
Akram membawa tubuh istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri usai melepaskan sesuatu yang luar biasa.
Ada kebahagiaan sendiri yang menyusup di hati saat mengetahui bahwa Amara masih suci dan dialah pria pertama yang mengambil kehormatan itu.
“Sakit? Perlu ke rumah sakit gak?” tanya Akram saat melihat istrinya meringis pelan.
“Gak perlu berlebihan deh,” sahutnya malu. Amara merasakan perih di pangkal pahanya. Ini memang pengalaman pertama untuknya, tetapi dia tidak menyangka harus ada rasa sakit yang dialami. “Mungkin ini hanya sedikit iritasi.”
“Perlu beli obat atau salep gak? Nanti aku biar tanya mama, ya,” kata Akram membuat Amara menggeleng lagi. Ah ... dia malu jika mertuanya harus tahu apa yang terjadi.
“Janganlah, Mas. Malu aku.”
Akram memandikan Amara yang hanya menunduk tanpa mau menatap ke arahnya. Selesai mandi dia membawa istrinya kembali ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang yang seprainya telah dilepas dan diganti karena bercak darah milik istrinya.
“Makan siang di kamar saja, ya?”
“Iya. Tapi nanti deh, Mas. Aku belum lapar,” jawab Amara.
Keduanya kembali bergelung dalam selimut dengan tubuh saling berpelukan. Mereka mengobrol banyak hal untuk mencoba mendalami karakter masing-masing.
__ADS_1
Deringan ponsel Amara membuatnya mencari benda pipih tersebut. Akram yang berada di dekat nakas mengambil ponsel tersebut dan melihat layar yang menunjukkan nama sepupu istrinya.
“Dari Juan.”
“Panggil dia dengan benar, Mas. Dia kakak iparmu,” omel Amara. Dia segera menerima ponselnya dan menjawab panggilan pria tersebut.
Juan hanya mengatakan bahwa dia akan langsung kembali ke Kalimantan tanpa menghampirinya ke hotel.
“Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada Om dan Tante.”
Setelah Juan mengucap salam panggilan terputus begitu saja. Amara meletakkan ponselnya asal dan kembali meringsek dalam pelukan suaminya.
“Apa?”
“Aku wanita yang mudah marah, emosional, keras kepala dan tidak suka dibohongi. Andai nanti kita ada masalah, tolong jangan tinggalkan aku dan tetaplah menjadi seseorang yang akan jadi cahayaku.” Amara menatap serius ke arah suaminya.
“Tentu saja. Aku gak akan ninggalin kamu, Mara. Semoga kita bisa melewati apa pun ujian yang menerpa kita nantinya.”
“Jangan pernah menduakan aku.”
__ADS_1
Seketika itu juga Akram menatap manik mata istrinya.
“Andai jika memang kamu sudah gak mencintai aku, tolong jangan pernah menodai hubungan kita. Aku lebih rela kamu memulangkan aku pada orang tuaku daripada harus melihat sebuah pengkhianatan.”
“Apa seperti itu aku di matamu, Mara?” tanya Akram dengan suara rendah. Entah apa yang ada dipikiran istrinya hingga bisa berpikir terlalu jauh seperti itu.
Amara menggeleng lemah.
“Hati kita milik Allah. Jangan lupa untuk terus berdoa pada-Nya agar jagakan cinta kita. Insya Allah kita bisa melewati ujian apa pun jika kita percaya ... apa yang terjadi di dunia ini adalah skenario-Nya.”
Akram menarik Amara dan memeluknya semakin erat.
“Aku sesak, Mas!” pekik Amara dengan napas terengah karena hidungnya yang mancung tenggelam di dada suaminya hingga dia kesulitan bernapas.
Bukannya merasa bersalah Akram justru terkekeh pelan. “Dasar pesek.” Sambil menarik hidung istrinya gemas.
Melihat wajah menggemaskan Amara membuat Akram ingin sekali kembali menerkam sang istri untuk dijadikan santapan makan siang. Pria itu mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat bola mata Amara melotot hampir keluar.
“Lagi?”
__ADS_1
To Be Continue ....