Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Hanif Akram Arsalan


__ADS_3

Setelah kepergian Amara, pria muda itu tersenyum singkat ketika membayangkan senyum wanita cantik itu.


Tatapan matanya yang begitu dalam seolah langsung menembus dan jatuh tepat di hatinya.


“Membayangkan seseorang yang bukan mahram itu dosa, lho,” kata Ustadz Yusuf sambil terkekeh pelan.


Seketika pandangan orang tua menatap ke arah sang anak dengan mata memicing tajam.


“Astaghfirullah,” kata pria itu menyentuh dadanya sambil menggelengkan kepala pelan.


Hanif Akram Arsalan, putra dari Prof. Ahmad Arsalan dan dr. Nufa Azizah. Usianya sudah 32 tahun, tetapi masih melajang hingga detik ini. Bukannya menolak menikah, sudah banyak calon wanita yang ingin dijodohkan dengannya, tetapi pria itu menolaknya karena ingin mencari tambatan hatinya sendiri.


Namun, sampai detik ini belum ada yang mampu menarik perhatiannya.


“Namanya Amara, asli dari Surabaya juga.” Umi Rahma buka suara.


Akram tercenung untuk beberapa saat. Wajah wanita itu tidak asing di matanya. Mereka seperti pernah bertemu sebelumnya.


Surabaya?


Mungkinkah mereka pernah tanpa sengaja bertemu?


“Dia tinggal di sini? Kami baru melihatnya,” kata Azizah.


“Iya, baru satu setengah bulan di sini untuk belajar.”


“Masya Allah, sudah cantik, salihah pula. Calon istri idaman sekali,” kata Ahmad Arsalan kepada putranya yang sejak tadi mengulum senyum malu-malu.


Ahmad Arsalan sudah menjadi donatur tetap di tempat ini sejak beberapa tahun yang lalu. Kelebihan harta yang dimiliki tak menjadikannya sombong dan tinggi hati. Justru menjadikannya menjadi seorang dermawan yang suka membantu.


“Benar begitu, kan?” Ahmad Arsalan menatap putranya dan menaik turunkan alisnya seolah minta pendapat.


“Papa!”

__ADS_1


Semuanya terkekeh melihat sikap yang ditunjukkan oleh pria dewasa itu.


“Pernah gagal menikah hingga menjadikannya terpuruk.”


Akram menatap dengan heran. “Apa alasannya, Ustadz?”


“Wallahu a’lam. Gak ada yang tahu isi hati dan pikiran seseorang kecuali Allah.”





“Sepertinya ada yang tengah bahagia? Rona merah dan senyum bahagia jelas suatu bukti nyata.”


Fatimah langsung menembak Amara dengan senyum khas yang begitu manis.


“Hari Sabtu aku akan kembali ke Surabaya. Umi memberikan izin untukku menemui orang tuaku tiga hari. Aku senang sekali,” jawab Amara yang tak sepenuhnya berbohong.


“Jangan lupa oleh-olehnya,” kata yang lain menimpali.


“Pasti.”


Semua orang meninggalkan masjid. Bersiap kembali pada kegiatan masing-masing.


Mungkin bagi orang lain, Amara diistimewakan karena tinggal bersama dengan Umi Rahma. Namun, sebenarnya sama saja dengan yang lain.


Amara tetap mengikuti kegiatan seperti yang lain. Dia belajar mandiri.


Saat pertama kali datang mereka akan didampingi pengajar lain sebagai pendekatan. Sama seperti Amara yang saat ini sudah tidak belajar dengan Fatimah lagi.


“Kok masih di sini? Nanti ditunggu umi lho,” kata Fatimah.

__ADS_1


“Sepertinya mau libur dulu. Di rumah ada tamu.”


Amara tidak tahu saja bahwa tamu itu sudah pulang.


“Siapa?” tanya Fatimah tampak begitu penasaran, membuat Amara sedikit menoleh dengan curiga.


“Keluarga Pak Ahmad Arsalan.”


Tiba-tiba Fatimah langsung memalingkan wajah. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.


“Ning Fatimah!”


“Eh ... apa Mara?”


“Ning Fatimah aneh,” kata Amara sambil menggelengkan kepala. Gemas dengan tingkah wanita dewasa di depannya.


Tak lama Aisha datang dan menghampiri mereka yang masih duduk di selasar masjid.


“Dicari umi, Mbak. Ditunggu kok gak datang-datang makanya disuruh panggil.”


“Umi nyari aku, kenapa?”


“Mbak Mara kan waktunya belajar sama umi.”


“Tamunya sudah pulang, Aish?” Fatimah mendongak menunggu jawaban.


“Sepertinya sudah, Ning. Lepas magrib kalau gak salah tadi aku lihat mobilnya keluar halaman.”


Amara akhirnya pamit kembali ke rumah. Sebelum pergi dia mengucapkan salam. Kini sudah menjadi kebiasaan ketika bertegur sapa dengan orang lain, dia akan mengucapkan salam terlebih dulu sebagai bentuk doa untuk orang yang menerima supaya diberi keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah.


Mengucapkan salam bagi seorang muslim hukumnya sunnah, tetapi menjawab salam hukumnya wajib.


Hal ini disebutkan oleh Allah di salah satu ayat yang berbunyi : “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” Surah An-Nisa ayat 86.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2