Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Titipan Tuhan


__ADS_3

Pagi hari Nadira sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi, ia merasa mual sejak bangun dari tidurnya, bahkan isi perutnya sudah terkuras habis, sampai hanya cairan yang keluar dari dalam perutnya. bahkan makanan yang ia pesan semalam tak tersentuhnya, karena tiba-tiba mulut dan perutnya menolak makanan tersebut. Sehingga membuat Nadira menjadi semakin  lemah bahkan kini ia berjalan dengan berpegangan dinding untuk sampai  kembali ke tempat tidurnya.


Nadira tak sadar bahwa dirinya tertidur begitu ia kembali berbaring, sampai deringan ponsel membangunkannya. Nadira berusaha menggapainya dengan menggeser posisi tidurnya, sungguh ia tak sanggup lagi untuk menggerakan badannya.


"Hallo iam..." Ucapnya lemah.


"Kamu dimana? kamu tidak lupakan hari ini kita ada rapat." Ucap Liam memberitahukan bahwa seharusnya Nadira sudah sampai di tempat yang sudah di janjikan. Tidak biasa Nadira terlambat, biasanya dia sudah datang 10 menit sebelumnya, apa lagi kali ini tidak ada Bagas yang menemani sehingga tidak ada alasan untuk keterlambatannya.


"Batalkan saja rapat hari ini...." Ucap Nadira sebelum panggilannya terputus. Nadira sudah tak memikirkan masalah rapatnya karena kondisinya yang sangat tak berdaya. Bahkan kini untuk membuka matanya saja ia sudah tak kuat.


"Hallo Dira, Nadira....."  Liam tiba-tiba menjadi khawatir sebab ia merasa ada yang berbeda dari suara nadira.


"Sepertinya sesuatu terjadi dengan bu dira, kita tunda saja rapat kali ini." Ucap Liam kepada Tristan  yang sudah setengah jam menunggu kedatangan Nadira.


Liam kemudian melesat meninggalkan restoran tempatnya rapat  untuk menuju Nadvilla. Liam juga kembali menghubungi ponsel Nadira, namun panggilannya tak dijawab, dan itu semakin membuatnya khawatir.


Liam segera berlari masuk, melewati beberapa pengunjung, bahkan hampir menabraknya,  Namun ia tak peduli, karena ia hanya ingin segera sampai di kamar Nadira.


tok....tok....tok....


Liam sedari tadi mengetuk pintu kamar nadira, namun sekeras apapun ia melakukannya, Nadira tak juga membukanya.


Kemudian Liam lari kembali menuju resepsionis, untuk meminta kunci cadangan kamar milik Nadira. Dengan sedikit ancaman, karena sulit mendapatkan kunci itu, namun  akhirnya Liam berhasil mendapatkannya juga. tak sia-sia olah raga yang di lakoninya, ia bisa berlari cepat untuk kembali sampai di depan kamar Nadira yang jaraknya cukup jauh dari pintu masuk villa.


Liam dibuat terkejut, karena nadira sudah terkulai lemas di tepi tempat tidur, ia pun segera menghampiri, dan mencoba memanggil nama Nadira untuk menyadarkannya.

__ADS_1


"Nad, nadira sadar." Ucapnya berulang.


Liam kemudian dengan sigap menggendong nadira untuk ia bawa kedalam mobilnya. dengan dibantu pelayan yang juga ikut menemaninya masuk ke dalam kamar Nadira tadi.


Liam kemudian tancap gas, membawa mobilnya dengan cepat mencari rumah sakit terdekat, ia sesekali menoleh kearah belakang, memastikan kondisi Nadira.


Dengan kembali menggendong Nadira, Liam berteriak memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Nadira.


Liam sangat panik, ia tak ingin terjadi hal buruk kepada Nadira. Hatinya hancur melihat Nadira lemah seperti itu.


Tak butuh waktu lama, dokter kemudian menghampiri Liam setelah memeriksa keadaan nadira.


"Apa anda suaminya?" Tanya sang dokter dengan tersenyum. Bahkan Liam heran melihatnya, karena ia sendiri tak bisa untuk tersenyum menghadapi situasi seperti ini.


"Selamat istri anda tengah mengandung." Ucap sang doketr menjawab pertanyaan Liam atas senyum yang sedari tadi disuguhkan,


Mendengar ucapan dokter Liam membelakan matanya, ia sangat terkejut dengan kabar yang baru saja ia dengar, disisi lain ia juga merasa senang karena ia yakin dirinya yang pertama mendengar kabar bahagia ini.


"Saya tunggu diruangan saya." Ucap dokter setelah memberikan selamat kepada Liam.


Liam masih berdiri dengan kaku, ia bingung harus berbuat apa, karena tadi ia tak sempat memperkenalkan diri, sehingga membuat dokter salah mengenalinya. Namun itu bukan masalah besar, karena ia harus melihat keadaan nadira secara langung, barulah ia menyusul sang  dokter keruangannya.


Begitu sampai di dalam ruang dokter yang merawat Nadira, Liam di beri beberapa saran untuk kehamilan Nadira, bahkan hasil USG tadi di tunjukan kepada Liam. dokter menjelakan secara rinci, begitu juga Liam menyimaknya seperti seorang suami sesunggunya.


"Saya akan beri resep agar bu dira bisa masuk makanan.dari pemeriksaan tadi sepertinya tubuh bu dira menolak makanan yang biasa dimakannya. Ini sangat jarang terjadi, namun saya yakin resep ini akan berhasil." jelas sang dokter.

__ADS_1


Setelah mendengar semua yang harus Liam dengar sebagai seorang suami, ia kemudian pamit, bahkan Liam lupa untuk meluruskan bahwa dirinya bukan suami dari Nadira.


Laim kembali menemui nadira ia duduk disisi Nadira yang masih belum sadarkan diri, ia  perlahan membelai pucuk kepala Nadira, ia miris melihat Nadira terbaring lemah seorang diri tanpa suami. Tiba-tiba saja mata Nadira perlahan terbuka, sontak saja Liam menghentikan belaiannya di kepala Nadira, karena kini Nadira mulai tersadar.


"Liam aku dimana?" Tanya nadira yang terbangun di tempat yang menurutnya asing.


"Kamu sudah baik-baik saja, sekarang kamu berada di rumah sakit." Ucap Liam memberitahu. Liam kemudian memberitahukan tentang kehamilan Nadira karena sepertinya Nadira sendiri  juga belum mengetahui hal itu.


"Maksud kamu aku hamil?" tanynya seaakan tiidak percaya dengan apa yang didengarnya. Liam kemudian menujukan hasil USG yang  di berikan dokter tadi.


Nadira melihat hasil USG itu dengan tatapan haru,kemudian ia memeluk Liam untuk berbagi rasa bahagiannya, karena ia tidak menyangka dengan hasilnya, ia pikir alat test kehamilan kemarin benar. namun ternyata itu salah.


Liam sangat tegang menerima pelukan Nadira, disini ia merasa seperti menjadi suami sungguhan, ia merasa sama bahagianya dengan kehamilan ini. Meski bukan dia ayah dari janin yang Nadira kandung. "Iya kamu hamil Nad." Jawab Liam.


"Aku sangat bahagia iam, ini terdengar seperti mimpi." ucap Nadira yang masih tidak percaya meski sudah melihat hasilnya.


Setelah infus di tangan nadira habis, mereka pun meninggalkan rumah sakit sesuai apa yang di perintahkan dokter. sepanjang perjalanan pulang Liam membiarkan Nadira beristirahat meski energinya sudah kembali pulih.


"Saat ini ada dua nyawa yang harus kamu pikirkan, jaga kondisi kamu nad." Ucap Liam selayaknya seorang suami sejati. itulah yang dirasakan Liam saat ini.


Nadira mengangguk dengan bibir yang sedari tadi tak lepas dari senyumnya.


"Terimakasih iam..." Ucap Nadira kemudian memejamkan matanya.


Nadira tak bisa melukiskan rasa bahagianya, mendapatkan hadiah terindah dari tuhan di awal pernikahannya, yang belum tentu pasangan lain dapatkan. ia hanya ingin segera sampai di Nadvilla, menemukan ponselnya kemudian berbagi kebahagiaan ini dengan suaminya. karena ia yakin bagas akan jauh lebih bahagia dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2