
Sudah beberapa hari semenjak kepulangannya, nadira belum juga bertemu dengan Bagas, selalu saja ada alasan pekerjaan yang membuat Bagas memilih untuk tinggal di hotelnya.
Malam ini puncak kesabaran Nadira sudah di ujung batasnya, setelah berusaha menghubungi Bagas dan dengan alasan yang sama Bagas memberitahu bahwa dia tidak bisa pulang dan meminta Nadira untuk tidak menunggunya. Nadira yang kesal kemudian membawa kunci mobil untuk mendatangi Hotel tempat suaminya bekerja.
Dengan perut besar Nadira membawa mobil sampai di depan Gasturi Hotel. Ia kemudian turun dan dengan langkah cepat nadira masuk kedalam hotel, dan melewati beberapa staff hotel yang membungkuk menyambutnya.
"Apa pak Bagas di dalam?" Tanya Nadira kepada Tia sekretaris Bagas yang hendak pulang.
Belum juga Tia menjawab, Nadira tiba-tiba masuk tanpa dapat di cegah Tia. Tia tidak bisa berbuat apapun selain membiarkan Nadira masuk dan memilih untuk pulang.
Nadira melihat Bagas yang berdiri di dekat jendela, yang kemudian berbalik saat pintu ruanganya terbuka.
"Nadira, mengapa kamu ada disinu?" Tanya Bagas yang berjalan mundur saat Nadira mulai mendekatinya.
"Bli, aku sangat merindukanmu." Ucap Nadira segera memeluk Bagas. melepaskan rasa rindu yang selama ini sudah tak terbendung, sejak kehamilannya ia sudah menantikan untuk bersama sang suami, Hingga kepulangannya dan sampai detik ini ia baru bisa sedekat ini lagi dengan suaminya.
Namun hal lain yang dirasakan Bagas,Bagas hanya diam, tak membalas pelukan yang Nadira berikan, karena, dirinya seperti di hantam ribuan puzzle memori masa lalunya, membuat kepalanya seketika menjadi sakit, bahakan dirinya sulit untuk mengatur nafasnya.
Bagaspun melepas pelukan Nadira dengan paksa, dan kemudian pergi meninggalkan Nadira yang dengan kebingungan.
Nadira menatap nanar kepergian Bagas, Dia tidak mengerti mengapa Bagas menolak pelukannya, bahkan dengan jelas Bagas menghindarinya. Ternyata selama ini benar adanya, bukan karena pekerjaan melainkan karena Bagas tak ingin bersamanya. Ia sangat terpukul dengan sikap Bagas.
__ADS_1
Air mata Nadira tak bisa terbendung lagi, dengan mengusap perutnya yang mulai membesar, Nadira berusaha tetap kuat, dan meyakinkan dirinya bahwa Bagas pasti memiliki alasan sehingga di bersikap seperti ini.
Nadira tidak ingin menyimpulkan yang nantinya membuatnya semakin merasa sakit.
Tiba-tiba Ponsel Nadira berbunyi, dan ternyata itu dari Bagas, Nadira segera mengangkatnya, dan menanyakan yang sebenarnya terjadi kepada Bagas, sehingga bersikap seperti tadi.
Namun Nadira tak mendengar apapun, karena Bagas hanya diam saja, sementara panggilannya masih tersambung.
"Bli, kamu kenapa?" "Tolong katakan sesuatu " Pinta Nadira lewat sambungan telphonnya.
Namun tak lama panggilannya terputus, dan sebuah pesan masuk.
Nadira segera membuka pesan yang Bagas kirimkan. Dan itu berisi sebuah alamat, Bagas meminta Nadira untuk datang kealamat tersebut.
...****************...
Liam sedang membongkar isi kopernya, karena baru saja ia sampai di kota kelahirannya, akhirnya dia bisa kembali dan menetap, setelah bertahun-tahun hidup di negri orang.
Liam sementara tinggal di sebuah apartemen sampai rumah yang akan ia tempati selesai di bangun, dan itu semua ia lakukan tanpa sepengetahuan orang tuannya, bahkan kepulangannya pun orang tuanya tidak tahu, karena Liam sengaja untuk menunda memberitahu kedua orang tuanya.
Terdengar ponselnya berdering, Liam kemudian beranjak untuk mengambil ponselnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Bagas...," Ucapnya membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
Liam kemudian segera menerima panggilan dari Bagas.
"Hallo...." Ucap Bagas begitu menempelkan ponsel di telingannya.
Cukup lama Liam menunggu sampai ia harus melihat ponselnya masih tersambung atau tidak. dan pada akhirnya Bagas mengeluarkan suaranya.
Liam merasa simpati dengan apa yang di alamai Bagas, ternyata selama ini oengobatannya belum membuahkan hasil yang diinginkan, Namun tak bisa di pungkiri ada rasa senang karena ada setitik harapan bagi Liam untuk kembali bersama Nadira. Namun Liam tetap memberi saran untuk Bagas menceritakan semua yang di alaminya kepada Nadira, dan biarkan Nadira yang memutuskan setelah mengetahui semuanya.
Liam sadar bahwa dia tidak boleh egois, karena jika Nadira dapat menerima keadaan Bagas dan itu membuat Nadira Bahagia maka Liam akan membiarkan itu terjadi. Karena Liam selalu ingin Nadira Bahagia, walaupun tidak bersamanya.
...****************...
Nadira sudah berada di alamat yang Bagas berikan, ia berdiri di sebuah tempat praktek dokter, Nadira berusaha memastikan bahwa tepat yang ia tuju adalah benar. Karena ia merasa aneh Bagas memintanya untuk datang menemui psikiater.
Meski ragu Nadira tetap masuk untuk menjawab kebingungannya. Di sana Nadira dipersilahkan untuk langsung menemui dokter yang selama ini menangani suaminya.
Nadira sangat terkejut karena ternyata selama ini suaminya sering konseling di tempat ini.
Dokter pun mulai menceritakan semua yang terjadi kepada Bagas atas permintaan Bagas. Hingga terjawab sudah perubahan Bagas akhir-akhir ini.
__ADS_1
Nadira sangat merasa bersalah, karena ia tidak mengetahui tentang kondisi suaminya. Namun apa yang di ucapkan dokter tadi sangat membuatnya terkejut, karena trauma suaminya berpengaruh pada nasib rumah tanggnya. Sementara ia sangat mempikan sebuah keluarga yang lengkap juga bahagia. Sementara Bagas harus menarik diri untuk tidak berdekatan dengannya juga bayi dalam kandungannya. Padahal,Nadira ingin anaknya kelak tidak seperti dirinya yang kehilangan kehadiran orang tua.
Sepanjang perjalanannya pulang, Nadira terus berpikir akan nasib rumah tanggnya, langkah apa yang akan ia ambil demi kebaikan semuanya. Terutama Kebaikan dia juga anaknya.