Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Kabar Kehamilan Nadira


__ADS_3

Pagi sekali Liam sudah meninggalkan kediamannya, dengan membawa mobilnya Liam pergi menuju Nadvilla. Ia sangat bersemangat untuk merawat Nadira, menyiapkan sarapan pagi untuknya. Begitu sampai Nadvilla, liam langsung di sambut oleh pekerja villa, nampaknya mereka sudah mengenal Liam karena seringnya berada di Nadvilla.


Liam membuka handel pintu kamar Nadira yang ternyata tidak terkunci, iapun segera masuk dan berlari kearah kamar mandi begitu mendengar suara Nadira. Dia segera membantu nadira yang tengah mual dan bahkan muntah lagi, Liam kemudian melihat sarapan pagi sudah tersedia di meja kamar Nadira, dan itu yang menjadi penyebab mualnya.


Liam membantu nadira untuk kembali berbaring di atas kasurnya. Ia kemudian mengambil makanan yang sudah tersaji di meja kamar Nadira.


"Kamu tidak bisa memakan ini. untuk kedepannya aku yang akan membuat makanan untukmu." Ucap Liam membawa pergi makanan dari hadapan Nadira.


Nadira merasa  tenang memiliki Liam di sisinya, dia tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan pria yang kini menjadi teman satu-satunya. Sementara Suaminya sendir hingga detik ini masih belum mengabari. Suasana hati Nadira sejak kemarin selalu berubah, kadang sedih ada kala senang, senang karena dianugrahi seorang anak, dan sedih karena merasa seorang diri.


takbutuh waktu lama bagi Liam, dia sudah datang kembali ke kamar Nadira dengan makanan buatannya, kali ini ia memiliki tanggung jawab baru, mengurusi Nadira yang sedang mengandung adalah sesuatu yang tidak bisa ia ganti dengan apapun.


Liam kemudian mengajukan untuk menyuapi Nadira, dan betapa senangnya nadira tidak menolaknya, Nadira membiarkan Liam menyuapinya, bahkan dengan lelucon yang dibuat Liam membuat Nadira tertawa. Dan itu sesuai dengan isi buku yang Liam baca, bahwa tawanya wanita hamil sangat baik bagi perkembangan bayi di dalam kandungannya.


Tiba-tiba ponsel Nadira berbunyi, Nadira sangat senang untuk segera mengangkat panggilan yang ternyata dari suaminya. Melihat itu ada desiran aneh di hati Liam, yang seharusnya Liam singkirkan, Seolah tak peduli dengan itu semua Liam tetap duduk mendengarkan percakapan dua sejoli yang samar-samar terdengar di telinganya. dan itu membuat hatinya mulai gerah.


Nadira sangat antusias menjawab panggilan dari suaminya, ia pun segera menyampaikan kabar bahagia yang sejak kemarin tertunda.


"Bli, aku hamil, ternyata test kemarin tidak akurat." Ucap Nadira menyinggung tentang alat test kehamilan yang mereka gunakan kemarin.


Namun reaksi Bagas di luar dugaan, Nadira tak mendengarkan satu katapun keluar dari mulut Bagas.

__ADS_1


"Bli, kamu masih disanakan?' tanya nadira melihat ponselnya yang  ternyata masih tersambung.


"Bli, kenapa kamu diam, kamu tidak senang dengan kabar ini?" Tanyanya lagi dengan suara yang mulai bergetar, Nmaun tiba-tiba saja panggilannya terputus.


Liam menoleh dengan menautkan keningnya, ia tidak tahu apa yang di bicarakan Bagas sampai Nadira terlihat sanagt sedih.


"Ada apa? apa yang Bagas  katakan?" Tanya Liam kemudian,


Nadira tak menjawab pertannyan Liam, ia hanya menggelengkan kepalanya, dan kemudian memluk Liam sambil mulai terisak.


Liam panik mendapati Nadira yang menangis, Liam hanya berusaha menerima pelukan dari nadira seraya mengusap punggunya. suasana hatinya berbalik 180 derajat, senyum bahagianya mudah sekali berubah jadi tangis. Sedangkan menurut buku yang sudah ia baca, wanita hamil tidak boleh menangis, karena akan menghambat perkembangan janin di kandungannya.


Tak lama ponsel nadira kembali berbunyi, nadira mengambil nafas dalam dan kemudian menjawab telphonnya.


Nadira tidak puas dengan perkataan Bagas, semua itu sangat jauh dari perkiraannya, Bagas tak terdengar senang dengan kabar kehamilannya, meski setiap katanya benar, namun perasaannya tidak sampai di hati Nadira.


Berbeda dengan pria diseblahnya, Meski Nadira bukan siapa-siapa bagi Liam, namun perlakuan Liam terasa sangat tulus, bahkan seolah dia adalah ayah dari bayi yang di kandungnya.


                                                        *******************


Sebenarnya bagas bahagia mendengar kabar kehamilan Nadira, hanya saja ia belum siap karena banyak hal yang masih menjadi pertimbangannya, salah satunya adalah jarak diantara mereka, yang membuat Bagas tidak bisa memfokuskan perhatiannya kepada Nadira dan calon anaknya nanti. Dan masih banyak faktor lain.

__ADS_1


Bagasmenggengam erat ponselnya, kabar yang di dengar dari sang istri membuatnya sangat terkejut, ia berharap ini hanya mimpi. Bahakn ia tidak bisa mengontrol keterkejutannya, hampir saja ia membuat Nadira mengetahui apa yang dirasakannya.


Bagas tidak tahu mengapa dia menjadi gelisah setelah mengetahu kehamilan Nadira, Rasa cemas mulai ia rasakan, bahkan ia tidak fokus untuk bekerja, keringat dingin mulai keluar dari keningnya,  sekilas memori masa kecilnya memenui isi kepalanya. Bagas mencengkram erat kepalanya, bahakan kini ia mulai memukul kepalanya dengan keras. kepalanya mulai terasa sakit, namun ingatan masa kecilnya tak juga pergi.


Liam meraih gelas berisikan air putih di meja kerjanya, ia segera meminumnya sampai habis tak tersisa, barulah ia bisa kembali bernafas dengan teratur, memori masa kecilnya perlahan menghilang, dia tidak mengerti mengapa menjadi seperti ini. Kenangan pahitnya dulu teringat kembali. dan ini yang selalu ia takutkan.


                                                        **********************


Liam kembali ke pekerjaannya, dengan berat hati ia meninggalkan Nadira seorang diri, dengan berjanji ia akan secepatnya kembali.


Tristan sudah menunggun kedatangan Liam, kali ini Liam datang sangat terlambat, dan memvbuat Tristan sedikit kesal, karena ia tahu keterlambatan Liam karena seorang wanita hamil.


"Kita sudah sangat terlabat.' Ucap Tristan geram.


Liam pun melihat jam di pergelangan tangannya, "Kita masih memiliki cukup waktu." Balas Liam tetap santai sesuai gayanya.


Pekerjaaannya berjalan lancar, bahakan TBL mendaptkan projrct baru dan itu berkat Liam. Tristan tidak memungkiri peran penting Liam, meski dirinya  sedang di sibukan hal lain, namun ia tidak menelantarkan pekerjaannya.


"Mau kemana, kita harus merayakan keberhasilan ini."Cegah tristan begitu melihat Liam hendak pergi. karena seperti biasa mereka bertiga akan merayakan setiap keberhasilan mereka, perayaan kecil-kecilan, wujud rasa syukur mereka.


"Aku harus kembali menemani Nadira, dia butuh aku." Ucap Liam segera bergegas menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan tristan,

__ADS_1


Lagi-lagi tristan dibuat kesal, ia selalu kalah dengan Nadira, Namun  kini ada sesuatu yang tristan sadari, Sahabtnya mulai brubah, ia sudah seperti selayaknya manusia, layaknya seorang pria, mulai tersenyum, mulai bergairah, mulai bahagia, tidak lagi menggeluti pekerjaan. meski harus melalui istri orang.


__ADS_2