
Panggilan dari Sang Maha Cinta membangunkan Amara dari tidur lelapnya. Dia mendongak menatap jam yang tergantung di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Amara segera bangun, mandi dan melakukan kewajiban.
Usai salat subuh, Amara mengaji. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar merdu menggema di kamarnya. Sudah menjadi kebiasaan dia akan mengaji selepas salat.
Suasana pagi ini tampak kelam mendung menggantung di langit. Tak lama kemudian rintik air hujan membasahi bumi. Amara membuka pintu menuju ke balkon dan berdiri di sana menikmati air hujan yang membasahi tubuh. Matanya terpejam sambil merasakan dingin yang menyapu kulitnya.
“Mirip anak kecil banget kamu ini, Mara. Astaga! Kamu bisa demam dan flu nanti,” omel seseorang yang suaranya cukup familiar di telinga. Amara tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara lembut tersebut.
“Aku selalu suka hujan, Bu,” jawab Amara membuka matanya, menoleh ke arah Raisa yang menatapnya gemas. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum. “Setelah hujan, matahari akan muncul kembali. Begitu juga dengan kehidupan, setelah rasa sakit, bahagia akan datang menyapa.”
Raisa menggelengkan kepala pelan. “Sudah cepat masuk. Nanti kamu sakit.”
Amara mengangguk dan melangkah kembali ke kamar. Dia segera mengambil handuk untuk mengusap tubuhnya yang basah, kemudian segera mengganti pakaian.
“Ada masalah apa? Ibu lihat kamu sedang banyak pikiran.” Raisa seperti mengerti keadaan putrinya.
“Gak ada, Bu,” jawab Amara singkat. “Ibu sudah sehat? Mendingan istirahat dulu sampai keadaan benar-benar pulih. Ingat empat hari lagi anakmu ini menikah lho,” lanjutnya sambil terkekeh pelan.
“Ibu hanya berdoa untuk kebahagiaan kamu. Semoga senantiasa Allah jagakan kamu dalam keadaan apa pun.”
“Aamiin. Aku juga akan selalu berdoa untuk ayah dan ibu supaya diberikan kesehatan dan umur yang panjang agar selalu bisa menemaniku.”
Raisa tersenyum haru. Tangannya merangkul bahu putrinya penuh kasih sayang. Dia sudah mendengar dari suaminya tentang pertemuan mereka dengan Haris beberapa hari yang lalu. Pertemuan itu terkesan biasa saja, tetapi sebagai seorang wanita Raisa tahu bahwa dilematis akan selalu terasa setelahnya.
__ADS_1
“Boleh ibu bicara?” tanya Raisa lembut.
Amara memandang ibunya dan mengangguk.
“Empat hari lagi kamu akan jadi istri orang. Setelah menikah, kamu adalah milik suamimu.” Raisa menarik napas kasar dan mengembuskannya pelan. “Sebelum menikah, kamu harus berdamai dan melupakan bayang-bayang masa lalu. Setelah menikah nanti kamu akan mengabdikan hidupmu pada suamimu. Jangan sampai kenangan atau cerita dari masa lalu mengganggu pernikahan kalian.”
Amara mengangguk mengerti arah pembicaraan ibunya.
“Kamu masih ada rasa dengan Haris yang masih tertinggal?” tanya Raisa dengan hati-hati penuh selidik.
“Gak lah, Bu. Aku bahkan sudah benar-benar melupakannya.” Amara berkata jujur.
“Jika masih ada rasa yang tertinggal di hatimu, mintalah pada Allah untuk segera menghapuskan perasaan itu.” Pesan Raisa yang ditanggapi dengan anggukan kepala.
“Kata ayah, Haris berpisah dengan istrinya. Kamu tahu itu?”
Amara mengangguk. “Tahu. Tapi itu bukan urusanku dan gak akan mempengaruhi apa pun, Bu.”
♡
♡
♡
__ADS_1
Akram duduk berdua dengan sang ayah sambil bermain catur ditemani segelas kopi yang masih mengepulkan uap panas.
Sesekali pria paruh baya itu terkekeh karena sang anak sama sekali tak mau mengalah saat melawannya.
“Akram.”
“Yes, Papa!”
“Kamu sudah mengetahui masa lalu calon istrimu. Baik buruknya dia di masa lalu jangan sampai kamu mengungkitnya hingga membuatnya terluka,” kata Ahmad Arsalan serius.
Diam-diam sebelum melangkah ke jenjang yang serius, Ahmad Arsalan memang sudah mencari tahu tentang latar belakang calon menantunya. Namun, pria paruh baya dan istrinya tak menolak apalagi menghakimi. Mereka mendukung apa pun kebahagiaan putranya.
“Meskipun sudah berubah menjadi lebih baik, bukan berarti sisi liarnya juga menghilang begitu saja. Ada kalanya sikap dan sifat itu akan muncul, entah itu kapan. Kamu harus bisa mengontrol dirimu untuk tak mengungkit masa lalunya. Paham?” lanjutnya dengan penuh penekanan.
“Aku paham, Papa. Aku sudah menerimanya, itu artinya aku sudah bersedia pula menerima segala konsekuensi yang akan terjadi nanti,” jawab Akram tenang.
“Bagus!”
“Mungkin itulah ujianku nanti. Semoga aku bisa membawa istriku untuk selalu di jalan kebaikan. Insya Allah kita akan sama-sama belajar untuk saling mengingatkan nantinya.”
“Papa hanya mengingatkan.” Ahmad Arsalan tidak meragukan putranya. Dia yang lebih tua saja harus mengakui bahwa dalam hal sikap, Akram lebih tenang dan tak mudah terpengaruh apa pun.
Meskipun Akram telah mengetahui masa lalu calon istrinya, dia sama sekali tak menaruh keraguan. Baginya itu adalah sebuah pelajaran hidup yang mendewasakan. Tidak ada manusia yang buruk selagi dia mau berusaha untuk menjadi lebih baik.
__ADS_1
To Be Continue ....