Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Kebenaran terungkap


__ADS_3

Akram menemani Wahyu menemui Niko di kantornya. Pria itu tampak terkejut dengan kehadiran mereka yang datang bersama-sama.


Pria itu tersenyum kaku dan tampak canggung saat mempersilakan keduanya duduk.


“Tumben, Bro. Ada apa kalian datang bareng-bareng seperti ini? Sudah akur, ya,” ucapnya dengan nada meledek.


Wahyu tak dapat menahan diri. Dia bangkit dan memukul rahang Niko dengan keras hingga pria itu terjungkal. Segala umpatan keluar dari bibirnya untuk mencaci pria tak bermoral di depannya.


Akram tak dapat menahan Wahyu. Pria itu seperti kerasukan. Tenaganya sangat kuat. Tak peduli jika pria yang ada di bawahnya sudah tak berdaya.


Niko yang tak siap dengan serangan Wahyu hanya bisa terdiam sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Darah segar keluar dari mulutnya akibat pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Wahyu di perutnya.


Meski Akram juga kecewa dengan sikap Niko. Dia hanya tak ingin mengotori tangannya. Andai dia adalah Akram versi dulu, sudah pasti pria itu hanya tinggal nama.


“Masih bisa berpura-pura gak tahu apa pun? Sungguh kamu benar-benar bajingan, Nik!” umpat Wahyu.


Niko yang tak berdaya hanya mampu memejamkan mata. Namun, dia sudah menyadari dan mengerti alasan kedatangan mereka.


“Andai membunuh gak dosa, aku pasti akan melakukannya dengan tanganku sendiri.”

__ADS_1


Akram menyeret Wahyu yang berniat kembali menyerang Niko. Setelah itu dia membantu Niko untuk bangun dan duduk di sofa.


“Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan bodoh yang dilontarkan Akram sungguh keterlaluan. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Niko dipukuli hingga memuntahkan darah segar. Apa itu bisa dikatakan baik-baik saja?


“Lebih baik dibandingkan harus bertemu Malaikat Izrail,” sahut Niko pelan.


Akram menatap Niko intens. Mencoba menggali ingatan masa lalunya.


Selama ini mereka berteman cukup baik dan terbilang sangat akrab. Mereka tinggal di satu apartemen yang sama. Hubungan mereka bahkan lebih dari sekadar teman, hidup jauh dari keluarga membuat mereka saling bahu membahu. Namun, mengapa Niko sampai hati melakukan hal ini padanya?


“Kenapa?” tanyanya datar. Tatapan matanya tajam, nada suaranya tak selembut biasanya.


“Jika ada salahku, bisakah kau katakan baik-baik padaku? Aku akan meminta maaf atas apa pun yang mungkin membuatmu terluka,” lanjutnya.


“Maaf,” jawab Niko pelan.


“Maafmu gak akan mengubah keadaan dan memperbaiki semuanya. Perbuatan yang kamu lakukan sangat keterlaluan, Niko. Kamu menodainya. Membuat dirinya sebagai wanita merasa sangat rendah. Kamu tinggalkan dia dalam keadaan hina dan melempar kesalahan pada orang lain yang sama sekali gak bersalah. Kenapa kamu tega melakukan ini, Nik? Kenapa? Kamu melempar kotoran di wajah adikku dan membuatnya menjadi bahan olok-olok semua orang. Bayi yang gak berdosa harus lahir ke dunia karena perbuatanmu,” bentak Wahyu dengan sekali tarikan napas. “Karena perbuatanmu, bukan hanya adikku yang harus menanggung hinaan. Bahkan keponakanku selalu harus mendengar cemooh bahwa dia adalah anak haram yang gak punya ayah, gak jelas asal usulnya. Anak yang gak berdosa harus menanggung itu semua, Nik!” desisnya menahan sesak dalam dada.


“Maafkan aku, Wahyu, Akram.” Hanya itu yang mampu diucapkan Niko. Dia tak menampik lagi kemarahan dua pria di depannya. Itu memang kesalahannya di masa lalu. Saat usia masih muda dan emosi lebih mendominasi. Membuatnya kehilangan akal dan melakukan apa pun karena cintanya diabaikan oleh wanita yang telah mengisi relung hatinya.

__ADS_1


Sejak lama Niko telah memendam perasaan pada Zivanna. Namun, tak pernah sekalipun gadis itu melirik ke arahnya. Dalam hidup Zivanna, hanya ada Akram. Wanita itu mengagumi Akram dalam diam.


Sifat angkuh Zivanna yang tak tersentuh membuat Niko tertantang untuk menakhlukannya. Namun, walau sudah melakukan berbagai cara, tetapi tak sekalipun hal itu menarik perhatian Zivanna.


Hingga pada malam itu, Niko pergi ke kelab malam dan mabuk. Tanpa sengaja dia melihat Zivanna yang baru pulang dari kampus. Pria itu menyeret Zivanna dan melakukan tindakan tak senonoh itu atas nama cintanya.


Setelah malam itu Zivanna mulai kehilangan arah. Dia merasa rendah dan kotor karena telah kehilangan kehormatan. Ingin sekali mengatakannya pada Wahyu, tetapi Niko mengancam akan menyebarkan foto-foto mereka yang telah diambil.


Sampai pada malam itu. Semua adalah rencana Niko yang memang ingin menjebak Akram.


Membuat semua orang tak sadarkan diri hingga dia bisa melancarkan aksinya membawa Akram ke kamar Zivanna dan melepaskan seluruh pakaiannya.


Saat Zivanna mengatakan tentang kehamilan dan meminta pertanggung jawaban, Niko berhasil melukai Zivanna dengan kalimat penghinaan.


Akibat sakit hati, dia melakukan semua hal itu. Membuat Akram dihantui rasa bersalah, lalu menjadikan Zivanna seonggok sampah yang tak bernilai.


“Aku akan bertanggung jawab dan menikahi Ziva.”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2