
Amara menoleh ke arah Akram dengan senyum menawan. Setelah kata ‘sah’ dan doa yang panjang diberikan, dia diperkenankan memberikan salam pada suaminya. Sedikit ragu dia mengambil tangan Akram yang terulur dan mencium punggung tangannya dengan khidmat.
Baru kali ini mereka berdua benar-benar bersentuhan secara langsung.
“Terima kasih sudah mau jadi istriku,” kata Akram mendekat dan mengecup kening istrinya lembut.
Keduanya lalu saling bertukar untuk memasang cincin kawin di jari pasangannya.
“Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya. Semoga Mas Akram bisa membimbingku untuk menjadi wanita dan istri yang baik.”
Satu persatu keluarga dari kedua belah pihak menghampiri sang pengantin dan mengucapkan selamat.
“Dia adikku,” kata Akram saat seorang wanita berjalan mengandeng seorang balita.
“Kenapa aku gak pernah melihatnya, Mas?” tanya Amara masih dengan wajah yang penuh senyum.
“Dia ikut suaminya di Singapura. Suaminya seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit di sana,” jelas Akram.
__ADS_1
Wanita itu memeluk Amara dan mengucapkan selamat karena sudah berhasil menaklukkan gunung es yang selama ini tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.
Wajah semua orang diliputi kebahagiaan. Dua keluarga besar menyatu menjadi satu.
Siang harinya mereka semua langsung menuju hotel tempat berlangsungnya acara.
Malam harinya acara berlangsung dengan meriah. Undangan dari dua keluarga menjadi satu hingga hampir seribu orang yang datang dalam acara tersebut.
Bukan hanya dari keluarga, kenalan, rekan bisnis, intinya semua orang yang hadir dari berbagai kalangan.
Teman-teman Amara dan Akram juga sangat banyak. Mereka saling berkenalan satu sama lain, bahkan mereka tak segan menggoda keduanya dengan candaan.
Umi Rahma dan Ustadz Yusuf juga datang, tetapi dia tak melihat Fatimah bersamanya. Saat dia bertanya Umi Rahma menjawab jika Fatimah meminta maaf karena tak bisa hadir dikarenakan ibunya tengah dirawat di rumah sakit setelah kondisinya kritis.
Amara tampak sedih mendengarnya.
Acara berlangsung hingga tengah malam. Banyak artis yang turut memeriahkan acara tersebut. Hiburan itu membuat suasana semakin meriah.
__ADS_1
“Kamu duduk saja jika memang lelah,” kata Akram melihat ke arah istrinya.
“Capek banget, Mas. Aku kira kita bisa duduk dengan santai, eh gak taunya jadi manekin hidup kayak gini,” jawab Amara yang memilih duduk sambil meluruskan kakinya yang pegal.
Tiba-tiba Akram berjongkok di depan Amara dan melepaskan high heels yang dikenakan. Dia melihat kaki istrinya yang memerah dan sedikit lecet, dia memanggil adiknya dan menyuruh sang adik untuk meminta sandal pada pihak WO.
“Jangan, Mas. Aku gak apa-apa.” Amara menolak, ini hari pernikahannya, memakai sandal tentunya sangat bertolak belakang dengan penampilannya saat ini.
“Toh sandalnya gak akan kelihatan. Daripada kakimu sakit, mendingan pilih yang nyaman saja. Kamu akan tetap cantik meskipun hanya pakai swallow.”
Amara tersipu, kemudian terkekeh dan meminta suaminya bangun. Aksi pria itu tentu mengundang perhatian karena sikapnya yang dirasa romantis.
Amara tak henti-hentinya mengucap syukur atas kejutan yang Allah berikan padanya. Jodoh datang di saat dan waktu yang tepat.
Saat Amara memilih mencintai Haris dengan seluruh hidupnya, justru Allah jauhkan dia. Namun, ketika Amara menyerahkan seluruh cintanya pada Allah, Allah dekatkan jodoh yang baik untuknya.
Begitulah putaran takdir, tidak ada yang tahu akhir apa yang akan terjadi karena sejatinya semua itu adalah misteri.
__ADS_1
To Be Continue ....