Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Sebatas Teman


__ADS_3

Rupanya kedatangan Nadira sudah dinantikan, wajarlah ini adalah rapat gabungan pertama setelah proyek sempat di tunda. Ada 3 petinggi TBL juga beberapa perwakilan dari Amecrop.


Ucapan selamat atas pernikahan Nadira dan Bagas pun terlontar dari semua yang hadir di rapat tersebut. Nadira tersenyum menanggapinya. Juga sedikit tawa saat ada yang terasa lucu.


Rapat kali ini cukup menghibur dirinya yang sedang merasa sendiri di momen bulan madu yang seharusnya berlangsung seperti para pengantin di luaran sana.


"Baiklah rapat kali ini selesai, jika ada sesuatu yang perlu di ubah,nanti saya hubungi kembali." Ucap Nadira menyelsaikan rapatnya.


Nadira pun keluar dari kantor TBL dengan di temani Liam di belakangnya. Kemudian Nadira membuka tangannya meminta kunci Mobil dari tangan Liam.


"Izinkan saya untuk mengendarainya." Ucap Nadira.


Liam pun memberikan kuncinya dan segera duduk di samping kemudi.


Ini kali pertama Liam merasakan Bagaimana cara Nadira membawa mobil, ia berpegangan dengan erat,karena tiba-tiba saja Nadira menginjak Gas, dan mobil melaju dengan kencang.


Sampailah mereka di depan Nadvilla, Nadira kemudian turun dan mengucapkan kata Terimakasihnya dan berlalu tanpa menoleh kearah Liam.


Liam hanya menatap sendu kearah kursi kosong di sampingnya, Nadira hanya meninggalkan bau harum tubuhnya. Liam merasa tak ingin kehilangan semua itu, meski hanya bau harum Nadira.


Liam kemudian turun dari mobil, dengan langkah cepat ia mengejar Nadira.


"Nadira...." Ucapnya membuat Nadira yang sedang berjalan terpaksa menoleh.


"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Nadira yang menelan ludah ketika Liam semakin mendekatinya.


"Kita perlu bicara." Tutur Liam menarik tangan Nadira untuk duduk di kursi depan kamar villa Nadira.


"Jika ini mengenai pekerjaan kita....."


"Lupakan pekerjaan, ini tentang kita." Ucap Liam memotong.

__ADS_1


Seketika Nadira mulai merasa aura panas di tubuhnya, jantungnya pun mulai berdegup kencang.


Apa kiranya yang akan di katakan Liam, Nadira sungguh tidak tahu.


"Aku tidak bisa seperti ini, aku tahu kamu sudah menikah, kamu memiliki Bagas yang sangat sempuran. Aku tahu akan semua itu, tapi apakah kita tidak bisa berteman saja?"


"Kita memang teman, rekan bisnis."


"Ya kamu benar kita rekan bisnis, tapi jauh sebelum itu kita adalah teman Ra, Jangan buat dinding di antara kita. Aku bukan Sandy yang mecari beribu cara untuk mendaptakan kamu, aku Liam pria yang rela agar kamu bahagia." Tutur Liam, cukup lama Liam memendam perasaannya itu.


"Aku mengerti, maafkan aku, ini juga bukan hal mudah iam. Aku hanya tidak percaya diri di dekat kamu. Di sisi lain aku juga merasa bersalah. Karena kamu selalu baik meski aku sudah berkali-kali menyakitikamu."


"Buang rasa bersalah itu, aku senang melihat kamu saat ini. Aku hanya ingin hubungan kita tidak kaku mengingat kita sudah saling mengenal sangat lama."


Nadira terdiam, ia merasa sikapnya berlebihan sampai Liam mempertanyakannya. Namun ia takut ini adalah hal yang salah, ia khwatir akan menimbulkan masalah baru. Tapi semua yang Liam katakan ada benarnya, hubungan mereka telah selesai dan tidak ada salahnya untuk berteman.


...*****************...


"Itu sangat wajar Dira, aku juga punya mantan dan kita masih berhubungan baik, bahkan Diaz juga mengenalnya." Jawab Anggun dari sebrang telphonnya.


"Kamu yakin Bagas juga akan menerimanya?" tanya Nadira lagi.


"Aku pikir Bagas tidak keberatan, apa lagi Bagas sudah mengenal Liam sejak lama. Hanya saja kamu perlu bicara lagi tentang ini kepada Bagas. Agar Bagas tidak salah paham." Jelas Anggun.


Nadira bisa lega setelah menceritakan semuanya kepada Anggun, Ia tidak ingin ini menjadi bumerang untuk pernikahannya bersama Bagas. Karena ia ingin pernikahannya kali ini berhasil. Ia tidak ingin bercerai untuk kedua kalinya.


Hari menjelang malam, rasanya sangat bosan, apa lagi saat ini ia seorang diri, perbedaan waktu membuatnya dan Bagas susah untuk berkomunikasi.


Ia hanya berharap Bagas sevepatnya menyelesaikan pekerjaannya dan segera datang menemuinya.


...*****************...

__ADS_1


"Sepertinya harimu sangat baik." Ucap Tristan begitu Liam kembali setelah mengantarkan Nadira pulang.


Liam menghentikan langkahnya tepat di depan tristan, ucapan tristan tadi seperti sindirian untuknya.


"Apa ada yang salah?" Tanya Liam dengan sedikit kesal.


ketegangan sangat terlihat dari keduanya. Boy yang melihat itu mulai ancang-ancang untuk melerai kedua sahabatnya.


"Tidak ada, hanya saja terlihat menyedihkan." Ucap tristan yang kesal denga tingkah laku sahabtnya yang tetap saja bertahan di sisi wanita yang telah menyakitinya.


Boy mulai bersiap untuk melerai kedua sahabatnya, namun ternyata Liam lebih dulu menghindar dengan meninggalkan Tristan.


Liam memilih untuk pergi lagi, dari pada berdebat dengan tristan, karena ia sangat tahu karakter sahabtnya. yang tristan katakan adalah untuk kebaikannya. Namun terkadang penyampaian Trisatan agak berbeda dari orang pada umumnya.


Liam kembali melajukan mobilnya, tak tentu arah, sampai tak sadar ia kembali ke Nadvila. Cukup lama ia berdiam memandangi villa milik Nadira, sampai ia melihat Nadira tiba-tiba keluar dan mengendari mobilnya sendiri.


Perlahan ia melajukan mobil tepat di belakang Nadira, ia hanya ingin memastikan Nadira baik-baik saja, apa lagi ia belum terlalu mengetahui seluk beluk daerah ini.


Ternyata mobil Nadira mengarah ke sebuah mall besar tak jauh dari villanya. Liam penasaran dengan semua yang akn Nadira lakukan, ia terus mengikuti Nadira tanpa di ketahui. Memang terlihat aneh, Liam seperti seorang penguntit, Tapi ia senang dengan hanya melihat punggung Nadira saja.


"Kamu disini juga?" Tanya Liam menepuk bahu Nadira, ia memutuskan untuk menampakan diri seolah mereka bertemu dengan ketidak sengajaan.


"Ya, kebetulan aku ingin menonton, sepertinya kita di studio yang sama." Balas Nadira yang melihat tiket yang sama berada di tangan Liam.


Kini Nadira nampak santai berada di dekat Liam, setelah memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan keputusannya.


"Iya. Lain kali kamu bisa menghubungi untuk sekedar menemani menonton atau semacamnya." Tutur Liam, liam bersedia menemani kapanpun Nadira membutuhkannya.


"Baiklah, kamu memang teman yang baik." ucap Nadira dengan senyum riangnya.


Mereka pun masuk bersama meski dengan nomor kursi berbeda, Namun itu hal baik bagi mereka, hubungan keduanya perlahan mulai mencair, tak ada lagi ketegangan juga dinding yang membatasi.

__ADS_1


Setidaknya ini sudah cukup bagi Liam, bisa tetap berada di sisi Nadira namun dengan setatus yang berbeda. Karena yang Liam inginkan hanya melihat Nadira untuk waktu yang sangat lama.


__ADS_2