
Hari yang ditunggu telah tiba. Amara meremas tangannya yang berkeringat dengan gugup. Dia sudah selesai dirias dan begitu tampak mengagumkan karena memang pada dasarnya jarang menggunakan riasan yang tebal.
“Cantik sekali, Mbak,” puji sang perias itu setelah memakaikan hijab dan hiasan kepala.
“Terima kasih,” kata Amara dengan senyum.
Amara menatap pantulan dirinya di cermin. Dia sendiri pangling dengan riasan wajahnya yang sungguh cantik, tetapi tetap tak menampilkan kesan berlebihan.
Amara menunggu di kamar dengan sedikit harap-harap cemas, berkali-kali dia menoleh ke arah jam dinding yang terkesan lambat sekali.
Setelah dua puluh menit menunggu akhirnya pintu kamar terbuka dan sosok Raisa datang dengan senyum begitu menawan. Dia segera meminta Amara untuk mengikutinya turun ke depan karena akad nikah akan dimulai.
Dalam setiap langkahnya, dada Amara semakin berdebar keras. Tangannya bahkan bergetar hebat karena gugup yang melanda.
“Mama dulu saat menikah juga gugup sekali. Apalagi kami menikah dengan perjodohan. Gak ada cinta sama sekali.”
“Aku sungguh beruntung bisa menikah dengan cinta sebagai landasannya, Bu. Semoga pernikahanku juga langgeng seperti ayah dan ibu.”
Ruang tamu rumah mewah keluarga Amara telah disulap dengan indah untuk akad nikah. Dekorasinya begitu elegan tetapi tetap menampilkan kesan sederhana.
__ADS_1
Tak banyak tamu yang datang karena akad nikah hanya dihadiri oleh keluarga inti dari kedua pihak.
Amara melihat ke arah calon suaminya yang sekali pandang membuatnya kembali jatuh cinta lagi dan lagi. Dia tersenyum tipis, dalam hati dia memuji ketampanan calon suaminya.
Amara duduk di sisi calon suaminya, di hadapan mereka sudah ada Adnan dan penghulu yang langsung menanyakan kesiapan mereka.
“Mbak Amara, Mas Hanif sudah siap, ya. Dalam sebuah ikatan pernikahan yang akan dilangsungkan tidak ada paksaan dan dilakukan atas persetujuan kedua pihak, disaksikan oleh keluarga dan mendapatkan restu dari kedua keluarga,” kata penghulu dengan tegas yang langsung dijawab anggukan kepala kedua mempelai.
“Dalam sebuah hubungan pernikahan, ada hak dan tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai. Sudah siap untuk menjalankannya?”
“Insya Allah kami sudah siap, Pak.” Suara tegas Akram yang menjawab.
“Kedua, yang kecil pandai menghormati yang besar dan yang besar pandai pula menyayangi yang kecil. Ada akhlak, etika, moral dan sopan santun dalam kehidupan keluarga, bertetangga dan bermasyarakat. Keberagamaan seseorang akan terlihat dari akhlak dan perilakunya sehari-hari. Ilmu yang tinggi dan kekayaan yang banyak belum tentu akan mengangkat derajat seseorang menjadi mulia di sisi Allah. Sebaik-baik orang adalah orang yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Pandai-pandailah dalam beretika dan berperilaku. Ada etika istri kepada suami, ada etika suami kepada istri, etika kepada orang tua, mertua, keluarga, tetangga dan masyarakat.”
“Ketiga, mencari rezeki dalam kehidupan di jalan yang baik dan halal. Untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan sangat diperlukan kerja keras seorang suami untuk dapat memberikan nafkah kepada keluarganya. Kebahagiaan tidak mungkin didapatkan hanya dengan perut kosong, ada kebutuhan jasmani dan ada kebutuhan rohani. Keduanya hal ini harus dipenuhi secara seimbang. Ketika salah satunya tidak terpenuhi maka akan ada ketimpangan dalam kehidupan. Apabila kita sudah bekerja dengan sekuat tenaga untuk memenuhi nafkah keluarga, baru kita bertawakal kepada Allah. Kita bekerja dan berdoa, bagaimana hasilnya baru kita serahkan kepada Allah.”
“Keempat, hemat dalam pembelanjaan rumah tangga. Orang yang baru berumah tangga pasti daftar keinginannya akan banyak. Namun, tidak mungkin seluruh yang kita inginkan kita beli. Ukur lah sesuai dengan keuangan keluarga. Jangan sampai ‘besar pasak daripada tiang’. Harus ada keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Jika ini yang terjadi, rumah tangga akan jatuh kepada permasalahan hutang. Orang yang berhutang hidupnya tidak bisa tenang. Berhutang sangat mudah sekarang, tapi membayarnya yang sulit. Oleh sebab itu, akan lebih baik kita bersabar dengan cara berhemat.”
“Kelima, Menyadari kekurangan masing-masing. Jika terdapat aib dan kekurangan pasangan hendaklah ditutupi secara bersama-sama. Manusia tidak ada yang sempurna, kesempurna hanyalah milik Allah. Tugas kita bagaimana menjadikan kesempurnaan itu menjadi acuan sehingga kita menjadi lebih baik. Perbanyaklah berpikir positif terhadap pasangan supaya bila ada kekurangan akan dapat diatasi dengan mudah. Antara suami dan istri memiliki banyak sekali perbedaan, baik perbedaan jenis kelamin dan sifatnya, perbedaan latar belakang keluarga, pendidikan, kampung halaman dan sebagainya. Untuk itu, butuh waktu beradaptasi dengan baik. jangan sampai perbedaan dan kekurangan yang ada berujung dengan perselisihan.”
__ADS_1
Penghulu itu memberikan nasihat pernikahan sebelum memulai akad nikah yang sakral.
“Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama. Kalau bosan, cari suasana baru, bukan cari yang baru.” Mau tidak mau, ucapan itu menimbulkan gelak tawa pelan dari beberapa orang.
“Akeh manungsa ngrasakake tresna, tapi lali lan ora kenal opo iku hakikate tresna. Ojo sampek koyo ngunu yo cah ayu, cah bagus.”
Akram dan Amara mengangguk bersamaan.
Sebelum tangannya menjabat tangan Adnan yang terulur, Akram mengucapkan basmalah, dia sangat gugup, bahkan tangannya sudah berkeringat dingin.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Hanif Akram Arsalan bin Ahmad Arsalan dengan anak saya yang bernama Amara Khaira Shaza dengan mas kawin berupa uang seratus juta dan sebuah rumah mewah dibayar tunai.”
Saat Adnan mengucapkan ijab, suasana berubah menjadi hening dan khidmat. Suaranya menggema memenuhi ruangan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Amara Khaira Shaza binti Adnan Hamish dengan mas kawin tersebut, tunai,” jawab Akram dalam sekali tarikan napas.
“Bagaimana para saksi?”
“SAH!”
__ADS_1
To Be Continue ....