
Amara tak menunjukkan reaksi apa pun. Dia kembali menghadap ketiga temannya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
“Itu istrinya, ya? Aku baru tahu,” kata Amara. Tidak ada getar dalam nada suaranya, pun dengan ekspresi yang biasa saja.
Mungkin orang akan menganggap bahwa apa yang dilakukan sekarang hanyalah sebuah kepura-puraan. Namun, itu tidak benar sama sekali. Amara benar-benar sudah tak lagi merasakan apa pun saat melihat Haris bersama dengan istrinya.
“Iya, kalau gak salah dia adik dari salah satu dosen di Unusa. Tapi ada yang bilang ayahnya juga dosen di Al-Azhar,” kata Dini seolah paling tahu.
“Kok kamu tahu, Din?” Ayu dan Nisa menatap penuh selidik.
Dini terkekeh pelan. “Gak boleh su’uzan, woy!” katanya sambil memutar bola matanya. “Keluarga suamiku dapat undangan nikahan mereka. Aku tahunya juga dari suamiku,” lanjutnya.
“Kok bisa?”
Dini kembali tertawa pelan. “Ayolah, aku gak mau pamer dan dikira sombong.”
Ayu dan Nisa seperti memikirkan kemungkinannya. Sementara Amara langsung terkekeh pelan seperti tahu sesuatu.
“Yang suaminya sultan,” kata Amara seolah mencibir.
__ADS_1
Dini telah menikah tiga tahun yang lalu bersama dengan salah satu pengusaha jam tangan. Dini yang hanya wanita biasa dari keluarga sederhana bisa masuk ke dalam circle keluarga kaya. Entah itu disebut takdir atau keberuntungan, yang jelas wanita itu tampak terlihat begitu bahagia.
Dini menatap ke arah meja di mana Haris dan istrinya berada. Pria itu tampak salah tingkah karena jelas dia yakin bahwa saat ini tengah menjadi bahan obrolan para wanita.
“Jangan ditatap terus, nanti dia makin besar kepala,” omel Nisa tidak suka.
“Sudahlah, yang sabar Mara. Dia tampan dan baik, tapi dia bukan jodohmu. Allah telah siapkan jodoh yang terbaik untuk siapa pun yang dekat dan taat dengan-Nya.” Ayu berujar dengan bijak dan penuh pengertian.
Amara mengangguk. Dia menoleh sejenak, menatap kemesraan suami istri itu dengan intens, meyakinkan diri bahwa tidak ada lagi rasa yang tertinggal di hati. Entah itu cinta, rasa marah atau sebuah kekecewaan.
Mungkin Haris merasa menjadi topik perbincangan mereka, hingga tak sampai tiga puluh menit dia mengajak istrinya pergi.
Amara yang dulu tidak tertarik dengan hal tersebut kini mulai ingin terjun.
“Aku ikut, boleh gak?”
“Kamu serius, Mara?”
Amara mengangguk yakin. “Yup. Boleh kan?”
__ADS_1
“Tapi kamu kan ada di pondok, Mara.”
“Aku bisa izin tiap bulan. Jika untuk hal-hal baik, yakin deh umi dan ustadz pasti kasih izin.”
“Oke, nanti aku kabari.”
Pukul setengah dua belas, Nisa dan Ayu pamit pergi lebih dulu. Ayu harus kembali ke sekolah tempatnya mengajar, sementara Nisa harus kembali ke perusahaan tempatnya bekerja.
“Ngomong-ngomong sampai kapan kamu akan ada di pondok, Mara?” tanya Dini penasaran.
“Insya Allah, doakan saja yang terbaik.” Amara tersenyum.
“Aku senang lihat kamu berubah banyak. Memang ya, waktu itu mampu mengubah banyak hal.”
Amara mengangguk membenarkan. Waktu memang mampu mengubah banyak hal, salah satu contoh dirinya sendiri.
Waktu adalah sebuah perjalanan. Di mana setiap perjalanan akan meninggalkan sebuah kesan dan pesan yang mendalam.
To Be Continue ....
__ADS_1