisah kalian. Bagaimana tiba-tiba kamu bisa menikah dengan suamimu? Setahuku kalian juga gak pernah bicara atau ngobrol.”
“Selalu ada jalan bagi Allah untuk mendekatkan jodoh kita, Mbak. Aku bertemu dengan Mas Akram pertama kali mungkin satu setengah tahun yang lalu, itu pun tanpa sengaja saat aku mengantar orang tuaku ke bandara. Lalu kami dipertemukan lagi di pondok Ustadz Yusuf. Tapi pertemuan kami selanjutnya saat aku sudah kembali ke Surabaya.” Amara tersenyum mengingat pertemuan mereka. Takdir yang akhirnya membawa mereka untuk bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan yang sakral.
“Kamu beruntung, Mara.” Fatimah berkata penuh arti. Dia sama sekali tak menatap ke arah lawan bicaranya, dia tengah menyembunyikan senyum getir yang ada di bibirnya.
“Insya Allah kamu juga akan menemukan pria yang tepat di waktu yang tepat pula, Mbak.”
Amara pamit pulang setelah bersama dengan Fatimah setengah hari. Selepas makan siang bersama, dia pamit pulang karena butuh istirahat.
“Mbak, jangan lupa berkabar, ya.”
Mereka berpelukan sebentar sebelum Amara memasuki taksi yang sudah dipesan.
“Hati-hati di jalan.”
Fatimah merasakan sesak di dadanya. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah dengan sendirinya. Apalagi saat mendengar bagaimana Amara menceritakan tentang suaminya yang luar biasa.
“Kenapa bukan aku? Allah, tolong hapuskan segala perasaan buruk yang ada di hatiku.”
__ADS_1
♡
♡
♡
“Kamu gak apa-apa aku pergi? Yakin? Aku cemas jauh dari kamu yang lagi hamil.”
“Gak apa-apa, Mas. Itu kan memang pekerjaan kamu dan tanggung jawabmu. Kamu gak bisa mangkir begitu saja. Aku gak apa-apa, kan ada mama di sini.”
“Akunya yang gak bisa jauh dari kamu.”
Amara tersenyum. Dia mengusap pipi suaminya penuh cinta dan mengecupnya lembut.
“Cintaku,” desis Akram pelan dan membawa Amara ke dalam pelukan.
Sore tadi Akram mendapatkan kabar bahwa dia harus terbang ke kalimantan karena sedikit ada masalah yang harus diselesaikan.
Bisa saja dia mengirim Hakim datang ke sana, tetapi dia harus melihat sendiri apa yang penyebab kegagalan yang terjadi.
“Berapa hari di sana?”
Akram menggeleng pelan. “Belum bisa memastikan. Tergantung di lokasi nanti.”
__ADS_1
“Pergilah, Mas. Selesaikan pekerjaanmu dan kembalilah dengan utuh. Aku dan anakmu akan menunggu.”
Akram mengangguk. Inilah yang disukai dari sang istri, wanita itu bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan. Dalam berumah tangga dia adalah kepala rumah tangga, tetapi dalam pekerjaan dia adalah pemimpin banyak orang. Tempat di mana semua orang menggantungkan hidup untuk keluarga mereka.
“Kabari apa pun yang terjadi. Kuusahakan selesai lebih cepat.”
“Jaga hatimu, jaga dirimu dan juga pandanganmu. Aku percaya suamiku bisa melakukannya,” kata Amara penuh arti. Dia bukannya tidak tahu bahwa banyak klien wanita yang menaruh minat pada suaminya. Masih muda, tetapi sukses dengan usaha sendiri. Paras dan kekayaan mendukung. Apalagi kurangnya?
Setelah kepergian Akram, Amara segera menyiapkan pakaian untuk sang suami. Dia mengambil koper berukuran besar dan merapikannya. Memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rutinitas yang dilakukan pengantin baru itu seperti biasa. Keduanya akan bercerita sambil saling berpelukan di atas ranjang.
Mereka benar-benar pasangan yang saling melengkapi. Satu sama lain bisa mengimbangi dan tak jarang mereka selalu bertukar pikiran.
Saling terbuka dan menghormati kekurangan atau kelebihan satu sama lain. Bukan justru bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat.
Suami ataupun istri memiliki tanggung jawab pada pasangan. Jangan karena merasa hebat dan tinggi lalu melupakan kewajiban dalam pernikahan.
Contohnya di luar sana banyak wanita yang bisa mencari uang sendiri, lalu saat ada masalah pernikahan mereka seakan menyepelekan. Bahkan dengan angkuh mengatakan bahwa dia tidak butuh laki-laki. Dia melupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Begitu pun dengan seorang pria. Mentang-mentang dia yang bekerja, dia yang cari uang, bukan berarti bisa merendahkan istri yang hanya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Banyak suami merasa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memasak, mencuci piring, mengasuh anak adalah pekerjaan domestik istri. Dia harusnya tahu bahwa tugas rumah tangga itu adalah kewajiban suami. Namun, seorang istri rela melakukannya karena kebaikan dan karena baktinya pada suami.
Menikah bukan hanya bertujuan untuk meneruskan keturunan, tetapi menikah merupakan ikatan sah dari dua insan berbeda, dua karakter yang berbeda, dua pikiran yang berbeda, dan dua sifat yang berbeda yang kemudian disatukan dalam bahtera rumah tangga sebagai suami istri.
__ADS_1
To Be Continue ....