
Surabaya.
Sudah seminggu sejak kepulangannya kembali ke kota asal, Amara mengatakan niatnya pada ayah dan ibunya bahwa dia ingin kembali ke Jakarta untuk bekerja. Namun, tegas sang ayah menolak permintaan itu dan memintanya mengurus Adisa Group.
Berbeda dengan Amara yang menolak keputusan tersebut. Sebab, dia tidak berpengalaman dalam memimpin suatu perusahaan.
Tidak puas dengan keputusannya, sang ayah memintanya mengambil alih restoran ibunya, kembali Amara menolak karena dia memang tidak ada bakat sama sekali.
Namun, keputusan final tetap ada pada Adnan saat pria paruh baya itu sudah memutuskan.
“Satu-satunya anak ayah sama ibu cuma kamu, kalau kami sudah tua tetap kamu yang akan ambil alih semua usaha kami. Sekuat apa kamu menolaknya, suatu saat itu akan jadi milikmu pada akhirnya.” Begitu kata Adnan kala itu.
“Aku lupa kalau hanya Amara Khaira Shaza putri dari Adnan Hamish dan Raisa Andriana.” Amara tersenyum menatap kedua orang tuanya.
“Kamu harus mulai belajar dari sekarang.”
“Iya, Ayah.”
“Besok bersiaplah, ayah akan antar kamu ke kantor dan mengenalkan kamu sebagai direktur baru di sana.”
“Memang sekarang siapa yang jadi direktur?”
“Masih dipegang sama Juan. Tapi dia juga harus kembali ke Kalimantan mengurus perkebunan ayahnya yang sekarang sakit-sakitan.”
Juan Abrisam Kahfi merupakan sepupunya. Orang tuanya tinggal di Kalimantan untuk mengurus bisnis perkebunan sawit.
Sejak remaja Juan tinggal bersama mereka di Surabaya. Namun, saat beranjak dewasa Juan memilih menempati sebuah apartemen untuk belajar mandiri.
“Ya Allah, aku melupakan sepupuku itu.” Amara terkekeh pelan sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
“Dia sudah ada calon istri, katanya,” ujar Raisa sambil meletakkan cokelat panas di atas meja.
“Alhamdulilah, akhirnya bujang lapuk itu laku juga,” kekeh Amara menyindir sepupunya. Juan sudah berusia hampir tiga puluh dua tahun, tetapi tak pernah terlihat menggandeng seorang wanita. Dulu dia sempat berpikir bahwa sepupunya itu memiliki kelainan.
“Gak boleh ngomong seperti itu, Mara.”
“Bercanda, Bu.”
Raisa dan Adnan menggeleng pelan. Namun, mereka benar-benar bersyukur karena Amara telah kembali ceria seperti dulu.
♡
♡
♡
Bukan berarti setelah Amara berubah menjadi muslimah yang baik, maka pakaiannya akan berubah seperti ibu-ibu pengajian.
Tidak sama sekali.
Sekarang pakaian muslim, pakaian kerja dan santai untuk yang berhijab pun sudah beragam dan tetap terlihat fashionable.
Amara memakai pakaian longgar yang tak menampakkan lekuk tubuh. Wajahnya dirias tipis, hijab menutupi kepalanya dan memakai stiletto berwarna hitam senada dengan pakaian kerjanya.
Berdiri di depan kaca, dia tersenyum penuh semangat. Menyambut hari baru dan pekerjaan baru yang akan dilakoni.
Setelah sarapan, Amara dan sang ayah berangkat bersama, tetapi tetap menggunakan mobil yang berbeda.
Macetnya Surabaya di pagi hari bukan pemandangan yang mengejutkan. Karena pagi hari memang banyak aktivitas yang dilakukan semua orang.
__ADS_1
Satu jam kemudian mobilnya tiba di basemen, Amara masuk bersama sang ayah langsung menuju lantai empat belas di mana ruangan direktur dan divisi lainnya berada.
“Akhirnya kamu menyerah juga,” sindir seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan banyak dokumen berserakan di atasnya.
Amara mendengus pelan, tak lupa dia ucapkan salam pada sepupunya sebelum mendekat dan duduk di sampingnya.
“Amara Khaira Shaza akhirnya lelah bertualang dan memilih kembali ke tempatnya,” lanjut pria itu sambil terkekeh.
Amara memutar bola matanya malas. “Mas Juan ini menyebalkan sekali,” katanya membuat pria itu terkekeh semakin keras. Selama ini Amara tak pernah memanggilnya seperti itu. Biasanya dia hanya akan memanggil nama seperti pada teman sebayanya.
“Panggil apa dek? Manis sekali,” goda Juan.
“Sudahlah, Mas. Jangan menggodaku,” tukas Amara dengan wajah mulai kesal. “Maaf jika selama ini aku gak pernah menghormatimu. Maafkan aku,” lanjutnya dengan sungguh-sungguh.
Juan mengangguk dan tersenyum tipis. “Kamu adikku, tanpa kamu meminta maaf aku selalu memaafkanmu, Mara.”
“Terima kasih, Mas.”
Amara memeluk pria itu manja. Meskipun Juan hanya sepupu, tetapi hubungan mereka sudah menjadi mahram karena saat bayi Juan diberikan ASI oleh Raisa karena ibunya telah tiada.
Begitu cerita yang didengar dari ibunya saat remaja dulu. Dia juga tak berniat bertanya apa pun meskipun dalam benaknya ada pertanyaan yang mengganjal tentang bagaimana bisa.
“Sudah selesai kenalannya. Juan, kamu serahkan semua pekerjaan pada Mara. Kenalkan juga dia dengan sekretarismu. Bantu dia dulu sebelum kamu kembali ke Kalimantan.”
“Siap.”
Pagi hingga siang itu Amara disibukkan dengan banyak penjelasan yang membuat kepalanya pening.
To Be Continue ....
__ADS_1