
Winata menemui putrinya yang tengah melamun di kamar. Wanita itu menghela napas berat saat kakinya melangkah semakin dekat.
“Fatimah,” panggilnya seraya menyentuh pelan bahunya.
“Aku berusaha melupakannya, Umi. Mengeluarkan dia dari hati dan pikiranku,” sahut Fatimah pelan.
“Lakukan Nak. Itu mungkin terbaik karena dia pun gak halal untukmu. Jagalah hatimu untuk suamimu kelak. Saat jodoh hadir untukmu, jangan sampai kamu menyakitinya.”
Fatimah mengangguk pelan. Sejak pembicaraan dengan sang ayah tempo lalu, mereka tak pernah lagi membahasnya.
“Insya Allah, Umi. Semoga aku bisa menjaga hati untuk suamiku kelak.”
“Aamiin.”
Setelah kepergian sang ibu, Fatimah menghela napas panjang dan menghapus titik bening di sudut matanya. Bibirnya mengucap istighfar berkali-kali.
“Ya Allah, Ya Rabbi, Engkau pemilik hati dan jiwa ini. Engkau yang maha mengetahui segala hal yang terjadi di dunia ini. Engkau yang maha tahu apa pun isi hati setiap hamba-Mu. Tolong Ya Rabb, ampuni segala kekhilafan yang telah hamba lakukan. Engkau yang maha membolak-balikkan hati, tolong hapuskan segala perasaan yang ada di hati hamba untuk dia yang gak halal untukku. Berikan petunjuk dan keridhaan untuk hamba-Mu Ya Rabb. Jika memang tak ditakdirkan berjodoh, maka dekatkan jodoh yang lain yang Engkau rasa baik bagiku dan bagi agamaku.” Fatimah menengadahkan tangan seraya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Keesokan paginya langit Kota Kediri tampak mendung. Rintik hujan telah jatuh ke bumi sejak subuh tadi. Udara tampak sejuk akibat sisa-sisa air yang membasahi tanah dan tanaman.
Fatimah melangkah keluar dari rumah dan menuju pondok untuk mengajar. Sejak pulang ke rumah, dia memang kembali menjalani rutinitasnya mengajar. Biasanya hingga tengah hari dan kembali pulang setelah salat dzuhur.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara khas dari seseorang yang cukup dikenal.
__ADS_1
“Waalaikum salaam, Ustadzah Mutia.” Fatimah segera menoleh. Bibirnya tertarik melukis senyum samar dan mendekat pada wanita paruh baya itu. Mencium punggung tangannya takzim. “Apa kabar, Ustadzah? Semoga njenengan sekeluarga sehat selalu.”
Wanita di depannya justru terkekeh pelan. “Alhamdulillah kami sekeluarga baik.”
“Alhamdulillah. Ustadzah datang sama siapa? Kok sendirian?” Fatimah agak celingukan. Biasanya wanita itu selalu datang bersama dengan putrinya yang cerewet.
“Cari Hanum? Dia gak ikut, lagi kuliah,” jawabnya.
Fatimah mengangguk. Dia sampai lupa mempersilakan tamunya masuk ke rumah akibat terlalu bersemangat.
“Monggo masuk dulu, Ustadzah. Abah mungkin masih istirahat di kamar. Kalau Umi mungkin masih di tempat para pengajar.”
Kedua wanita berbeda usia itu melangkah memasuki rumah. Fatimah mempersilakan tamunya duduk dan pamit ke belakang membuat minum.
“Jangan repot-repot, Ning.”
Setelah membawa minuman dan kue kering ke depan, Fatimah berniat memanggil sang ayah, tetapi ditahan oleh Mutia.
“Mau bicara sebentar sama kamu,” ucapnya serius.
Fatimah pun hanya mengangguk dan menunggu dengan harap-harap cemas.
“Apa kamu sedang dalam khitbah laki-laki lain?”
__ADS_1
Tentu pertanyaan itu membuat Fatimah terkejut, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya
“Jika belum ... sebenarnya kedatanganku ke sini mau menyampaikan amanah. Ada seseorang yang ingin meminangmu untuk dijadikan istri.”
Bola mata Fatimah membulat sempurna. Kaget tentu tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.
“Untuk siapa, Ustadzah?” tanyanya agak gemetar karena syok.
“Putraku yang ada di Kairo. Dia ingin meminangmu jika benar kamu gak sedang dalam khitbah orang lain. Ihsan, namanya. Kakak Hanum.”
Fatimah tampak menggali ingatan tentang pria yang dimaksud. Namun, sama sekali tak ada ingatan apa pun tentang pria bernama Ihsan. Bahkan rasanya dia tak pernah berinteraksi dengan pria itu meski dia pernah mengajar di pondok Ustadzah Mutia.
Meski hanya tiga bulan menjadi pengajar di sana, tetapi itu bukan waktu yang sebentar. Bagaimana bisa dia tidak tahu apa pun? Bertemu pun tak pernah.
Hanum memang sering menceritakan tentang kakaknya yang ada di Kairo. Namun, tak pernah sekalipun dia menyebutkan namanya.
Fatimah tampak termenung. Berkali-kali dia memejamkan mata sambil menghela napas pelan.
Apakah mungkin ini petunjuk yang telah diberikan Allah padanya? Bahwa ada jodoh lain yang tengah menantinya.
“Bagaimana Ning?”
Fatimah tak bisa memutuskan apa pun sebelum bicara dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Kulo pamit sebentar, Ustadzah. Mau panggil Abah sama Umi dulu. Nanti njenengan bisa bicara dengan mereka.”
To Be Continue ....