Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Seperti api yang membara


__ADS_3

Pukul delapan pagi pasangan pengantin baru itu baru turun menuju restoran setelah Mentari —sang adik menghubunginya berulang kali karena mereka telah menunggu.


Terlihat Amara dan Akram bergandengan tangan menuju meja keluarganya bersama. Mengucapkan salam dan duduk di kursi kosong yang tersedia.


“Ya, adikku sudah gak gadis lagi,” kata Juan menggoda Amara yang seketika menunduk dan tersipu.


Sarapan berlangsung dengan tenang. Semua orang menikmati sajian yang ada dengan penuh nikmat. Setelah sarapan mereka masih duduk di restoran menikmati hidangan penutup sambil ngobrol banyak hal.


Siang nanti Juan dan orang tuanya akan kembali ke Kalimantan, sementara keluarganya yang lain memang tidak menginap di hotel karena rumah mereka yang masih di sekitaran sini.


“Mas, mau bulan madu ke mana? Singapura yuk, sekalian main ke rumah,” kata Mentari dengan antusias.


“Insya Allah. Kami berencana mau umroh.”


“Bagus itu. Ibu sama ayah boleh ikut gak?” tanya Adnan dengan semangat. Di sudut hatinya yang kecil, masih ada rasa belum rela jika putrinya harus pergi ikut suaminya. Bagaimana pun perasaan itu wajar bukan, namanya juga orang tua.


“Boleh. Kami berencana mengajak mama dan papa juga jika mau.”


“Ya kamu atur saja lah. Kami orang tua ikut acaranya yang muda saja,” ujar Ahmad Arsalan.


“Mario ikut juga yuk,” ajak Akram yang dijawab gelengan kepala.


“Kami belum bisa ninggalin Vanesha sama pengasuh. Mau ajak balita juga gak tenang buat perjalanan jauh, Mas.” Mario tidak menjawab dengan sungkan.


“Aku juga gak ikut. Ada banyak hal yang belum bisa ditinggal lama-lama,” sambung Juan menimpali. “Kondisi kesehatan papa juga gak stabil, khawatir kalau ditinggal.”

__ADS_1


Akhirnya keputusan telah diambil. Hanya kedua orang tua mereka saja yang akan ikut karena yang lain memang tidak bisa.


Selepas sarapan seluruh keluarganya kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan pasangan pengantin baru yang masih menikmati waktu untuk memadu kasih.


♡♡♡


Kamar pengantin baru selesai dibersihkan saat keduanya kembali.


Akram langsung memeluk istrinya dengan erat. Menghirup aroma mawar yang begitu harum menenangkan.


“Mas ... malu,” kata Amara saat pria itu menatapnya intens.


“Sama suami kok malu. Kita sudah halal lho,” jawab Akram yang perlahan mulai melepas pashmina yang dipakai istrinya.


Rambut panjang Amara tergerai saat pria itu menarik ikatan rambutnya yang berwarna kecokelatan.


Keduanya saling menatap dengan penuh cinta hingga Akram menyatukan napas mereka. Mengecup manisnya rasa dari bibir istrinya yang begitu ranum. Hingga napas keduanya terengah dengan dada yang turun.


Akram mengusap sudut bibir istrinya yang basah. Wanita itu kembali menunduk dengan perasaan gugup dan malu yang luar biasa.


Gugup karena mereka memang tak pernah sedekat ini dan malu saat menyadari bahwa selama ini bibirnya telah ternoda oleh banyak pria.


“Kenapa?”


Amara menggeleng dan menjawab, “Gak apa-apa. Hanya gugup saja. Kita gak pernah sedekat ini, Mas.”

__ADS_1


“Kita sudah halal. Melakukan lebih dari ini juga gak apa-apa karena jadi pahala.”


Meskipun Akram juga gugup, tetapi instingnya sebagai seorang pria dewasa memaksanya untuk melakukan lebih.


Tangannya mengusap pipi putih istrinya yang merona, gemas sekali rasanya melihat sikap malu-malu yang ditunjukkan.


“Mas!” kata Amara dengan napas yang memburu.


Akram kembali menarik tengkuk sang istri dan melabuhkan bibirnya kembali. Menyatukan napas dan menikmati sensasi yang luar biasa. Tangan Akram menyentuh resleting gaun istrinya dan menurunkannya perlahan hingga kulit putih itu terekspos menggodanya.


Sementara tangan Amara menyentuh dadanya dengan pola abstrak membuat bibirnya melenguh bak alunan musik yang mendayu.


Pada akhirnya mereka berakhir di atas ranjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi.


Akram tak pernah berharap banyak, dia telah menerima Amara apa adanya dengan segala masa lalunya. Tak pernah menduga sedikitpun bahwa istrinya masih terjaga hingga detik ini.


Tetesan bening itu mengalir saat akhirnya Akram menyadari bahwa dirinya lah pria pertama yang memasuki istrinya.


“Maaf,” kata Akram menyesali pikirannya.


Suara penuh cinta keduanya menjadi melodi indah yang memenuhi kamar hotel. Membara dan membakar tubuh menjadi peluh yang membanjiri. Menikmati setiap sensasi lain yang mengalihkan logika.


Sama-sama ingin meraih puncak nirwana yang melenakan.


Tidak ada kata yang terucap, tetapi tindakan mampu menunjukkan betapa cinta telah bersemayam di hati.

__ADS_1


Mereka menyatu, saling memuja dan memuji. Berharap pada Tuhan untuk menitipkan kepercayaan atas cinta mereka.


To Be Continue ....


__ADS_2