Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Dilamar?


__ADS_3

Selepas bertemu dengan teman-temannya, Amara menuju restoran milik sang ibunda tercinta yang ada di dekat Jalan Pahlawan. Salah satu restoran masakan jawa dengan berbagai penuh pilihan dengan model prasmanan.


Restorannya tak pernah sepi pengunjung, hampir setiap hari selalu ramai. Sudah memiliki tiga cabang yang ada di daerah Surabaya barat, Surabaya selatan dan Sidoarjo.


Amara memilih sekalian makan siang di sana. Setelah mengambil beberapa menu makanan juga minuman, dia duduk di sudut paling ujung dekat dengan kaca.


“Hei, Mara!” ujar seseorang mengejutkan wanita cantik itu. Dia mendongak untuk melihat siapa yang tengah menyapanya. “Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


“Kapan pulang ke Surabaya? Aku baru dengar dari Nisa kamu ada di Lamongan.”


“Iya, baru pulang kemarin. Tapi lusa aku harus kembali lagi.”


“Boleh aku duduk?” Pria itu tersenyum menunjuk kursi di depan Amara.


“Silakan.” Amara mempersilakan, lagipula ini tempat terbuka dan banyak orang di sekitarnya. Mereka tidak benar-benar berduaan.

__ADS_1


“Mara, ada yang ingin aku bicarakan,” kata pria itu dengan serius.


“Apa?” Amara menatap teman sekolahnya itu sekilas.


“Aku turut prihatin dengan apa yang telah terjadi padamu. Mungkin kamu masih butuh banyak waktu untuk menyembuhkan lukamu, aku paham, tapi izinkan aku mengutarakan niatku. Bagaimana keputusannya aku serahkan semuanya kembali padamu.”


Suasana meja mereka tampak begitu serius. Amara jadi sedikit waspada dengan apa yang akan dikatakan pria di depannya.


Meskipun mereka telah lama saling mengenal, tetapi tentang hati dan pikiran, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.


“Aku ingin melamar kamu kepada kedua orang tuamu jika diizinkan, Mara. Sudah lama aku menyukaimu, entah sejak kapan perasaan itu berkembang menjadi sebuah cinta dalam hati. Aku tahu ini terlalu tiba-tiba, tapi aku hanya ingin mengutarakan niat baik ini supaya tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.”


Amara mematung untuk beberapa saat. Dia melepaskan pegangan pada sendok dan garpu yang ada di tangannya. Menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan.


Benar-benar kejutan untuknya.


Sejak kapan seorang Bilal Hasby jatuh hati padanya? Dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda seseorang yang menyukai.

__ADS_1


“Mara!”


Wanita cantik itu tersadar dari lamunannya. Dia menatap pria di depannya singkat sebelum akhirnya menundukkan pandangan.


Jujur untuk saat ini Amara belum ada pemikiran untuk menikah, apalagi menjalani hubungan.


“Maaf, Bilal. Untuk saat ini aku gak berniat menikah atau apa pun lebih dulu. Aku masih ingin belajar memperdalam ilmu agama dan menjadi muslimah yang baik. Terima kasih atas kejujurannya,” jawab Amara lembut dan berusaha memilih kosa kata yang baik agar tidak menyakiti lawan bicaranya.


“Aku bisa menunggu, Mara.”


“Cinta itu alami bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, tanpa bisa dipaksa. Aku memang bukan wanita yang baik, tapi jika memang kita berjodoh maka akan ada jalan yang mendekatkan kita. Jika memang tidak, mintalah Allah untuk menghapus perasaanmu.” Amara menarik napas pelan lalu melanjutkan, “Semoga kejujuran ini gak menyakiti dirimu.”


Bilal mengangguk dengan wajah kecewa. “Gak apa, Mara. Aku senang kamu sudah jujur menjawab pertanyaan dariku. Insya Allah jika memang jodoh semoga ada jalan yang terbaik.”


Jodoh itu misteri. Siapa dan kapan datangnya adalah rahasia.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2