Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Ujian menuju pernikahan


__ADS_3

Kabar tentang pernikahannya sudah sampai di telinga Ustadz Yusuf dan Umi Rahma yang tampak senang dan ikut mendoakan untuk kelancaran apa yang direncanakan.


Saat Amara menghubungi, dia tampak antusias menceritakan pertemuan-pertemuan mereka. Umi Rahma yang ada di seberang sana hanya tersenyum karena sudah tahu sejak awal tentang niat Akram.


Amara juga meminta mereka untuk datang di hari bahagianya nanti. Tak lupa meminta Umi Rahma mengajak Fatimah, tetapi wanita itu mengatakan tak bisa berjanji jika Fatimah akan datang sebab dia masih ada di Kediri untuk merawat ibunya yang masih sakit.


Andai saja tidak dalam keadaan yang sibuk, Amara ingin sekali mengunjungi Fatimah.


Setelah mengobrol banyak dengan Umi Rahma dan mendapat wejangan pernikahan, Amara mematikan panggilan.


Setelah bersiap dengan riasan tipis yang natural, Amara memasang hijab warna senada dengan gaun yang dipakai. Bibirnya melengkung saat sekali coba dia berhasil memasang hijab dengan model seperti panduan dari YouTube.


Setelah semuanya cukup dan tidak terlalu berlebihan, Amara menghampiri kamar orang tuanya. Sebelum masuk dia mengetuk pintu lebih dulu.


“Ibu sudah baikan?” tanya Amara mendekat ke arah ranjang di mana ibunya berbaring.


“Sudah mendingan. Biasalah penyakit orang tua. Kamu gantiin ibu dampingi ayah, ya.” Raisa melemparkan senyum menenangkan.


Sore tadi Amara dihubungi oleh pelayan di rumah yang mengatakan bahwa ibunya pingsan saat baru menginjak pintu utama. Dia segera memberikan instruksi untuk membawanya ke kamar dan menghubungi dokter. Setelah melakukan banyak perintah dia menghampiri sang ayah dan memberitahu keadaan ibunya.


Mereka meninggalkan pekerjaan dan pulang ke rumah dengan segera.


Raisa mengalami darah rendah, Suhu tubuhnya juga panas, kemungkinan karena memang kurang istirahat. Dokter memberikan resep obat dan memintanya membawa Raisa ke rumah sakit andai dalam waktu tiga hari demamnya tak kunjung turun.


“Beres. Ibu istirahat saja, jangan lupa minum obatnya.”


Amara segera pamit dan menemui sang ayah yang telah menunggu bersama dengan asistennya.


Malam ini ada undangan pesta pernikahan dari klien bisnis. Biasanya Raisa yang akan menemani suaminya, tetapi karena keadaannya sedang tidak sehat, Amara harus menggantikannya menjadi pasangan sang ayah.


“Calon pengantin setiap hari auranya semakin cantik saja. Sungguh bidadari dunia yang mempesona,” puji Adnan bangga.


“Ayah,” rengek Amara dengan malu.


Mobil yang dikendarai sopir melaju menuju lokasi acara, sebuah hotel bintang lima yang tentu sangat mewah.


“Akram gak dapat undangan juga?” Adnan menoleh sedikit pada putrinya.

__ADS_1


“Aku gak tahu karena gak pernah komunikasi. Mama Azizah bilang kami harus menahan diri dan membiarkan Mas Akram menjaga kehormatanku sebagai wanita.”


Terakhir kali mereka bertemu, sudah seminggu yang lalu saat makan siang bersama. Setelah itu mereka tak lagi pernah bertemu atau pun bertanya kabar satu sama lain.


Namun, meski raga tak dapat bertemu, tetapi keduanya selalu saling mendoakan. Di langit yang mereka tatap, selalu ada rindu yang terselip.


“Bagus. Seharusnya memang seperti itu. Indahnya romansa setelah pernikahan itu akan terasa berbeda, Mara.”


Keduanya memasuki ballroom setelah petugas memeriksa undangan dan men-scan kodenya. Pelayan membantu menemukan meja yang akan mereka tempati.


Amara menatap sekitarnya. Dia terkejut saat matanya bersitatap dengan pria yang seharusnya dihindari.


Haris mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarnya ke meja yang sama. Adnan yang baru menyadari bahwa itu adalah mantan calon menantunya, menampilkan ekspresi terkejut.


“Apa kabar, Om?” tanya Haris gugup. Sejak membatalkan pertunangannya, baru kali ini mereka bertemu.


Dasar tidak tahu malu! Masih punya muka untuk bertanya. Ingin sekali Amara mengumpat seperti itu, tetapi sungguh itu tak dilakukan karena yang memaki itu adalah Mbak Mei.


“Lebih baik sejak kamu gak ada!” jawab Amara sinis.


“Lupakan. Semua yang telah terjadi gak akan bisa diulang lagi, tapi terima kasih karena dirimu Amara bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggap saja kamu adalah ujiannya,” jawab Adnan.


“Saya benar-benar menyesal.”


Ah, begitulah manusia. Selalu mengaku menyesal jika apa yang dilakukan tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.


“Semoga kamu hidup dengan baik bersama istrimu.” Adnan mengatakannya datar dan meminta Amara menemaninya menuju pelaminan.


Setelah mengantre dan memberikan selamat kepada calon pengantin dan keluarganya, mereka kembali turun dan tak lagi melihat Haris berada di sana.


Acara seperti ini bukan hanya dijadikan sebagai perayaan pesta, tetapi beberapa orang menjadikannya sebagai transaksi bisnis.


Berkumpul, membicarakan bisnis, mencari peluang dan menambah koneksi. Itu sudah hal yang tak lagi mengejutkan bagi Amara yang kini telah paham.


Beberapa orang yang mengenal Adnan menyapa, lalu memuji Amara yang tampak begitu cantik. Mereka bahkan tak segan melempar candaan untuk menjadikan Amara calon istri yang hanya ditanggapi dengan tawa pelan.


“Selamat malam, Pak Adnan.”

__ADS_1


“Wah, Pak Nugroho, senang kita bisa dipertemukan di sini,” kata Adnan menjabat tangan pria muda itu dengan sopan.


“Mara, kenalkan dia Pak Wahyu Nugroho dari Nugroho Company.” Menoleh pada Amara yang mengangguk dan mengatupkan tangan. “Ini putri saya yang kini menjabat sebagai direktur.” Adnan mengenalkannya pada pria tersebut.


“Salam kenal, Pak Wahyu Nugroho. Senang bisa bertemu Anda di sini,” kata Amara sopan.


“Senang juga bisa bertemu dengan Anda.” Pria itu tersenyum ke arah Amara, tetapi yang membuatnya tak nyaman adalah tatapan pria itu yang terlalu intens.


Karena kursi di tempat mereka kosong, Adnan mempersilakan pria itu untuk duduk. Amara yang merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu yang terus menyorot ke arahnya segera izin untuk mencari makan lebih dulu.


Memang benar kata sekretarisnya bahwa pria itu memang masih muda dan begitu tampan, tetapi Amara kurang menyukai sikapnya. Semoga dia tidak berurusan dengan pria itu, pikirnya.


Amara yang tengah memilih makanan yang tersaji terkejut ketika melihat Haris sudah ada di sebelahnya. Entah kapan pria itu berada di sana, Amara benar-benar tak menyadarinya. Namun, dia memilih acuh tak acuh dan bertindak seolah tidak mengenalinya.


“Mara, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Haris pelan.


“Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas. Hubungan ini sudah usai sejak lama, gak ada lagi yang tersisa antara kita,” jawab Amara tak kalah pelan, takut terdengar orang lain.


“Aku tahu apa yang kulakukan menyakiti kamu dan keluargamu, tapi aku menyesal.”


“Menyesal pun itu sudah gak ada artinya lagi. Jalani hidupmu dengan baik dan jangan ganggu aku.” Amara menekan setiap kalimatnya, berharap pria itu bisa mengerti.


Amara tak lagi berselera makan, dia mengambil segelas air dan meneguknya hingga setengah. Berniat menghindar dan pergi, tetapi Haris dengan lancang kembali menyentuh tangannya dan menggenggamnya.


“Aku ingin memperbaiki semuanya!”


Amara menepis tangan Haris kasar dan tertawa renyah. Seolah ucapan pria itu adalah lelucon, tetapi terdengar memuakkan di telinganya.


“Dengarkan aku dulu! Aku serius!” kata Haris kembali mencekal lengan mantan calon istrinya.


“Mara!”


Keduanya menoleh pada sumber suara. Seorang pria dengan paras tampan dan berwajah lembut melerai perdebatan keduanya. Pria itu menyorot tajam ke arah tangan Haris yang menyentuh lengan Amara. “Ada apa ini?” tanyanya dengan nada tidak suka karena ada yang mendekati calon istrinya, bahkan bertindak lebih.


“Mas Akram ... aku bisa menjelaskan semuanya. Jangan salah paham!”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2